Di Tengah Kekhawatiran Tarif, PDB China Kuartal I Tumbuh Lampaui Perkiraan Capai 5,4%
BEIJING, investortrust,id - Ekonomi China tumbuh lebih baik dari perkiraan sebesar 5,4% pada kuartal pertama. Negara Tirai Bambu itu mempertahankan momentum yang kuat, meskipun ancaman tarif dari AS telah membuat bank-bank investasi besar memangkas proyeksi pertumbuhan tahunan negara itu.
Baca Juga
Ekspor China Maret Meroket Lebih dari 12% di Tengah Memanasnya Perang Dagang
PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal pertama melampaui ekspektasi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan pertumbuhan 5,1% secara tahunan, melanjutkan pemulihan yang dimulai akhir 2024 berkat dorongan kebijakan stimulus yang luas.
Penjualan ritel pada Maret naik 5,9% dibanding tahun sebelumnya, menurut data dari Biro Statistik Nasional pada Rabu (16/4/2025), jauh melampaui perkiraan analis yang memperkirakan pertumbuhan 4,2%. Produksi industri tumbuh 7,7% dari tahun sebelumnya, dibandingkan estimasi median sebesar 5,8%.
Investasi aset tetap tumbuh 4,2% pada kuartal pertama dibandingkan perkiraan kenaikan 4,1% dalam jajak pendapat Reuters. Namun, sektor properti terus membebani investasi aset tetap, turun 9,9% sepanjang tahun hingga Maret, sementara investasi infrastruktur dan manufaktur menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan.
Biro statistik menggambarkan ekonomi China sebagai “memulai tahun dengan baik dan stabil” dan menekankan bagaimana “inovasi semakin memainkan peran utama.” Startup China, DeepSeek, pada Januari lalu mengungkap terobosan AI yang disebut-sebut menyaingi teknologi dari OpenAI yang berbasis di AS.
Namun biro statistik juga memperingatkan bahwa “lingkungan eksternal menjadi semakin kompleks dan parah” serta permintaan domestik masih belum mencukupi.
Tingkat pengangguran perkotaan turun menjadi 5,2% pada Maret, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dua tahun sebesar 5,4% pada Februari.
Pemerintah China telah menetapkan target pertumbuhan tahunan yang ambisius sekitar 5% tahun ini, sebuah target yang dianggap semakin sulit dicapai mengingat potensi eskalasi perang dagang dan lemahnya konsumsi domestik secara berkelanjutan.
Baca Juga
“Kita harus menerapkan kebijakan makro yang lebih proaktif dan efektif, memperluas dan memperkuat ekonomi domestik … serta secara aktif merespons ketidakpastian lingkungan eksternal,” sebut biro itu seperti dikutip CNBC.
Perang tarif timbal balik dengan AS telah membuat total bea masuk yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap barang-barang China mencapai 145%, memicu pembalasan dari Beijing dengan menaikkan bea masuk terhadap barang-barang AS hingga 125%. Tingkat tarif impor seperti ini diperkirakan akan menekan ekspor China dan mengurangi beberapa poin persentase dari laju pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Baca Juga
“Pertumbuhan kemungkinan akan memburuk dengan cepat mulai kuartal kedua mengingat kecilnya kemungkinan negosiasi bilateral dalam waktu dekat untuk menciptakan jalan keluar dari kenaikan tarif 125%,” tulis tim ekonom dari Morgan Stanley dalam sebuah catatan awal pekan ini.
Beberapa bank investasi telah memangkas proyeksi pertumbuhan China tahun ini, dengan sebagian besar ekonom meragukan bahwa Beijing dapat mencapai target resminya.
Pada hari Selasa, UBS Group menambah deretan pemangkasan proyeksi dengan perkiraan paling pesimistis di antara bank-bank besar, memproyeksikan ekonomi China hanya akan tumbuh 3,4% tahun ini karena tarif AS membebani ekspor. Bank investasi tersebut memperkirakan ekspor China ke AS akan turun dua pertiga dalam beberapa kuartal mendatang, dengan total ekspor turun 10% dalam nilai dolar tahun ini.
Tekanan terus meningkat pada pejabat China untuk merilis langkah-langkah stimulus yang lebih kuat guna mendorong konsumsi domestik dan pasar perumahan, sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi pada ekspor dan investasi.

