AS Diprediksi Masuki Masa Resesi di 2024, Harus Senang atau Waswas?
JAKARTA, Investortrust.id - Ekonomi Amerika Serikat diprediksi akan masuk ke dalam jurang resesi di tahun depan, yang bakal mendorong bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) melakukan pemangkasan suku bunga yang tajam.
Sebelumnya telah disampaikan tim ekonom bank gergasi di Eropa, UBS, pada November lalu bahwa mereka memperkirakan The Fed akan merespons penurunan inflasi dan perlambatan ekonomi dengan memangkas suku bunga sebesar 275 basis poin. Jika benar terjadi pemangkasan suku bunga sebesar 275 basis poin, sama saja dengan hampir empat kali lipat dari penurunan 75 basis poin yang saat ini diharapkan oleh pasar, seperti yang terangkum dalam Fedwatch dari CME Group.
"Salah satu fitur kunci dari perkiraan UBS adalah siklus pelonggaran Fed yang sangat mencolok yang terlihat mulai Maret 2024," demikian disampaikan tim ekonom UBS yang dipimpin oleh ekonom Arend Kapteyn dan Bhanu Baweja seperti dikutip Businessinsider, Kamis (28/12/2023).
Kapteyn dan Bhanu juga mengatakan dalam catatan penelitian yang diterbitkannya, suku bunga diperkirakan akan turun menjadi hanya 1,25% pada paruh pertama tahun 2025.
Baca Juga
JP Morgan Ramal 2024 akan Jadi Tahun Membosankan bagi Ekonomi AS, Apa Alasannya?
Pemangkasan suku bunga oleh Fed itu akan menjadi respons terhadap resesi AS yang diprediksi akan terjadi pada kuartal II-III 2024, dan perlambatan diperkirakan terjadi terus menerus, yang salah satunya didorong inflasi keseluruhan maupun inti, demikian paparan tim UBS.
Sejak Maret 2022, Fed telah meningkatkan biaya pinjaman dari hampir nol menjadi sekitar 5,5% untuk menahan lonjakan kenaikan harga. Inflasi mencapai level tertinggi dalam empat dekade hingga mencapai angka 9,1% pada Juni tahun lalu, kendati sejak periode itu inflasi mulai mereda. Pihak The Fed menyebut penurunan tersebut masih jauh dari target angka inflasi 2% yang ditetapkan bank sentral.
Diharapkan langkah pengetatan moneter akan memberikan beban pada ekonomi, dan AS sejauh ini berhasil menghindari resesi. Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu tumbuh 4,9% pada kuartal ketiga, sebuah laju pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam dua tahun.
Di sisi lain pasar tenaga kerja AS juga tetap solid menghadapi kenaikan suku bunga Fed, dengan tingkat pengangguran naik sedikit dalam beberapa bulan terakhir tetapi masih berada di bawah angka 4%.
Prediksi resesi yang diuraikan oleh Kapteyn dan Baweja tampaknya bertentangan dengan pandangan yang disampaikan Kepala Alokasi Aset UBS untuk Amerika, Jason Draho. Ia mengatakan dalam presentasinya bahwa ketahanan ekonomi AS yang mengejutkan tahun ini telah menjadi panggung periode era keemasan yang ditandai oleh pertumbuhan PDB, inflasi, yield obligasi, dan suku bunga yang lebih tinggi.
