Intervensi Politik Bayangi The Fed, Yield Obligasi Pemerintah AS Anjlok
NEW YORK, investortrust.id – Imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah pada Kamis (27/6), di tengah kekhawatiran yang kian meningkat bahwa Presiden Donald Trump akan mempercepat pergantian kepemimpinan di Federal Reserve. Ketegangan ini menyulut kekhawatiran pasar atas potensi terganggunya independensi bank sentral AS.
Baca Juga
Trump Siapkan Pengganti Powell, Pasar Antisipasi Pelonggaran Moneter Lebih Agresif
Dikutip dari CNBC, Jumat (27/6/2025), yield USTreasury tenor 10 tahun turun 5,1 basis poin ke 4,242%, sementara yield obligasi dua tahun tergelincir 6,6 basis poin menjadi 3,713%. Yield obligasi 30 tahun ikut merosot 4,3 basis poin ke 4,801%.
Penurunan ini terjadi sehari setelah Ketua The Fed Jerome Powell berbicara di hadapan Komite Perbankan Senat AS. Dalam kesaksiannya, Powell menegaskan bahwa fokus utama bank sentral tetap menjaga inflasi, meski dampak kebijakan tarif Presiden Trump masih belum sepenuhnya terlihat.
Namun sikap Powell yang enggan buru-buru memangkas suku bunga kembali memicu kritik keras dari Trump. Menurut laporan Wall Street Journal, presiden mempertimbangkan untuk mengumumkan nama pengganti Powell paling cepat September atau Oktober mendatang—jauh sebelum masa jabatan resmi Powell berakhir pada Mei tahun depan.
“Masa jabatannya akan segera berakhir, untungnya, karena saya pikir dia sangat buruk,” kata Trump dalam konferensi pers di sela-sela KTT NATO, Rabu waktu setempat. “Saya sudah mempertimbangkan tiga atau empat nama calon penggantinya.”
Langkah ini menambah tekanan pada pasar yang tengah menakar apakah arah kebijakan moneter akan tetap berbasis data atau justru terdorong oleh agenda politik menjelang pemilu 2026.
Dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran mingguan turun menjadi 236.000 pada pekan yang berakhir 21 Juni—lebih rendah dari proyeksi ekonom Dow Jones sebesar 244.000. Angka ini menandakan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sekaligus memperkuat posisi The Fed untuk tetap bersikap hati-hati terhadap pelonggaran kebijakan.
Baca Juga
The Fed Abaikan Desakan Trump, Fokus pada Dampak Tarif terhadap Inflasi
Investor kini menantikan rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk bulan Mei pada Jumat. Powell sebelumnya menyebut bahwa inflasi PCE utama diperkirakan naik menjadi 2,3%, sementara inflasi inti (yang tidak memasukkan harga pangan dan energi) naik ke 2,6%. Angka ini lebih tinggi dibanding capaian April masing-masing di 2,1% dan 2,5%.
Di sisi geopolitik, ketegangan Timur Tengah tetap menjadi perhatian. Gencatan senjata antara Israel dan Iran yang diumumkan Trump awal pekan ini sejauh ini bertahan meski sempat diwarnai pelanggaran awal, menciptakan ruang bagi pelaku pasar untuk mengalihkan fokus ke dinamika domestik.

