Trump Ancam Tarif Tambahan 10%, Ini Tanggapan BRICS
Poin Penting
|
RIO DE JANEIRO, investortrust.id - Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva memberikan respons keras terhadap ancaman tarif Presiden AS Donald Trump yang ditujukan kepada negara-negara anggota BRICS. Lula menegaskan bahwa dunia tidak membutuhkan seorang "kaisar", merujuk pada gaya kepemimpinan Trump yang dianggap memaksakan kehendak secara sepihak.
Baca Juga
Ancaman Trump pada Minggu malam muncul saat pemerintah AS bersiap untuk merampungkan puluhan kesepakatan dagang dengan berbagai negara menjelang tenggat 9 Juli, di mana tarif pembalasan yang signifikan akan mulai diberlakukan.
Negara-negara berkembang dalam KTT BRICS menepis tuduhan Presiden Donald Trump bahwa mereka “anti-Amerika”. Mereka berhati-hati menanggapi pernyataan Trump yang kerap ‘ceplas-ceplos’ dan bisa cepat berubah.
Pemerintahan Trump juga tampaknya tidak berniat langsung memberlakukan tarif tambahan 10% terhadap negara-negara BRICS seperti yang diancamkan, namun akan melanjutkan langkah tersebut jika negara-negara tertentu mengambil kebijakan yang dianggap “anti-Amerika,” menurut sumber yang mengetahui hal tersebut, seperti dikutip Reuters.
Pada akhir KTT BRICS di Rio de Janeiro, Senin (7/7/2025), Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva bersikap tegas saat ditanya wartawan mengenai ancaman tarif dari Trump. “Dunia telah berubah. Kami tidak ingin seorang kaisar,” kata Lula.
Tentang blok BRICS, Lula menyatakan:
“Ini adalah sekumpulan negara yang ingin mencari cara lain dalam mengatur dunia dari perspektif ekonomi. Saya kira itulah sebabnya BRICS membuat beberapa pihak merasa tidak nyaman.”
Pada Februari lalu, Trump memperingatkan bahwa negara-negara BRICS bisa menghadapi tarif 100% jika mencoba melemahkan peran dolar AS dalam perdagangan global. Kepresidenan Brasil di BRICS sebenarnya telah mengurungkan rencana untuk mendorong mata uang bersama yang sempat diusulkan beberapa anggota tahun lalu.
Baca Juga
Trump Ancam BRICS dengan Tarif 100% Jika Mau Gantikan Dolar AS
Namun pada Senin, Lula kembali menegaskan pandangannya bahwa perdagangan global perlu memiliki alternatif selain dolar AS.
“Dunia perlu menemukan cara agar hubungan dagang kita tidak selalu harus melalui dolar,” kata Lula kepada wartawan di akhir KTT BRICS di Rio de Janeiro.
“Tentu saja, kita harus bertindak secara bertanggung jawab dan hati-hati. Bank sentral kita harus membahas hal ini dengan bank sentral negara lain,” tambahnya. “Ini adalah sesuatu yang terjadi secara bertahap sampai benar-benar terlaksana.”

