Prof Woo Wing Thye: Kesepakatan Tarif Indonesia-AS Jadi Bukti Strategisnya Jakarta di Mata Washington
Poin Penting
|
KUALA LLUMPUR, Investortrust.id — Indonesia dinilai berhasil mencetak kemenangan diplomatik dalam kesepakatan perdagangan terbaru dengan Amerika Serikat, yang menurunkan tarif ekspor Indonesia ke angka 19 persen. Menurut ekonom terkemuka dan penasehat internasional Prof. Datuk Woo Wing Thye, capaian ini tidak hanya mencerminkan kepiawaian negosiasi Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa Washington melihat Indonesia sebagai negara kunci dalam lanskap geopolitik Asia Tenggara.
“Siapa yang sebenarnya blinked (mengalah) terlebih dahulu? Itu Trump, bukan Indonesia,” kata Woo dalam wawancara bersama Melissa Idris yang disiarkan kanal YouTube Awani International, Sabtu (19/7/2025).
Sekadar informasi, Wing Thye adalah Distinguish Fellow di Penang Institute. Ia juga menjabat sebagai Guru Besar Kehormatan Universitas di China Economy Research Institute, Liaoning University; Wakil Presiden untuk Kawasan Asia di Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN SDSN); Guru Besar Emeritus Terhormat di University of California, Davis; serta Profesor Riset di Sunway University, yang menjadi kantor pusat SDSN kawasan Asia. Selain itu, ia juga merupakan Profesor Tamu di Fudan University, University of Chinese Academy of Social Sciences, dan University of Malaya.
Penelitiannya saat ini berfokus pada pencarian jalur yang efisien dan adil untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dengan proyek-proyek di bidang Keuangan Hijau, Perangkap Pendapatan Menengah, Dekarbonisasi, Perlindungan Keanekaragaman Hayati, Peningkatan Produktivitas UMKM, dan Arsitektur Ekonomi Global dalam Dunia Multipolar. Ia dikenal sebagai pakar ekonomi China, Indonesia, dan Malaysia.
Woo menegaskan bahwa keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengunci kesepakatan tarif dengan Indonesia justru menandakan bahwa Indonesia berada dalam posisi tawar yang lebih kuat. Dalam situasi ketika Trump sangat membutuhkan pencapaian konkret menjelang tenggat waktu “90 deals in 90 days,” Indonesia tampil sebagai salah satu dari sedikit negara yang memberikan hasil nyata.
Faktor yang membuat posisi Indonesia sangat strategis adalah letaknya yang berada di jantung Asia Tenggara, berdekatan langsung dengan Laut China Selatan sebagai kawasan yang menjadi pusat ketegangan antara AS dan China. Menurut Woo, Indonesia dipandang oleh Washington sebagai mitra kunci dalam menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut. Bahkan, meskipun Indonesia telah resmi bergabung sebagai anggota BRICS. Bahkan Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang bergabung dengan BRICS, namun AS tidak memberlakukan tarif tinggi sebagaimana yang dikenakan kepada Brasil, sesama anggota BRICS yang dikenai tarif hingga 50%.
“Brasil dikenai tarif 50 persen. Tapi Indonesia, anggota BRICS juga, hanya dikenakan 19 persen. Itu mencerminkan betapa pentingnya Indonesia dalam perhitungan strategis AS,” ungkap Woo.
Baca Juga
Ini Lho 6 Hambatan Non-Tarif yang Diselesaikan Pemerintah, Termasuk Pelonggaran TKDN bagi Apple
Kritik yang menyebut bahwa Vietnam memperoleh kesepakatan yang lebih baik karena mendapat pemotongan tarif lebih besar dianggapnya tidak relevan. Woo menjelaskan bahwa Vietnam memang menyetujui komitmen tambahan berupa pembatasan trans-shipment barang-barang China ke AS, sebuah persoalan yang tidak dihadapi Indonesia. Bahkan, AS justru memberikan tarif 19% kepada Indonesia, satu poin lebih rendah dari Vietnam yang dikenai 20%. Menurut Woo, angka ini bukan kebetulan, melainkan sinyal simbolis dari Washington bahwa Indonesia adalah mitra yang lebih strategis.
“Vietnam punya persoalan dengan transhipment, Indonesia enggak. Jadi perbedaan tarif 1% artinya Washington mengatakan 'Anda lebih penting buat kami'," katanya.
Namun, kesepakatan ini tentu memiliki implikasi bagi sektor domestik. Woo mencatat bahwa beberapa sektor di Indonesia kemungkinan akan terdampak negatif, seperti industri peternakan ayam dan produksi jagung yang bisa kalah bersaing dengan produk impor AS yang lebih murah. Meskipun begitu, sektor manufaktur berorientasi ekspor justru diprediksi akan mendapatkan manfaat besar dari terbukanya akses pasar dan peluang peningkatan nilai tambah produk.
Dari sisi diplomasi, Woo menyebut Presiden Prabowo Subianto memainkan peran yang sangat efektif. Ia menyebut pendekatan Indonesia sebagai strategi “non-blok cerdas” — tidak memihak secara mutlak kepada kekuatan besar manapun, namun memaksimalkan keuntungan dari semua pihak.
“Indonesia mendukung AS di isu Laut China Selatan, tapi juga mendukung China dalam pembangunan infrastruktur dan tetap vokal membela Palestina. That’s smart non-alignment,” jelas Woo.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya kesepakatan ini sebagai fondasi bagi lompatan Indonesia di masa depan, termasuk mempercepat pembangunan infrastruktur logistik, pelabuhan, dan investasi pada sektor pendidikan tinggi dan penanggulangan stunting. Dengan memanfaatkan dana dari dua arah, seperti Belt and Road Initiative (China) dan PGII (G7), Indonesia bisa memperkuat posisinya sebagai pusat gravitasi ekonomi kawasan.
