Jadi "Rebutan" AS dan Tiongkok Untuk Pengadaan Pesawat Tempur, Indonesia Main Cantik?
Jakarta, investortrust.id - Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan mitra mereka dari Tiongkok untuk membahas peningkatan kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan di Beijing, Tiongkok pada Senin, (21/4/2205). Kedua Menteri Kabinet Merah Putih ini melakukan pertemuan strategis tidak lama setelah perwakilan Boeing di Jakarta menggelar pertemuan dengan media massa nasional pada Selasa (15/4/2025). Dua hari kemudian, (Kamis, 17/4/2025) Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Brigjen TNI Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang menjelaskan proses pembelian 24 pesawat tempur F-15EX dari Amerika Serikat masih berjalan.
Seperti dikutip dari Antara, Brigjen Frega mengatakan melalui webinar, “Kementerian Pertahanan sudah melakukan pengkajian dan juga sudah merekomendasikan, namun kembali lagi nanti keputusan itu ada di pemerintah pusat dan juga Kementerian Keuangan.” Hal ini dikatakan Frega menjawab pertanyaan jurnalis tentang kelanjutan pembelian 24 unit pesawat tempur superioritas Udara F-15EX buatan Amerika Serikat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan di The Boeing Company, St. Louis, Missouri, AS pada tahun 2023.
Frega menambahkan bahwa proses pembelian pesawat tempur F-15EX tersebut membutuhkan waktu selama 6-7 tahun dan proses pembelian bisa berlangsung lama karena belum ada kontrak yang ditandatangani. “Kami belum ada keterikatan untuk membeli, dan tentunya dengan kondisi yang ada saat ini, proses masih berjalan. Walaupun kalau dilihat dari pemberitaan, itu sempat ada juga penandatangan MoU (Nota Kesepahaman),” ujarnya.
Dua hari sebelumnya, pihak Boeing seperti "merayu" Indonesia dengan menggelar media gathering di kantor Boeing di Jakarta. Boeing melalui Executive Director, F-15 Business Development, Boeing Defense, Space & Security, Robert Novotny, menawarkan sejumlah keuntungan bagi pemerintah Indonesia dalam rangka mendorong percepatan pembelian 24 jet tempur generasi 4.5, F-15EX.
Beberapa keuntungan yang ditawarkan seperti 85 persen komponen dan proses produks F-15EX tersebut dapat dilakukan di dalam negeri seperti dikutip dari EurAsian News (19//4/2025) yang menyatakan "Awaiting Rafales, Boeing Sweetens F-15EX Deal For Indonesia; Offers To Produce 85% Of Fighters Locally."
Hal ini sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah ditandatangani Boeing bersama RI Agustus 2023 silam di markas Boeing di Missouri, AS. Pihak AS juga telah memberikan kode khusus bagi Indonesia untuk penggunaan F-15EX, yakni F-15IDN.
Indonesia Main Cantik?
Sementara kantor Berita Pemerintah RI, ANTARA melansir bahwa pada Senin (21/4/2025), Pemerintah Indonesia dan China melakukan pertemuan perdana 2+2 antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara untuk membahas peningkatan kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan di Beijing, Tiongkok.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoedin menyebut kegiatan itu merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Xi Jinping terkait perjanjian kerja sama bilateral pertahanan dan keamanan. Dalam sambutannya, Sjafrie mengapresiasi adanya forum pertemuan strategis antara kedua Menteri sebagai wadah peningkatan komunikasi dan pemahaman bersama antarnegara. Dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung pesawat buatan Tiongkok yang cukup bagus dan harganya masuk akal.
"Indonesia memandang forum ini sebagai platform strategis yang tidak hanya memperkuat kemitraan bilateral, tetapi juga meningkatkan komunikasi, saling pengertian, dan kepercayaan antara kedua negara," jelasnya. Sjafrie juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan nasional dan keutuhan wilayah masing-masing negara dalam kerjasama yang ada.
Sjafrie kemudian mendorong adanya penguatan kerja sama yang konkret dan inklusif, khususnya di bidang pertahanan, guna mendukung perdamaian dan stabilitas di kawasan. "Indonesia meningkatkan kerja sama dalam konteks comprehensive and strategic partnership dengan Republik Rakyat Tiongkok di bidang pertahanan," tuturnya.
Lebih lanjut, Sjafrie berharap usai adanya pertemuan itu kerja sama strategis bilateral dapat semakin ditingkatkan. Ia lantas menekankan pentingnya peningkatan pertukaran personel militer di level tingkat tinggi, pelatihan bersama, dan kolaborasi praktis antar angkatan bersenjata, serta kerja sama industri pertahanan. "Kami berharap agar dialog ini menghasilkan langkah konkret yang memperkuat kerja sama strategis Indonesia - RRT di bidang pertahanan," jelasnya.
Turut hadir dalam pertemuan itu yakni Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiyono, Menteri Luar Negeri RRT Wang Yi, dan Menteri Pertahanan Nasional RRC Admiral Dong Jun.
Ketertarikan Indonesia pada perkembangan teknologi pesawat tempur Tiongkok semakin menguat ketika Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menghadiri China International Aviation and Aerospace Exhibition (Zhuhai Airshow) 2024 di Zhuhai, Tiongkok, Selasa (12/11/2024). Kunjungan ini diikuti oleh delegasi TNI AU yang menyaksikan teknologi militer dan dirgantara terbaru bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Beijing.
Pada airshow tersebut Marsekal Tonny Harjono sempat duduk di kokpit jet tempur siluman andalan Rusia, Su-57 dan jet tempur generasi 4.5 Tiongkok, Chengdu J-10. Selain mencoba kokpit kedua jet tempur tersebut Kasau dan delegasi TNI AU melakukan pembicaraan dengan Rosoboronexport dari Rusia dan juga China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) dari China pada kesempatan yang terpisah.
Kemajuan Teknologi Jet Tempur Tiongkok
Bukan apa-apa, Amerika layak khawatir bila Indonesia berpaling ke Tiongkok. Pasalnya dalam berbagai kesempatan, Angkatan Udara Tiongkok telah beberapa kali memamerkan kemajuan teknologi militer mereka seperti pesawat siluman yang diklaim sebagai jet tempur generasi 5 dan setara dengan F-22 Raptor milik AS, yakni Chengdu J-20 dan Shenyang J-35. Khusus Shenyang J-35 ini, banyak pemerhati militer yang menyebutkan banyak kemiripan desain dengan F-22 Raptor.
Dikutip dari kantor berita Xinhua, J-20 adalah "pesawat tempur siluman berat yang dirancang terutama untuk keunggulan udara," sementara "J-35A adalah pesawat tempur siluman multiperan berukuran sedang yang mampu melakukan misi superioritas udara dan serangan terhadap target darat dan laut."
Dari pernyataan Xinhua ini bisa dilihat bahwa kerangka hubungan antara J-20 dan J-35A ini, dalam peran, ukuran, biaya, dan jumlah, sangat mirip dengan relasi antara F-22 dan F-35A di Angkatan Udara AS.
Pada 26 Desember 2024, pemerhati militer dikejutkan dengan kemunculan perdana jet tempur bersayap delta yang futuristik milik Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) di Chengdu, Sichuan, Tiongkok dan kemudian dijuluki J-36 dan diklaim sebagai jet tempur multi fungsi siluman. Julukan J-36 diberikan karena nomor seri pesawat 36011 mengikuti konvensi Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat. Belum ada keterangan resmi tentang kemunculan jet tempur yang disebut sebagai Chengdu J-36 dari pemerintah Tiongkok.
Dari beberapa foto dan video, J-36 seperti dirancang dengan diamond-cut bersayap delta tanpa ekor vertikal (rudder) dan bermesin tiga. Ketiadaan stabilisator vertikal secara signifikan mengurangi penampang radar pesawat dan meningkatkan kemampuan siluman J-36.
Pesawat siluman yang disebut sebagai kelas berat ini (karena bermesin tiga) direncanakan untuk menjalankan berbagai misi, termasuk superioritas udara, serangan, dan komando serta kendali operasi kerja antar pesawat. J-36 dikembangkan oleh Chengdu Aircraft Corporation (CAC) sebagai bagian dari program pengembangan pesawat generasi keenam Tiongkok. Meski terlihat canggih dan telah menerapkan teknologi siluman, jet tempur generasi ke-5 dan ke-6 Tiongkok belum pernah terlibat dalam pertempuran yang sesungguhnya.

