Harga Minyak Turun Jelang Pertemuan Trump–Putin dan Rilis Data Inflasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Harga minyak turun pada perdagangan awal di pasar Asia, Senin (11/8/2025), memperpanjang pelemahan lebih dari 4% pada pekan lalu. Penurunan ini dipicu oleh tarif impor AS yang lebih tinggi terhadap mitra dagangnya, peningkatan produksi OPEC, serta ekspektasi bahwa AS dan Rusia semakin dekat mencapai kesepakatan gencatan senjata di Ukraina.
Kontrak berjangka Brent turun 52 sen, atau 0,78%, menjadi US$ 66,07 per barel pada pukul 00.41 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 58 sen menjadi US$ 63,30 per barel.
Harapan meningkat atas kemungkinan berakhirnya sanksi yang selama ini membatasi pasokan minyak Rusia ke pasar internasional, setelah Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu menyatakan akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus di Alaska untuk merundingkan akhir perang di Ukraina.
Baca Juga
Trump Tekan India, Kenakan Tarif Tertinggi 50% Gara-gara Minyak Rusia
Kabar ini muncul seiring dengan tekanan yang semakin besar dari AS terhadap Rusia, termasuk ancaman bahwa hukuman terhadap Moskow dapat diperketat jika kesepakatan damai tidak tercapai. Trump telah memberi tenggat hingga Jumat lalu bagi Rusia untuk menyetujui perdamaian di Ukraina atau para pembeli minyak Rusia akan menghadapi sanksi sekunder. Di saat yang sama, Trump juga menekan India agar mengurangi pembelian minyak dari Rusia.
Selain pembicaraan AS–Rusia, data inflasi AS yang akan dirilis pada Selasa juga menjadi faktor penting penggerak harga pekan ini. “Data CPI yang lebih lemah dari perkiraan akan meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih cepat dan dalam, yang kemungkinan akan merangsang aktivitas ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak mentah. Sebaliknya, data yang lebih panas akan memicu kekhawatiran stagflasi dan menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore dikutip Reuters.
Tarif impor AS yang lebih tinggi untuk puluhan negara, yang mulai berlaku Kamis lalu, diperkirakan akan menekan aktivitas ekonomi karena memaksa peralihan rantai pasok dan mendorong inflasi lebih tinggi.
Terbebani oleh prospek ekonomi global yang suram, harga Brent turun 4,4% pada pekan yang berakhir Jumat, sementara WTI anjlok 5,1%.

