Sanseito Guncang Politik Jepang, Serukan ‘Japanese First’
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id –Jepang tengah mengalami kebangkitan kekuatan politik baru yang mengusung pesan nasionalisme ekonomi dan anti-imigrasi. Sanseito, partai sayap kanan yang bermula dari YouTube dan teori konspirasi, mencatat kejutan besar dalam pemilu majelis tinggi Jepang.
Baca Juga
Kemenangan Sanseito terjadi di tengah melemahnya dominasi Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Perdana Menteri Shigeru Ishiba, yang kehilangan mayoritasnya di majelis tinggi bersama mitra koalisinya, Komeito. Ini memperlemah posisi pemerintah, terutama setelah kekalahan sebelumnya di majelis rendah pada Oktober lalu.
Didirikan di YouTube selama pandemi Covid-19 dengan menyebarkan teori konspirasi tentang vaksinasi dan elit global, partai ini berhasil masuk ke kancah politik arus utama lewat kampanye “Japanese First”.
Partai ini meraih 14 kursi, menambah satu kursi yang dimenangkannya tiga tahun lalu di majelis dengan total 248 kursi. Saat ini Sanseito hanya memiliki tiga kursi di majelis rendah yang lebih berpengaruh.
“Frasa Japanese First dimaksudkan untuk mengekspresikan pembangunan kembali kehidupan rakyat Jepang dengan menolak globalisme. Saya tidak mengatakan kita harus melarang orang asing sepenuhnya atau mengusir semua orang asing dari Jepang,” kata Sohei Kamiya, pemimpin partai berusia 47 tahun, dalam wawancara dengan stasiun televisi Nippon setelah pemilu.
Partai berkuasa Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Perdana Menteri Shigeru Ishiba dan mitranya Komeito kehilangan mayoritas di majelis tinggi, membuat mereka kini lebih tergantung pada dukungan oposisi setelah kekalahan di majelis rendah Oktober lalu.
“Sanseito menjadi bahan pembicaraan luas, terutama di Amerika, karena sentimen populis dan anti-asing. Ini lebih mencerminkan kelemahan LDP dan Ishiba ketimbang kekuatan Sanseito,” kata Joshua Walker, kepala lembaga nonprofit Japan Society di AS, seperti dikutip Reuters.
Dalam jajak pendapat menjelang pemilu hari Minggu, 29% pemilih menyebut jaminan sosial dan penurunan angka kelahiran sebagai kekhawatiran utama mereka. Sebanyak 28% khawatir pada naiknya harga beras, yang telah naik dua kali lipat dalam setahun terakhir. Isu imigrasi hanya disebut oleh 7% responden, menempati peringkat kelima.
“Kami dikritik karena dianggap xenofobik dan diskriminatif. Publik akhirnya menyadari bahwa media salah dan Sanseito benar,” klaim Kamiya.
Pesan Kamiya menarik bagi pemilih yang frustrasi dengan lemahnya ekonomi dan nilai tukar yen, yang dalam beberapa tahun terakhir justru menarik masuk wisatawan asing dalam jumlah rekor, mendorong harga-harga naik lebih jauh dan menyulitkan warga lokal.
Populasi lansia yang tumbuh cepat di Jepang juga membuat jumlah penduduk asing naik ke rekor sekitar 3,8 juta tahun lalu, meski itu hanya 3% dari total populasi, jauh di bawah rasio di AS atau Eropa.
Terinspirasi Trump
Kamiya, mantan manajer supermarket dan guru bahasa Inggris, mengatakan kepada Reuters sebelum pemilu bahwa ia terinspirasi oleh “gaya politik berani” Presiden AS Donald Trump.
Ia juga sering dibandingkan dengan AfD di Jerman dan Reform UK, meski populisme kanan belum benar-benar mengakar di Jepang seperti di Eropa atau AS.
Baca Juga
Partai Berkuasa Kalah Pemilu, Jepang Terjebak dalam Ketidakpastian Politik
Pasca pemilu, Kamiya mengatakan ia berencana meniru partai populis Eropa dengan membangun aliansi dengan partai kecil lainnya, ketimbang bekerja sama dengan pemerintahan LDP yang telah mendominasi politik Jepang sejak era pascaperang.
Fokus Sanseito terhadap isu imigrasi telah menggeser politik Jepang ke kanan. Beberapa hari sebelum pemilu, pemerintahan Ishiba mengumumkan pembentukan satuan tugas baru untuk memerangi “kejahatan dan perilaku tidak tertib” oleh warga negara asing. LDP juga berjanji mencapai target “nol imigran ilegal.”
Kamiya — yang meraih kursi pertama untuk partainya pada 2022 setelah menjadi sorotan karena pernyataan kontroversial yang seolah mendukung kaisar Jepang memiliki selir — kini mencoba melunakkan sejumlah gagasan ekstrem partainya.
Namun, selama kampanye, ia mendapat kecaman setelah menyebut kebijakan kesetaraan gender sebagai kesalahan karena mendorong perempuan bekerja dan “menghambat kelahiran anak.”
Untuk memperluas basis pemilih dan meredam citra “darah panas” yang lekat pada dirinya, Kamiya mencalonkan sejumlah kandidat perempuan dalam pemilu kali ini — termasuk penyanyi Saya yang hanya menggunakan satu nama dan berhasil memenangkan kursi di Tokyo.
Seperti partai oposisi lainnya, Sanseito menyerukan pemotongan pajak dan peningkatan tunjangan anak, kebijakan yang memicu kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal Jepang yang sudah dibebani utang besar. Namun tidak seperti yang lain, Sanseito memiliki kehadiran online yang jauh lebih besar, yang dimanfaatkannya untuk menyerang elite politik Jepang.
Saluran YouTube Sanseito memiliki 400.000 pengikut, paling banyak di antara semua partai politik di Jepang, dan tiga kali lebih banyak dibandingkan LDP, menurut data socialcounts.org.
Kamiya menegaskan bahwa keberhasilan partainya di majelis tinggi baru permulaan.
“Kami perlahan menambah jumlah kami dan memenuhi harapan rakyat. Dengan membangun organisasi yang solid dan mengamankan 50 hingga 60 kursi, saya percaya kebijakan kami akhirnya akan menjadi kenyataan,” ujarnya.

