Yield USTreasury 10-Tahun Naik Setelah Rilis Data Inflasi
Poin Penting
- CPI Juli naik 2,7% yoy, di bawah estimasi 2,8%.
- CPI inti tumbuh 3,1%, sedikit di atas proyeksi.
- Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,289%.
- AS–Tiongkok perpanjang gencatan senjata tarif 90 hari.
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS naik pada Selasa (12/8/2025) sebagai reaksi atas rilis laporan inflasi terbaru untuk Juli. Pergerakan ini berlawanan dengan pasar saham, yang menafsirkan data tersebut sebagai sinyal The Federal Reserve memiliki ruang leluasa untuk menurunkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya di September.
Baca Juga
Yield obligasi Treasury AS tenor 2 tahun turun 2 basis poin menjadi 3,731%, sedangkan yield Treasury 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,289%, dan yield obligasi Treasury 30 tahun melonjak 3 basis poin menjadi 4,875%.
Indeks harga konsumen (CPI) naik 2,7% secara tahunan pada Juli, lebih rendah dari estimasi konsensus 2,8% menurut jajak pendapat ekonom oleh Dow Jones. CPI naik 0,2% pada Juli dibandingkan Juni, sesuai perkiraan.
Namun, CPI inti—yang tidak memasukkan harga pangan dan energi—melonjak 3,1% secara tahunan, sedikit di atas perkiraan ekonom sebesar 3%. Secara bulanan, CPI inti naik 0,3% dibandingkan Juni, sejalan dengan estimasi.
“Laporan inflasi sebagian besar sesuai perkiraan, dengan harga barang konsumsi inti belum menunjukkan tanda-tanda alarm,” kata Christopher Rupkey, Kepala Ekonom di FWDBONDS, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Negosiasi Masih Alot, Trump Perpanjang Lagi Tenggat Tarif China 90 Hari
Sementara itu, investor juga memantau perkembangan terbaru terkait perdagangan global dan kebijakan tarif AS. Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat memperpanjang gencatan senjata tarif selama 90 hari, meskipun perbedaan besar masih menghambat kesepakatan final. Kedua pihak menargetkan menggelar pertemuan puncak pemimpin akhir tahun ini untuk menyelesaikan kebuntuan.

