Prabowo dan Lula Bahas Penguatan Kerja Sama Strategis Global South di Pertemuan Kenegaraan Perdana
Poin Penting
|
BRASILIA, Investortrust.id – Pertemuan kenegaraan pertama antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva pada 9 Juli 2025 di Brasília menandai babak baru dalam hubungan strategis kedua negara. Kunjungan resmi ini menjadi momentum penting untuk memperdalam kerja sama bilateral, khususnya dalam bidang kehutanan, ketahanan pangan, energi terbarukan, pertahanan, pendidikan, hingga diversifikasi perdagangan di kawasan Global South.
Presiden Prabowo dan Presiden Lula sepakat mendorong hubungan yang lebih erat antara Indonesia dan Brasil, dua negara yang saat ini tampil sebagai pemimpin utama di Selatan Global—kelompok negara berkembang yang memiliki tantangan dan visi bersama dalam isu ketimpangan global, krisis iklim, dan tatanan ekonomi internasional.
Pertemuan kedua pemimpin negara ini ternyata mencuri perhatian sejumlah media Brasil. Salah satunya Istoe.com.br yang mengulas bahwa kedua pemimpin ini memiliki perjalanan politik yang unik dan serupa: masing-masing mencalonkan diri dalam empat pemilu sebelum berhasil mencapai jabatan tertinggi. Lula, mantan buruh metal dan pemimpin serikat pekerja, menang pada pemilu 2002 setelah tiga kali kalah. Sementara Prabowo, mantan jenderal pasukan khusus, menang pemilu 2024 setelah dua kali gagal melawan Joko Widodo dan satu kali gagal mendapatkan dukungan Partai Golkar.
Transformasi personal keduanya mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang semakin inklusif dan pragmatis. Lula dikenal sebagai perancang program sosial seperti Bolsa Família, yang mengangkat jutaan orang dari kemiskinan. Sementara Prabowo meluncurkan program makan gratis bagi 82 juta warga, sebagai bagian dari janji memerangi kelaparan dan meningkatkan gizi nasional.
Penguatan Perdagangan dan Agenda Lingkungan
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menegaskan komitmen untuk meningkatkan perdagangan bilateral yang pada 2024 tercatat sebesar US$ 6,34 miliar, dengan ekspor Brasil mencapai US$ 4,46 miliar dan impor dari Indonesia senilai US$ 1,87 miliar. Produk utama Brasil ke Indonesia meliputi bungkil kedelai, kapas, dan tembakau. Sebaliknya, Indonesia mengekspor benang serat tekstil, karet alam, serta suku cadang kendaraan ke Brasil.
Pemerintah Brasil, menurut Susan Kleebank, Sekretaris Asia dan Pasifik di Kemlu Brasil, melihat peluang besar untuk memperluas akses pasar ke Indonesia bagi produk daging sapi, ayam, dan pesawat sipil/militer.
Tak hanya perdagangan, kedua negara juga aktif dalam agenda perubahan iklim. Menjelang Konferensi COP30 di Belém pada November 2025, Indonesia dan Brasil memperkuat sinergi dalam kelompok “United for Our Forests” dan Komite Pengarah Tropical Forests Forever Fund.
Keterlibatan dalam BRICS dan Diplomasi Global
Pertemuan ini juga menjadi simbol penting atas keterlibatan aktif Indonesia dalam tatanan global. Presiden Prabowo hadir sebagai anggota penuh baru dalam forum BRICS ke-17 di Rio de Janeiro, dan mendapat sambutan khusus dari Presiden Lula. BRICS kini mencakup 10 negara anggota dengan 50% populasi dunia dan 35% PDB global.
Kedua pemimpin menyoroti pentingnya reformasi tata kelola internasional, perlindungan hukum internasional, dan pendekatan damai terhadap konflik global seperti di Ukraina dan Gaza.
Pertemuan Prabowo–Lula menandai kemitraan strategis yang lebih erat antara dua negara demokrasi terbesar di belahan selatan bumi. Kunjungan ini tidak hanya memperkuat kerja sama perdagangan dan lingkungan, tetapi juga memperluas ruang diplomasi dalam menciptakan dunia yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan.
Presiden Lula dijadwalkan akan melakukan kunjungan balasan ke Asia dalam waktu dekat, kemungkinan besar menghadiri KTT ASEAN ke-47 di Malaysia pada Oktober mendatang, memperkuat lagi jembatan kerja sama antara Amerika Selatan dan Asia Tenggara.

