Wall Street Bervariasi, Nvidia Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Lonjakan Saham Teknologi
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (26/6/2025) WIB. Indeks S&P 500 mengakhiri sesi perdagangan nyaris tanpa perubahan, seiring investor menanti apakah indeks acuan tersebut mampu kembali menembus rekor tertingginya.
Indeks S&P 500 ditutup hampir flat di level 6.092,16. Indeks Nasdaq Composite naik 0,31% dan ditutup di 19.973,55, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 106,59 poin atau 0,25% ke 42.982,43.
Baca Juga
Wall Street Meroket di Tengah Meredanya Konflik Iran-Israel, Dow Terbang 500 Poin
Saham Nvidia melonjak 4,3% setelah mencetak rekor tertinggi baru. Saham Alphabet (induk Google) naik 2,3%, dan AMD menguat 3,6%, turut menopang sektor teknologi.
Saat ini, S&P 500 kurang dari 1% dari rekor intraday di 6.147,43 yang dicapai pada 19 Februari lalu. Indeks juga berada sangat dekat dengan rekor penutupan sepanjang masa di 6.144,15. Nasdaq pun hanya sekitar 1% dari level tertingginya yang tercapai Desember lalu.
Secara mingguan, S&P 500 telah naik lebih dari 2% setelah Iran memberikan respons yang lebih terkendali terhadap serangan AS akhir pekan lalu. Gencatan senjata yang diumumkan Presiden Donald Trump menambah dorongan positif bagi pasar saham, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global mereda.
Perjalanan Wall Street menuju level rekor terjadi di tengah meredanya ketegangan dagang dan berlakunya gencatan senjata di Timur Tengah antara Iran dan Israel. Meski demikian, perjanjian damai itu rapuh — hanya beberapa jam setelah diumumkan pada Selasa, kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.
Baca Juga
Trump Umumkan Rencana Gencatan Senjata Iran-Israel, Sebut 'Perang 12 Hari' Berakhir
"Ada pertarungan di pasar antara faktor pendorong struktural jangka panjang—seperti AI, robotika, kripto, dan inovasi teknologi lainnya, dengan hambatan siklikal seperti potensi kesalahan kebijakan. Untuk sesi ini, kekuatan jangka panjang tampaknya menang," urai Leah Bennett, Kepala Strategi Investasi di Concurrent Asset Management., seperti dikutip CNBC.
Pada April lalu, S&P 500 sempat berada lebih dari 20% di bawah rekor tertingginya akibat kekhawatiran bahwa lonjakan tarif dari AS akan mendorong ekonomi global ke jurang resesi. Namun, data tenaga kerja dan inflasi menunjukkan ketahanan yang mengejutkan.
Di sisi ekonomi, investor juga mencermati data penjualan rumah baru yang tercatat berada di level terendah sejak Oktober 2024.

