Sudah Diperkirakan Bakal Menangkan Pilpres Rusia, Putin akan Memperkuat Cengkeraman pada Kekuasaan
MOSKOW, Investortrust.id - Presiden Vladimir Putin siap memperketat kekuasaannya pada hari Minggu (17/03/2024) dalam Pemilu Presiden (Pilpres) Rusia yang sudah diperkirakan akan memberinya kemenangan telak.
Baca Juga
Beberapa penentang Putin, seperti dilansir CNBC, melakukan protes simbolis siang hari di tempat pemungutan suara menentang pemerintahannya.
Putin, yang mulai berkuasa pada tahun 1999, siap untuk memenangkan masa jabatan enam tahun baru yang, jika ia menyelesaikannya, akan memungkinkannya untuk menyalip Josef Stalin dan menjadi pemimpin terlama di Rusia selama lebih dari 200 tahun.
Pemilu ini diadakan dua tahun setelah Putin memicu konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua dengan memerintahkan invasi ke Ukraina. Dia menyebutnya sebagai “operasi militer khusus”.
Perang telah berlangsung selama tiga hari pemilu: Ukraina telah berulang kali menyerang kilang minyak di Rusia, menembaki wilayah-wilayah Rusia dan berusaha menembus perbatasan Rusia dengan pasukan proksi – sebuah tindakan yang menurut Putin tidak akan dibiarkan begitu saja.
Meskipun terpilihnya kembali Putin tidak diragukan lagi mengingat kendalinya atas Rusia dan tidak adanya penantang nyata, mantan mata-mata KGB ini ingin menunjukkan bahwa ia mendapat dukungan besar dari Rusia. Pemungutan suara berakhir pada 18.00 GMT pada hari Minggu.
Kremlin menginginkan jumlah pemilih yang tinggi, dan ketika pemungutan suara dibuka untuk hari ketiga di Rusia bagian barat, para pejabat mengatakan jumlah pemilih dalam dua hari pertama telah mencapai 63% secara nasional. Jajak pendapat keluar akan dipublikasikan segera setelah pemungutan suara berakhir pada pukul 18.00 GMT.
Pendukung Alexei Navalny, yang meninggal di penjara Arktik bulan lalu, telah meminta warga Rusia untuk ikut serta dalam protes “Siang Melawan Putin” untuk menunjukkan perbedaan pendapat mereka terhadap pemimpin yang mereka anggap sebagai otokrat yang korup.
“Alexei memperjuangkan hal-hal yang sangat sederhana: kebebasan berpendapat, pemilu yang adil, demokrasi dan hak kita untuk hidup tanpa korupsi dan perang,” kata istri Navalny, Yulia, dalam pesannya pada rapat umum di Budapest pada 15 Maret.
Pemilu Rusia di Jakarta
Kedutaan Besar Rusia di Jakarta menggelar Pemilu Rusia 2024, yang diikuti ratusan warga negara Rusia di Indonesia dengan antusias.
Di seluruh negara Rusia, Pemilu Rusia 2024 dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada periode 15-17 Maret 2024 dengan tujuan memberi keleluasaan waktu bagi pemilih dan mengurangi potensi kepadatan konsentrasi warga.
Kuasa Usaha Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Veronika Novoseltseva, yang ditemui Antara di Kedutaan Besar Rusia, Minggu, menyatakan, tempat pemungutan suara buka dari pukul 08.00-20.00 WIB.
"Sampai jam 13.30 WIB ini sudah sekitar 300 orang yang datang memilih. Sebenarnya komunitas Rusia di Jakarta tidak banyak. Saya senang karena semuanya antusias ada yang bawa anak, ada yang sedang hamil, ada yang tetap datang walau kakinya sakit. Saya senang, bisa saling berkomunikasi secara baik. ada juga pemilih pemula yang baru datang dari Bali," kata dia.
Novoseltseva yang juga bertindak sebagai ketua panitia pemilu Rusia di Jakarta, menyatakan, warga Rusia yang datang antara pukul 08.00-11.00 WIB merupakan warga Rusia yang bermukim di Jakarta atau diplomat Rusia di Indonesia.
"Di atas jam itu kebanyakan datang dari Bali karena harus naik pesawat terbang dan kembali lagi ke Bali dengan menggunakan pesawat terbang," kata Novoseltseva.
Menurut dia, warga Rusia banyak berada di Bali tetapi pihaknya tidak membuka TPS di sana karena juga digelar pemilu secara daring lewat aplikasi, yang merupakan kali pertama pemilu dilaksanakan secara daring.
Pada pemilu kali ini, ada 29 kawasan yang dapat melaksanakan pemilu secara daring walau warganya sedang berada di tempat lain.
"Misalnya saya warga Moskow, juga bisa memilih secara online (daring) lewat aplikasi di hp. Dengan begitu kami perhitungkan cukup satu TPS saja. Jumlah pemilih yang memilih memakai aplikasi ini sulit untuk diketahui jumlahnya," kata dia.
Ketika ditanya berapa jumlah warga Rusia di Indonesia saat ini, dia mengungkapkan bahwa angka hariannya sekitar 40.000-45.000 orang dan itu termasuk turis Rusia yang ke Indonesia yang tidak berdomisili di Indonesia.
Sementara yang bermukim di Indonesia, menurut Bagian Konsuler Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, sekitar 1.000 orang. "Banyak yang tidak lapor diri ke kami. Kami tidak bisa memaksa mereka untuk lapor diri. Untuk maju ke bilik suara juga, kami tidak bisa memaksakan. Di negara kami, Rusia, hal itu juga sama," katanya.
Ia mengatakan, semua warga negara Rusia boleh memilih, termasuk militernya. "Semua boleh memilih, termasuk militer kami," katanya.
Pemilu Rusia 2024 diikuti empat kandidat, yaitu Presiden Rusia, Vladimir Putin, kemudian Leonid Slutsky, yang merupakan ketua partai Ultra-Nasionalis Liberal Demokrat Rusia sejak 2022. Ia juga menjabat sebagai deputi senior Duma Negara atau Dewan Legislatif Majelis Rendah Rusia.
Kiprah Slutsky dalam politik sudah terlihat sejak 2014, di antaranya pernah terlibat dalam merencanakan sidang gabungan antara Duma Negara dan Dewan Rakyat Suriah. Sebagai kandidat pro-Kremlin, Slutsky juga terlibat dalam berbagai hal untuk menegakkan kepentingan geopolitik Rusia yang anti-Barat.
Selanjutnya adalah Vladislav Davankov, seorang politikus Rusia yang menjabat sebagai wakil ketua Duma (Parlemen) Rusia sejak 2021, dan menjadi representasi partai Rakyat Baru Rusia di Duma. Ia merupakan lulusan dari Universitas Negeri Moskow pada 2006 dan pernah bekerja di perusahaan penjualan langsung oleh Alexey Nechayev.
Kemudian Nikolai Kharitonov, kandidat tertua yang mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia,. Berasal dari Partai Komunis Rusia yang menjabat di Duma Rusia sejak 1994.
Ini menjadi kampanye presiden kedua bagi Kharitonov yang sebelumnya gagal berkontestasi dalam pemilu 2004. Partai Komunis Rusia mengusulkan dia pada 22 Desember 2023 dalam sebuah rapat pleno Komite Sentral.
Dalam jejak kampanyenya, Kharitonov mencoba untuk mengadvokasi penurunan usia pensiun, menaikkan pembayaran pensiun, hingga meningkatkan dukungan bagi keluarga besar. Cara ini untuk mendapatkan suara dari pemilih lanjut usia yang mendukung partai komunis

