IMF: Perekonomian Palestina Kian Memburuk karena Perang
JAKARTA, Investortrust.id - Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menyebut dampak akibat konflik Israel-Palestina membuat ekonomi di Palestina memburuk. Dia menyebut konflik di Palestina, membuat perekonomian di Gaza anjlok sebesar 80% sejak Oktober hingga Desember 2023, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dan di Tepi Barat, terjadi penurunan aktivitas sebesar 22%. Prospek perekonomian Palestina semakin memburuk seiring dengan berlanjutnya konflik,” kata Kristalina saat menghadiri Forum Fiskal Arab di Uni Emirate Arab (UEA) ke-8, dikutip Senin (12/02/2024).
Kristalina mengatakan, perdamaian dan solusi politik menjadi satu-satunya langkah untuk mengubah kondisi ini. Meski begitu, dia menyebut IMF akan terus memberi saran mengenai kebijakan dan bantuan teknis kepada Palestina dan Otoritas Moneter Palestina.
Menurutnya, konflik tidak hanya menjadi tantangan domestik. Konflik Israel dan Palestina juga membebani sektor pariwisata negara-negara tetangga yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang.
Baca Juga
Sekjen PBB Sebut Kehadiran UNRWA Sangat Berarti untuk Warga Palestina
“Kami mengamati dengan cermat dampak fiskal yang dapat terlihat di berbagai bidang seperti belanja jaring pengaman sosial dan pertahanan yang tinggi,” ujar dia.
Mengutip data PortWatch, Kristalina mengatakan seluruh wilayah di sekitar Palestina dan Israel mengalami kenaikan biaya angkutan logistik dan penurunan volume transit. Khusus di Laut Merah, terjadi penurunan hingga 50%.
“Kondisi yang sangat tidak menentu ini menambah tantangan bagi perekonomian yang masih dalam masa pemulihan dari guncangan yang terjadi sebelumnya,” kata dia.
Kristalina memprakirakan pertumbuhan ekonomi di Timur Tengah dan Afrika Utara dapat tumbuh 2,9% tahun ini. Angka ini lebih tinggi daripada proyeksi bulan Oktober. Tantangan lain selain konflik Palestina-Israel, kata dia, yaitu terjadinya pengurangan produksi minyak dalam jangka pendek dan kebijakan moneter yang ketat.
“Di kalangan eksportir, lambatnya pertumbuhan di luar sektor hidrokarbon juga merupakan faktor lain. Dan menurunnya permintaan minyak akan menjadi hambatan yang semakin besar dalam jangka menengah,” ujar dia.
Meski demikian, Kristalina masih menanamkan optimisme. Salah satunya, dengan membuat ruang fiskal. Kedua, yaitu menghilangkan subsidi energi yang regresif.
“Cara ketiga yaitu meningkatkan kinerja BUMN,” ujar dia.

