Kekhawatiran Pasar Tenaga Kerja Meningkat, Kepercayaan Konsumen AS Melemah
WASHINGTON, investortrust.id - Kepercayaan konsumen Amerika Serikat secara tak terduga melemah pada Juni, seiring meningkatnya kekhawatiran rumah tangga terhadap ketersediaan lapangan kerja. Hal ini menjadi sinyal terbaru bahwa kondisi pasar tenaga kerja mulai melemah, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen AS Merosot, Sinyal Perlambatan Ekonomi?
Pelemahan kepercayaan, yang dilaporkan oleh Conference Board pada Selasa (24/6/2025), terjadi di seluruh kelompok usia dan hampir seluruh kelompok pendapatan. Penurunan terbesar tercatat di kalangan pendukung Partai Republik.
Konsumen masih terfokus pada isu tarif impor dan sebagian besar menahan keputusan untuk melakukan pembelian besar. Jumlah responden yang memperkirakan pendapatannya akan meningkat juga menurun, meskipun persepsi terhadap kondisi keuangan saat ini masih relatif kuat.
Proporsi konsumen yang menilai lapangan kerja masih “melimpah” turun ke level terendah sejak Maret 2021, sejalan dengan naiknya jumlah klaim pengangguran serta perlambatan pertumbuhan lapangan kerja.
“Kekhawatiran terhadap harga, ditambah berkurangnya ekspektasi peningkatan pendapatan rumah tangga, menunjukkan kecemasan keuangan rumah tangga masih cukup tinggi,” kata Tim Quinlan, ekonom senior di Wells Fargo, seperti dikutip Reuters.
“Kami masih memproyeksikan pelemahan belanja konsumen di paruh kedua tahun ini. Apa yang terlihat sebagai ketahanan belanja ritel dalam beberapa bulan terakhir, kemungkinan besar adalah permintaan yang ditarik ke depan sebelum tarif benar-benar berdampak pada harga,” tambahnya.
Di Bawah Perkiraan
Indeks kepercayaan konsumen Conference Board turun 5,4 poin menjadi 93,0 pada Juni, menghapus hampir separuh kenaikan tajam di bulan Mei. Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan indeks justru naik ke 100,0.
Tanggal akhir survei adalah 18 Juni, sebelum AS turut serta dalam konflik Israel-Iran dengan membombardir fasilitas nuklir di Teheran. Trump mengumumkan gencatan senjata beberapa hari kemudian. Dalam survei disebutkan bahwa "referensi terhadap gejolak geopolitik dan kerusuhan sosial sedikit meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya, namun tetap rendah dalam daftar isu yang memengaruhi persepsi konsumen."
Proporsi konsumen yang menilai lapangan kerja “melimpah” turun ke 29,2% dari 31,1% pada Mei, terendah sejak Maret 2021. Sementara itu, 18,1% konsumen mengatakan pekerjaan “sulit didapat”, sedikit turun dari 18,4%.
Indikator pasar tenaga kerja—selisih antara responden yang menyatakan pekerjaan “melimpah” dan “sulit didapat”—menyusut ke 11,1, terendah dalam empat tahun, dari 12,7 bulan sebelumnya. Angka ini biasanya berkorelasi dengan tingkat pengangguran versi laporan ketenagakerjaan bulanan Departemen Tenaga Kerja AS.
Para ekonom memperkirakan angka ini, dikombinasikan dengan naiknya klaim pengangguran, berpotensi mendorong tingkat pengangguran ke 4,3% di bulan Juni dari 4,2% pada Mei.
Ekspektasi Inflasi
Meski ekspektasi inflasi konsumen untuk satu tahun ke depan menurun dari 6,4% ke 6,0%, proporsi konsumen yang memperkirakan suku bunga akan naik justru mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.
Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan kepada parlemen bahwa bank sentral masih butuh waktu untuk mengevaluasi apakah tarif benar-benar mendorong inflasi, sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga. Pekan lalu, The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,50%, di mana level ini telah bertahan sejak Desember.
Baca Juga
The Fed Abaikan Desakan Trump, Fokus pada Dampak Tarif terhadap Inflasi
Pasar saham AS ditutup menguat, dolar melemah terhadap sejumlah mata uang, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turun.
Konsumen masih ragu untuk melakukan pembelian besar dalam enam bulan ke depan dan cenderung menahan pengeluaran untuk jasa. Namun, belanja untuk makan di luar, servis kendaraan, kunjungan ke museum, serta aktivitas kebugaran tercatat meningkat. Rencana liburan ke luar negeri naik, namun rencana bepergian dalam negeri justru menurun.
Baca Juga
Wall Street Meroket di Tengah Meredanya Konflik Iran-Israel, Dow Terbang 500 Poin
Niat untuk membeli rumah juga turun, kemungkinan akibat kenaikan suku bunga KPR yang masih tinggi, ditambah harga rumah yang tetap mahal. Namun inflasi harga rumah mulai melambat, seiring peningkatan pasokan rumah tak terjual.
Data terpisah dari Federal Housing Finance Agency menunjukkan harga rumah keluarga tunggal turun 0,4% pada April, penurunan pertama sejak Agustus 2022, setelah stagnan pada Maret. Kenaikan tahunan melambat menjadi 3,0%, terendah sejak Mei 2023.
Namun para ekonom tidak memperkirakan penurunan harga rumah secara nasional, meski beberapa wilayah, terutama yang mengalami lonjakan harga tinggi selama pandemi, bisa menghadapi koreksi tajam. “Beberapa pasar, seperti Florida, sudah menunjukkan tanda-tanda koreksi harga,” ujar Bernard Yaros, Kepala Ekonom AS di Oxford Economics.

