Ada Tanda Kemajuan Pembicaraan AS-Iran, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 2%
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak turun lebih dari 2% pada Senin (21/4/2025) karena ada tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan antara AS dan Iran. Di sisi lain, investor tetap khawatir terhadap tekanan ekonomi dari tarif yang dapat menekan permintaan bahan bakar.
Baca Juga
Harga Minyak menuju Kenaikan Mingguan karena Sanksi AS ke Iran dan Pemangkasan OPEC
Futures minyak mentah Brent turun $1,70, atau 2,5%, menjadi ditutup pada $66,26 per barel setelah naik 3,2% pada hari Kamis. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada $63,08 per barel, turun $1,60, atau 2,47%, setelah naik 3,54% pada sesi sebelumnya. Kamis adalah hari terakhir perdagangan minggu lalu karena libur Jumat Agung.
“Pembicaraan AS-Iran tampak cukup positif, yang memungkinkan orang mulai memikirkan kemungkinan Solusi. Implikasi langsungnya adalah bahwa minyak mentah Iran tidak akan keluar dari pasar,” jelas Harry Tchilinguirian, kepala riset grup di Onyx Capital Group, seperti dikutip CNBC.
Pasar juga memiliki likuiditas yang lebih rendah karena libur Paskah, yang dapat memperparah pergerakan harga, tambahnya.
Dalam pembicaraan tersebut, AS dan Iran sepakat untuk mulai menyusun kerangka kerja bagi kemungkinan kesepakatan nuklir, kata Menteri Luar Negeri Iran, setelah diskusi yang oleh pejabat AS digambarkan sebagai menunjukkan “kemajuan yang sangat baik.”
Kemajuan ini terjadi setelah AS pekan lalu menjatuhkan sanksi tambahan terhadap kilang minyak independen China yang dituduh memproses minyak mentah Iran, meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Pasar juga mengalami tekanan pada hari Senin, setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu melontarkan kritik terhadap Federal Reserve. Harga emas melonjak ke rekor baru, dengan kekhawatiran merambat ke pasar energi karena kekhawatiran terhadap permintaan, menurut para analis.
Baca Juga
Trump Kembali Desak The Fed Pangkas Suku Bunga, Isyaratkan ‘Pemecatan’ Powell
“Tren yang lebih luas masih condong ke sisi bawah, karena investor mungkin kesulitan menemukan keyakinan terhadap prospek permintaan-penawaran yang membaik, terutama di tengah hambatan dari tarif terhadap pertumbuhan global dan meningkatnya pasokan dari OPEC+,” urai Yeap Jun Rong, analis pasar di IG Market.
OPEC+, kelompok produsen utama termasuk Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya seperti Rusia, masih diperkirakan akan meningkatkan produksi sebesar 411.000 barel per hari mulai Mei, meskipun sebagian peningkatan itu mungkin akan diimbangi oleh pemotongan dari negara-negara yang sebelumnya melebihi kuota.
Sebuah jajak pendapat Reuters pada 17 April menunjukkan investor percaya bahwa kebijakan tarif akan memicu perlambatan ekonomi AS yang signifikan tahun ini dan tahun depan, dengan kemungkinan median resesi dalam 12 bulan mendatang mendekati 50%. AS adalah konsumen minyak terbesar di dunia.
Investor tengah menanti sejumlah rilis data dari AS pekan ini, termasuk PMI manufaktur dan jasa awal bulan April, untuk melihat arah ekonomi.
“Serangkaian rilis PMI minggu ini bisa semakin menyoroti dampak ekonomi dari tarif, dengan kondisi manufaktur dan jasa di berbagai ekonomi utama diperkirakan akan melemah,” ujar Yeap dari IG, seraya menambahkan bahwa harga minyak menghadapi resistensi di level $70.

