Tiga Tentara AS Tewas dalam Serangan Drone di Timur Tengah, Ini Respons Biden
JAKARTA, investortrust.id – Tiga tentara Amerika Serikat (AS) dinyatakan tewas dan 25 di antaranya terluka selama serangan ‘drone’ terhadap pasukan AS yang ditempatkan di bagian timur laut Yordania dekat perbatasan Suriah.
Presiden AS, Joe Biden menyalahkan kelompok yang didukung oleh Iran atas serangan tersebut.
“Sementara kami masih mengumpulkan fakta-fakta tentang serangan ini, kami tahu bahwa serangan ini dilakukan oleh kelompok militan yang didukung oleh Iran yang beroperasi di Suriah dan Irak,” kata Biden dalam pernyataan yang dikutip Aljazeera.com, Minggu, (28/01/2024).
Baca Juga
Dia menegaskan, AS akan meminta tanggung jawab atas serangan tersebut. “Amerika Serikat akan meminta pertanggung jawaban semua pihak yang bertanggung jawab (atas serangan ini) pada waktu dan dengan cara yang kami pilih,” lanjut Biden.
Televisi negara Yordania mengutip Menteri Komunikasi Yordania, Muhannad Mubaidin mengatakan, serangan tersebut terjadi di luar wilayah Kerajaan, tepatnya di seberang perbatasan di Suriah. Namun, tidak ada komentar langsung dari Iran.
Kematian ini merupakan korban pertama dari pasukan AS di Timur Tengah sejak perang Israel melawan Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut, di mana Israel terus melanjutkan perangnya di Gaza sebagai respons terhadap serangan Hamas, di selatan Israel yang menewaskan setidaknya 1.139 orang Israel.
Baca Juga
Shin Tae-yong Bangga dengan Perjuangan Luar Biasa Timnas Indonesia
Sementara otoritas Palestina mengklaim, serangan Israel di Gaza sampai saat ini telah menewaskan lebih dari 26.400 orang Palestina. Ketakutan bertumbuh dengan kemungkinan konflagrasi regional, seiring dengan serangan dari pemberontak Houthi Yaman terhadap pengiriman di Laut Merah, dan serangkaian tembakan lintas perbatasan yang hampir setiap hari antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah.
Mengenal Drone Shahed-136
Drone yang digunakan Iran untuk menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah pada 28 Januari 2024 adalah “Shahed-136”. Drone ini adalah drone ‘kamikaze’ yang dapat menyerang target lebih dari 2.000 Km serta memiliki bahan peledak di bagian ‘hidungnya’.
Adapun spesifikasi Shahed-136 seperti berikut:
- Panjang: 3,5 Meter
- Lebar sayap: 2,5 Meter
- Bobot: 200 Kg
- Peledak: 30-50 Kg
- Mesin: MD-550 piston engine
- Kecepatan: 185 Km/h
- Jangkauan: 2.000-2.500 Km
- Sistem navigasi: Global Navigation Satellite System (GNSS), Inertial Navigation System (INS)
Drone ini juga dilaporkan mengandung sejumlah komponen yang diproduksi oleh perusahaan AS. Iran telah memasok drone ini ke sekutu-sekutunya di Timur Tengah, termasuk Rusia dan Houthi. Bahkan, drone ini menjadi senjata tempur yang efektif di perang Rusia-Ukraina.
Bagaimana Posisi Iran dalam Konflik Palestina-Israel?
Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok bersenjata yang didukung oleh Iran telah meningkatkan serangan mereka terhadap basis militer AS di Irak dan Suriah sebagai respons terhadap “kampanye” militer Israel di Jalur Gaza.
Melaporkan dari Tehran, ibu kota Iran, Resul Sardar dari Al Jazeera mengatakan, telah terjadi lebih dari 100 serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah sejak Israel melancarkan serangannya di Gaza.
“Posisi Iran selama ini cukup jelas. Mereka mengatakan bahwa serangan-serangan ini tidak dilakukan dan direncanakan oleh Iran. Mereka menyatakan bahwa Iran memiliki sekutu di seluruh wilayah, namun sekutu-sekutu ini juga mengambil keputusan berdasarkan keputusan mereka sendiri,” lapor Sardar di Tehran, Minggu (28/1/2024).
Ia menambahkan, Iran tidak ingin hal ini menjadi konflik berkepanjangan yang mengakibatkan perang dengan 2 negara. “Iran tidak ingin eskalasi regional. Para pejabat Iran tahu bahwa konfrontasi militer langsung dengan Israel juga berarti perang dengan AS yang bisa menjadi mematikan bagi Iran,” tutup Sardar.

