AS Tunda Keputusan Serang Iran dalam 2 Pekan, Eropa Dorong Upaya Diplomasi
TEL AVIV, investortrust.id – Perang udara antara Israel dan Iran memasuki minggu kedua pada Jumat (20/6/2025), di tengah upaya intensif para diplomat Eropa untuk membawa Teheran kembali ke meja perundingan. Ketegangan meningkat seiring Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa keputusan soal keterlibatan AS akan diambil dalam dua pekan ke depan.
Baca Juga
Trump Beri Iran ‘Ultimatum Terakhir’, AS Siapkan Evakuasi Warga dari Israel
Israel memulai serangan ke Iran sejak Jumat pekan lalu, dengan dalih mencegah negara musuh lamanya itu mengembangkan senjata nuklir. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel, sambil menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.
Menurut Human Rights Activists News Agency, serangan udara Israel telah menewaskan 639 orang di Iran, termasuk perwira tinggi militer dan sejumlah ilmuwan nuklir, dikutip dari Reuters. Sementara itu, Israel menyebut setidaknya 24 warga sipil tewas akibat serangan balasan Iran. Angka-angka korban itu belum terverifikasi.
Target utama Israel sejauh ini mencakup fasilitas nuklir, persenjataan rudal, dan juga jantung kekuasaan Republik Islam Iran. Sejumlah pejabat Barat dan kawasan mengatakan bahwa Israel berniat mengguncang pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei dari dalam.
“Apakah kami menargetkan kejatuhan rezim? Itu mungkin saja menjadi hasilnya. Tapi hal itu tergantung pada rakyat Iran untuk bangkit memperjuangkan kebebasannya,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Kamis.
Iran sendiri menyatakan bahwa targetnya adalah situs militer dan pertahanan Israel. Namun, serangan mereka juga mengenai rumah sakit dan lokasi sipil lainnya.
Baca Juga
Rudal Iran Hantam Rumah Sakit, Israel Balas Bombardir Reaktor Nuklir
Israel pada Kamis menuduh Iran dengan sengaja menyerang warga sipil menggunakan munisi curah (cluster munitions), senjata yang menyebar bom-bom kecil ke area luas dan sangat dilarang penggunaannya di kawasan sipil. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa belum merespons permintaan komentar atas tuduhan tersebut.
Eropa dan Rusia Serukan De-Eskalasi, AS Wait and See
Di tengah situasi yang memburuk, para menteri luar negeri Inggris, Prancis, dan Jerman bersama Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Jenewa, Jumat, untuk meredakan ketegangan.
“Sekarang adalah waktu untuk menghentikan adegan-adegan mengerikan di Timur Tengah dan mencegah eskalasi regional yang tidak menguntungkan siapa pun,” kata Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy sebelum pertemuan.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping juga menyerukan deeskalasi. Keduanya, menurut Kremlin, sepakat mengutuk aksi Israel dan menyerukan penghentian konflik.
Namun, peran Amerika Serikat masih belum pasti. Lammy pada Kamis bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan utusan khusus Trump untuk kawasan Timur Tengah, Steve Witkoff, di Washington. Diskusi mereka mencakup kemungkinan kesepakatan diplomatik.
Baca Juga
Trump Beri Iran ‘Ultimatum Terakhir’, AS Siapkan Evakuasi Warga dari Israel
Sumber menyebut Witkoff telah berbicara beberapa kali lewat telepon dengan Araqchi sejak minggu lalu. Trump, di sisi lain, masih bersikap ambigu: kadang mengancam Teheran, kadang mendorong dilanjutkannya kembali perundingan nuklir yang sempat ditangguhkan akibat perang.
Trump bahkan disebut mempertimbangkan penggunaan bom penghancur bunker untuk menyerang situs nuklir bawah tanah Iran. Namun seperti biasanya, Trump menyatakan akan membuat keputusan “dalam dua minggu ke depan” - frasa yang sering digunakannya dalam mengambil keputusan penting.
Ancaman Eksternal dan Ketakutan Internal
Bagi Iran, ini adalah salah satu ancaman eksternal terbesar sejak Revolusi 1979. Namun para pengamat menyebut, jika ingin menggulingkan kekuasaan 46 tahun Republik Islam, dibutuhkan juga tekanan dari dalam berupa pemberontakan rakyat.
Sayangnya, gelombang protes belum terlihat. Aktivis yang sebelumnya aktif dalam demonstrasi besar menyatakan bahwa dalam situasi saat ini, rakyat tidak memiliki ruang untuk bergerak.
“Bagaimana rakyat bisa turun ke jalan? Dalam kondisi yang begitu mengerikan, orang-orang hanya fokus menyelamatkan diri, keluarga, sesama warga, bahkan hewan peliharaannya,” kata Atena Daemi, aktivis HAM yang pernah dipenjara enam tahun dan kini tinggal di luar Iran.
Dengan ketidakpastian diplomatik, eskalasi militer, dan risiko kemanusiaan yang terus meningkat, pasar global dan pelaku geopolitik kini memandang Timur Tengah sebagai titik nyala paling berbahaya sejak awal dekade ini. Sementara peluru dan diplomasi saling bersaing menentukan arah perang, waktu semakin menipis bagi penyelesaian damai.

