IMF: Yen Jatuh Murni Karena Fundamental
JAKARTA, investortrust.id -- Penurunan yen akhir-akhir ini, yang mencapai level terendah dalam 32 tahun, didorong oleh faktor-faktor fundamental. Penyebabnya sama sekali bukan oleh faktor lain yang akan menggota otoritas moneter untuk campur tangan di pasar mata uang.
"Mengenai yen, pendapat kami adalah bahwa nilai tukar dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental. Selama perbedaan suku bunga tetap ada, yen akan terus menghadapi tekanan," kata Sanjaya Panth, wakil direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, kepada wartawan, Sabtu (14/10/2023).
Otoritas di Jepang menghadapi tekanan baru untuk melawan depresiasi berkelanjutan yen, seiring investor bertaruh pada suku bunga AS yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Di lain pihak, Bank of Japan tetap berpegang pada kebijakan suku bunga yang sangat rendah.
Dolar mencapai 149,57 yen pada perdagangan Jumat (13/10/2023). Jepang membeli yen pada September dan Oktober tahun lalu untuk meningkatkan nilai mata uang sejak 1998. Langkah ini ditempuh untuk menghentikan penurunan tajam yang akhirnya mendorong yen ke level terendah dalam 32 tahun, yaitu 151,94 terhadap dolar AS.
Panth menegaskan, intervensi valuta asing bisa menjadi jalan keluar hanya ketika ada disfungsi yang parah di pasar, peningkatan risiko stabilitas keuangan, atau karena ekspektasi inflasi. "Saya tidak berpikir bahwa salah satu dari tiga pertimbangan itu ada saat ini," katanya.
BOJ telah menjadi penganut dovish di antara gelombang bank sentral yang menaikkan suku bunga (penganut hawkish), meskipun kenaikan harga yang didorong oleh biaya telah menjaga inflasi di atas target 2% lebih dari satu tahun.
Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, menekankan perlunya menjaga suku bunga sangat rendah sampai inflasi jangka panjang berada di sekitar 2%, yang didukung oleh permintaan yang kuat dan kenaikan gaji yang berkelanjutan.
Menurut Panth, ada risiko lebih besar prospek inflasi jangka pendek Jepang karena ekonomi berjalan mendekati kapasitas penuh, dan kenaikan harga semakin didorong oleh permintaan yang solid.
Tetapi dia menyebut bahwa saat ini belum saatnya bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga jangka pendek, karena ketidakpastian tentang bagaimana perlambatan permintaan global bisa memengaruhi ekonomi Jepang yang bergantung pada ekspor.
Sementara itu, BOJ seharusnya terus mengambil langkah-langkah yang memungkinkan suku bunga jangka panjang bergerak lebih fleksibel untuk menyiapkan dasar dalam pelonggaran moneter.
Suku bunga acuan jangka pendek BOJ berada pada pada -0,1%. BOJ juga menetapkan target 0% untuk hasil obligasi 10 tahun.
Baca Juga

