Mantan Gubernur BI Harap Donald Trump Mundur dan Main Golf
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) 1993-1998 Soedradjad Djiwandono berharap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengundurkan diri dari jabatannya. Harapan ini muncul karena sosok Presiden ke-47 AS itu membuat banyak kebijakan yang aneh, terutama di bidang perekonomian.
“Sebelum dia (Trump), Richard Nixon juga begitu. Daripada di-impeach, dia (Nixon) meminta Jerry (Gerald) Ford untuk mengampuninya ketika mundur,” kata Soedradjat saat Kagama Leaders Forum, di Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Baca Juga
Kunjungi Teluk, Trump Dapat Komitmen Investasi Arab Saudi Rp 9.840 Triliun!
Soedradjad menyebut Trump dapat hidup tenang di California andai memilih mundur. Selain itu, Trump juga dapat bermain golf setiap hari.
“Enggak perlu memikirkan hari tuanya,” ujar dia.
Soedradjad menjelaskan alasan Trump perlu mundur. Dikatakan, sebagai presiden negara superpower, Trump dinilai tak memahami cara memerintah. Bahkan, terkadang Trump disebut membuat keputusan di antara sadar dan mimpi.
“Beliau (Trump) sering membuat keputusan, saat tiba-tiba terjaga. Setengah bangun, setengah tidur mungkin juga keputusannya enggak karuan,” kata dia.
Soedradjad mengatakan Trump cukup anomali. Sejak terpilih di periode keduanya, Trump terus berusaha menepati janjinya, misalnya mendamaikan Ukraina dan Rusia, ingin menurunkan laju inflasi, dan memberikan kesempatan kerja yang lebih besar.
“Tetapi tidak pernah terjadi (janji-janjinya) dan selalu menyalahkan lawannya Joe Biden, sebagai Sleepy Joe, tetapi justru dia yang tertidur saat melayat Paus Francis di Vatikan,” ucap dia.
Selain gaya pemerintahan, Soedradjad menjelaskan Trump juga masih memiliki alam pemikiran lama. Dari penelusurannya, pola kebijakan Trump mirip dengan kebijakan ekonomi Presiden ke-25 AS William McKinley yang memerintah pada 1897 hingga 1901.
Baca Juga
Giliran Sektor Farmasi yang "Disikat", Trump Perintahkan Produsen Turunkan Harga Obat
Pada 100 tahun silam, McKinley disebut membuat kebijakan tarif karena ekonomi bersifat dependensi atau hubungan ketergantungan negara lain terhadap AS. Namun, zaman telah berubah. Saat ini, era interdependensi.
“Artinya saling tergantung. Ada istilah mengenai supply chain. Di dalam rantai supply chain ini, rantai sekecil apa pun juga memiliki peran, kalau dia patah jadi terbengkalailah hubungannya,” ucap dia.

