Pasar Asia Melemah, Saham Teknologi Tekan Bursa Tiongkok
Poin Penting
|
SHANGHAI, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik dibuka di zona merah pada perdagangan Jumat (25/7/2025). Perkembangan di pasar Asia berbeda arah dengan di Wall Street yang masih mencetak rekor.
Baca Juga
Para investor mencermati perkembangan terbaru di sektor perdagangan global dan rilis data inflasi dari Jepang yang lebih lemah dari perkiraan. Koreksi menyebar ke berbagai bursa utama di kawasan, dengan tekanan utama datang dari pelemahan saham teknologi.
Dikutip dari CNBC, indeks CSI 300 yang mewakili saham unggulan di bursa Tiongkok daratan turun 0,16% di awal perdagangan. Sementara itu, Indeks Hang Seng Hong Kong kehilangan 0,53%, terbebani penurunan lanjutan di sektor teknologi. Indeks Hang Seng Tech, yang melacak kinerja perusahaan-perusahaan teknologi terbesar yang terdaftar di Hong Kong, anjlok 1,07%, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap outlook pertumbuhan di tengah ketegangan perdagangan dan tekanan regulasi dalam negeri.
Dari Jepang, inflasi di Tokyo tercatat sebesar 2,9% pada bulan Juli, melandai dari 3,1% di bulan sebelumnya. Angka ini juga di bawah ekspektasi konsensus ekonom sebesar 3%, menurut jajak pendapat Reuters. Inflasi inti — yang tidak memasukkan harga pangan segar — juga turun ke 2,9%. Mengingat data Tokyo kerap dijadikan indikator awal inflasi nasional Jepang, penurunan ini dapat memberikan ruang bagi Bank of Japan untuk mempertahankan kebijakan akomodatifnya lebih lama.
Pasar Jepang ikut melemah dengan indeks Nikkei 225 turun 0,24% dan Topix kehilangan 0,55%. Di Korea Selatan, Kospi bergerak datar, sedangkan indeks Kosdaq yang berisi saham-saham kapitalisasi kecil terkoreksi 0,48%. Pasar Australia juga tertekan dengan S&P/ASX 200 mencatat penurunan 0,41%.
Selain data makro dan sektor teknologi, pasar juga mencerna arah kebijakan dagang AS setelah Presiden Donald Trump menandatangani kesepakatan perdagangan besar dengan Jepang dan menyiratkan bahwa Uni Eropa akan menjadi mitra berikutnya. Pernyataan Trump mendorong spekulasi bahwa Washington mungkin akan mengambil pendekatan lebih agresif terhadap negara-negara yang belum menyelesaikan negosiasi dagang.
Baca Juga
Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Besar-besaran dengan Jepang, Tarif Timbal Balik 15%
Dengan ketidakpastian global yang terus berlanjut dan data domestik yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, pasar Asia memasuki akhir pekan dalam kondisi waspada. Investor kini menanti arah berikutnya dari bank sentral global dan hasil negosiasi dagang yang dapat mengubah dinamika risiko di semester kedua tahun ini.

