Korea Utara Tolak Denuklirisasi, Trump Didesak Terima “Realitas Nuklir Baru”
Poin Penting
|
SEOUL, investortrust.id – Korea Utara menutup pintu bagi harapan denuklirisasi, menyatakan bahwa Amerika Serikat harus menerima bahwa Pyongyang kini adalah negara senjata nuklir penuh. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik sekaligus penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un, dalam pernyataan publik yang menggarisbawahi pergeseran strategis Korea Utara sejak era pertemuan puncak Kim-Trump.
Baca Juga
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang diyakini berbicara mewakili sang kakak, mengakui bahwa hubungan pribadi antara Kim dan Presiden AS Donald Trump “tidak buruk.”
Namun, jika Washington berniat menggunakan hubungan pribadi itu sebagai sarana untuk mengakhiri program senjata nuklir Korea Utara, upaya tersebut hanya akan menjadi bahan “olok-olok,” kata Kim Yo Jong dalam pernyataan yang dikutip oleh KCNA.
“Jika AS gagal menerima realitas yang telah berubah dan terus bertahan pada kegagalan masa lalu, maka pertemuan DPRK-AS akan tetap menjadi ‘harapan’ di pihak AS,” ujarnya, merujuk pada nama resmi Korea Utara, Republik Rakyat Demokratik Korea.
Menurutnya, kemampuan Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir dan lingkungan geopolitik telah berubah secara drastis sejak Kim dan Trump mengadakan tiga kali pertemuan selama masa jabatan pertama Trump.
“Setiap upaya untuk menyangkal posisi DPRK sebagai negara senjata nuklir … akan ditolak secara menyeluruh,” katanya.
Menyoroti membaiknya hubungan antara Korea Utara dan Rusia, laporan KCNA lainnya menyebutkan dimulainya kembali penerbangan penumpang langsung pertama antara Pyongyang dan Moskow dalam beberapa dekade yang tiba di ibu kota Korea Utara pada Senin.
Penerbangan tersebut dimulai kembali “di tengah semakin seringnya kunjungan dan kontak dari berbagai bidang” antara Korea Utara dan Rusia, tulis KCNA pada Selasa (29/7/2025).
Korea Utara telah menyediakan pasukan dan persenjataan untuk perang Rusia di Ukraina, langkah yang dikritik oleh AS dan sekutunya, yang pada gilirannya menuduh Moskow memberikan bantuan teknologi kepada Pyongyang sebagai imbalan atas dukungannya.
Baca Juga
Antisipasi Ancaman Korea Utara, Korsel Bahas Kerja Sama Pencegahan dengan NATO
Menanggapi pernyataan Korea Utara tersebut, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Trump masih berkomitmen pada tujuan yang sama seperti dalam tiga pertemuannya dengan Kim selama masa jabatan pertamanya.
“Presiden masih memegang tujuan tersebut dan tetap terbuka untuk terlibat dengan Pemimpin Kim demi mencapai denuklirisasi penuh Korea Utara,” kata pejabat Gedung Putih kepada Reuters.
Dalam pertemuan pertama mereka di Singapura pada 2018, Trump dan Kim menandatangani kesepakatan prinsip untuk menjadikan Semenanjung Korea bebas senjata nuklir. Namun, pertemuan berikutnya di Hanoi pada tahun berikutnya gagal karena perbedaan pandangan mengenai pencabutan sanksi internasional terhadap Pyongyang.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia memiliki “hubungan yang sangat baik” dengan Kim, dan Gedung Putih menyebutkan bahwa presiden terbuka untuk komunikasi dengan pemimpin Korea Utara yang tertutup tersebut.

