Dunia Menanti Reaksi Iran Usai AS Gempur Fasilitas Nuklir
ISTANBUL, investortrust.id - Dunia bersiap menunggu reaksi Iran setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir utama Iran. Serangan AS itu telah menyeret Washington masuk ke dalam konflik bersenjata terbesar melawan Republik Islam tersebut sejak Revolusi 1979.
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
Sehari setelah AS menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon ke situs nuklir bawah tanah Fordow, Teheran bersumpah akan membela diri dengan segala cara. Para pemimpin Amerika meminta Iran menahan diri, sementara gelombang protes anti-perang mulai muncul di sejumlah kota besar AS.
Melalui Truth Social, Presiden AS Donald Trump menyinggung perubahan rezim di Iran. “Istilah ‘pergantian rezim’ memang tidak lagi populer. Tapi jika Rezim Iran saat ini tidak mampu membuat Iran hebat lagi (MAKE IRAN GREAT AGAIN/MIGA), mengapa tidak ada perubahan rezim??? MIGA!!!” tulis Trump," seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Iran dan Israel terus saling menembakkan rudal. Ledakan di wilayah barat Iran menewaskan enam personel militer, menurut media setempat. Sebelumnya, rudal Iran melukai puluhan orang dan meratakan sejumlah bangunan di Tel Aviv.
Departemen Luar Negeri AS memerintahkan keluarga staf diplomatik meninggalkan Lebanon dan mengimbau warganya di kawasan untuk membatasi perjalanan. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS juga memperingatkan adanya “ancaman yang meningkat” di wilayah dalam negeri. Aparat di kota-kota besar meningkatkan pengamanan di lokasi keagamaan, budaya, dan diplomatik.
Maskapai Air France KLM membatalkan penerbangan ke Dubai dan Riyadh untuk hari Minggu dan Senin, mencerminkan efek domino dari serangan ini.
Meski Iran belum melaksanakan ancamannya terhadap AS—baik menyerang basis militer maupun menutup pasokan minyak global—tekanan untuk merespons terus meningkat. Dalam pernyataan di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan tak akan kembali ke meja perundingan sebelum ada balasan. “AS telah menunjukkan tidak punya rasa hormat pada hukum internasional. Mereka hanya mengerti bahasa ancaman dan kekuatan,” ujarnya.
Baca Juga
Iran Kecam Keras Serangan AS, Tegaskan Tolak Tekanan Militer
Penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Ali Shamkhani, menulis di X bahwa “inisiatif kini ada pada pihak yang berpikir cerdas, bukan menyerang secara membabi buta. Kejutan akan terus berlanjut!”
Trump menyebut serangan udara itu sebagai “keberhasilan militer spektakuler”, menyatakan fasilitas pengayaan nuklir Iran “telah sepenuhnya dihancurkan.” Namun pernyataan resmi AS lebih berhati-hati, dan hingga kini belum ada data publik mengenai kerusakan selain citra satelit yang menunjukkan kawah di atas gunung Fordow.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut tidak ada peningkatan radiasi di luar lokasi pascaserangan. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan masih terlalu dini untuk menilai kerusakan bawah tanah. Sumber Iran mengatakan uranium yang telah diperkaya tinggi di Fordow sudah dipindahkan sebelum serangan—klaim yang belum bisa diverifikasi oleh Reuters.
Baca Juga
Trump menyerukan Iran untuk “membuat perdamaian sekarang” atau bersiap menghadapi “serangan lebih besar dan lebih mudah.” Wakil Presiden JD Vance menambahkan bahwa AS tidak berperang dengan Iran, tetapi dengan program nuklirnya. “Intervensi ini telah memundurkan program tersebut sangat jauh,” katanya.
Sementara itu, Parlemen Iran menyetujui langkah menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui hampir seperempat ekspor minyak dunia. Namun keputusan final masih menunggu persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang dipimpin langsung oleh orang kepercayaan Khamenei. Penutupan selat ini dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga minyak global dan mengundang bentrokan langsung dengan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Teluk.
Baca Juga
Serangan Trump ke Fasilitas Nuklir Iran Guncang Dunia dan Picu Ancaman di Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan Iran agar tidak membalas serangan. “Kami punya target lain yang bisa diserang. Tapi kami telah mencapai tujuan,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa tidak ada operasi militer lanjutan yang direncanakan “kecuali Iran macam-macam.”
Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat membahas serangan AS ke Iran. Rusia, China, dan Pakistan mengusulkan resolusi agar perang segera dihentikan tanpa syarat. Sekjen PBB António Guterres mengatakan serangan udara AS merupakan eskalasi berbahaya dan menyerukan gencatan senjata serta kembalinya diplomasi nuklir.
Perbedaan Tujuan Perang
Pejabat Israel menyatakan ingin menggulingkan pemerintahan ulama Syiah yang berkuasa sejak 1979. “Kami hampir mencapai tujuan untuk menyingkirkan ancaman rudal balistik dan program nuklir Iran,” kata PM Benjamin Netanyahu.
Namun AS menegaskan tidak sedang melakukan perubahan rezim. “Misi ini tidak pernah dan tidak akan menjadi tentang mengganti rezim,” ujar Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Sementara itu, demonstrasi anti-perang meletus di New York, Washington, dan kota-kota lain. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Jangan Ganggu Iran.”
Warga Iran yang dihubungi Reuters menggambarkan ketakutan mereka. “Masa depan kami suram. Seperti hidup dalam film horor,” kata Bita, 36, guru dari Kashan, sebelum teleponnya terputus.
Sebagian besar penduduk Teheran yang berjumlah 10 juta dilaporkan mengungsi ke daerah pedesaan. Otoritas Iran mengatakan lebih dari 400 orang telah tewas sejak awal serangan Israel, sebagian besar warga sipil. Israel disebut sengaja membidik tempat tinggal tokoh militer senior Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal yang menewaskan setidaknya 24 warga Israel dalam sembilan hari terakhir. Sirene udara terus meraung di seluruh penjuru Israel pada hari Minggu, memaksa jutaan penduduk berlindung di ruang bawah tanah.
Di Tel Aviv, Aviad Chernovsky (40) keluar dari bunker dan mendapati rumahnya hancur akibat serangan langsung. “Hidup di Israel saat ini tidak mudah. Tapi kami kuat dan kami tahu kami akan menang,” katanya.

