Trump Cabut Tarif Impor Barang Elektronik, tapi Ancaman ‘Kehancuran’ Bisnis Kecil AS Sudah di Depan Mata
NEW YORK, investortrust.id – Presiden Donald Trump mengecualikan pengenaan tarif impor pada produk elektronik dan komponennya, termasuk yang berasal dari China. Untuk sementara, boleh jadi iPhone selamat. Begitu pula perangkat teknologi kelas atas seperti chip dan PC. Tapi, bagi banyak pengusaha kecil di Amerika, terutama yang bergantung pada impor barang dari China, keputusan Trump menaikkan tarif menjadi 145% bisa menjadi titik kehancuran yang tidak mudah dipulihkan.
Baca Juga
Trump Kena Batunya, Cabut Tarif Impor Barang Elektronik Termasuk Asal China
Di tengah panasnya perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini, pengusaha di berbagai sektor mulai menarik rem darurat. Pesanan pengangkutan dibatalkan, kontainer dibiarkan telantar di pelabuhan, dan bisnis-bisnis kecil terancam mati perlahan.
“Produsen furnitur di China sudah tak lagi menerima pesanan dari AS. Mainan, pakaian, alas kaki, semua ikut terhenti,” beber Alan Murphy, CEO Sea-Intelligence, seperti dikutip CNBC.
Pemandangan serupa terjadi di Asia Tenggara, namun sedikit membaik usai adanya masa tenggang 90 hari. Meski demikian, ekspor dari China masih lumpuh. Hampir semua aktivitas dagang tertahan.
“Hampir semua urusan bisnis dengan China saat ini ditangguhkan,” kata Alan Baer, CEO OL USA.
Sinyal bahwa pemerintahan Trump menargetkan China secara khusus setelah mengampuni negara-negara lain dari tarif baru menjadi pukulan telak. Apalagi bagi produk dengan margin rendah yang sebelumnya hanya bisa diproduksi efisien di China.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
Sementara produk berteknologi tinggi seperti alat medis, elektronik, dan farmasi — yang produksinya butuh investasi besar dan waktu lama — mendapat pengecualian. Namun tetap saja, guncangannya terasa luas.
Beban Berat Usaha Kecil
Stephen Lamar, CEO American Apparel & Footwear Association, menyebut kondisi ini sebagai disrupsi terbesar dalam rantai pasok sejak pandemi Covid-19. Tarif tinggi yang tiba-tiba diberlakukan, menurutnya, membuat banyak bisnis kecil tidak bisa membayar biaya yang tiba-tiba melonjak saat barang sampai di pelabuhan.
“Biaya yang muncul tidak bisa diprediksi. Tagihannya terlalu besar. Ini bukan risiko yang bisa ditanggung usaha kecil,” kata Lamar.
Akibatnya, banyak pesanan dibatalkan. Produk hilang dari pasar. Dan dalam jangka pendek, pendapatan pun menguap.
“Tanpa pasokan alternatif, banyak bisnis akan langsung merasakan kehilangan penjualan dan kekosongan stok di pasar,” tambahnya.
Kekacauan Rantai Pasok
Maersk, raksasa logistik dunia, memperingatkan bahwa penurunan pemesanan dan kemungkinan diberlakukannya biaya tambahan untuk kapal buatan China akan memicu restrukturisasi besar dalam layanan pelayaran ke Amerika Utara.
“Kekacauan ini bisa berlangsung berbulan-bulan,” tulis Maersk kepada para kliennya.
Barang-barang yang tidak diambil — baik lewat laut maupun udara — kini menumpuk. Di pelabuhan New York, jika kontainer dibiarkan lebih dari 30 hari, maka akan dianggap ditinggalkan dan dijual untuk menutup biaya. Tanggung jawab biaya bisa jatuh pada pengirim, apalagi jika dokumen pengalihan kepemilikan belum diserahkan.
“Biasanya pengirim menyiapkan surat penyerahan agar barang bisa dilelang,” jelas seorang pejabat pelabuhan.
Pasar barang telantar pun muncul. Perusahaan seperti FR8 Auctions dan Merchandise USA memborong kargo telantar dan menjualnya kembali di outlet diskon, likuidator, atau bahkan Amazon.
Disadari, ketidakpastian merupakan musuh terbesar dari rantai pasok
Menurut Murphy, sebagian besar produsen China tak berniat memindahkan produksinya ke AS, karena tidak yakin ke mana arah kebijakan pemerintah AS.
“Kalau ini cuma trik negosiasi, siapa yang mau berinvestasi besar? Jika memang ingin bangun industri lokal kembali, rencana tarif harus konsisten dan jelas — bukan seperti main ‘catur 4D,’ yang tidak riil,” ujarnya beranalogi.
Untuk saat ini, banyak perusahaan memilih strategi “wait and see.” Mereka berupaya mempertahankan fleksibilitas rantai pasok, dari gudang, pelabuhan, kapal, hingga pesawat kargo, sembari menanti kejelasan.
“Fleksibilitas adalah segalanya saat ini,” kata Karsten Kildahl dari Maersk. Karena satu keputusan saja, bisa mengubah peta dagang dunia.

