Pemerintah Layangkan Permintaan Bertemu Presiden AS untuk Bahas Tarif Impor
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan pemerintah telah meminta pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Salah satu tujuan dari pertemuan itu untuk membahas penerapan tarif impor AS ke beberapa negara.
“Kita sudah melayangkan permintaan pertemuan dengan Presiden Trump, beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum tarif (impor) dan hubungan bilateral antar kedua negara,” kata Sugiono, di Ankara, Turkiye, Kamis (10/4/2025) waktu setempat.
Sugiono belum dapat kapan pertemuan Prabowo dan Trump dapat digelar. Tetapi, untuk menegosiasikan tarif impor, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sudah mengirim tim untuk berdiskusi.
Baca Juga
“Kita sudah mengirimkan (surat pengajuan bertemu Trump)” kata dia.
Sugiono mengatakan akan menyampaikan ke publik balasan surat yang dilayangkan. “Ya dengan perkembangan ini saya kira itu juga pasti akan dibicarakan, kita lihat saja nanti,” ucap dia.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjadi ketua tim negosiasi tarif impor ke AS. Penjajakan negosiasi dimulai di kawasan ASEAN. Menurutnya, ASEAN tidak akan melakukan retaliasi atas tarif impor AS. Sebagai gantinya, negara-negara di ASEAN akan melakukan negosiasi.
Airlangga menyebut Indonesia dan Malaysia akan mendorong trade investment and framework agreement (TIFA). Proses pengkajian ulang perjanjian dagang dan investasi bilateral ini dilakukan karena sejak 1996 belum terjadi revisi perjanjian dagang.
“TIFA sendiri secara bilateral ditandatangani pada 1996 dan banyak isunya tidak relevan lagi sehingga kita akan mendorong kebijakan itu masuk dalam TIFA,” ucap dia.
Airlangga menyebut, selain TIFA, pemerintah juga mengkaji beberapa non-tariff measure dan mengupayakan peningkatan impor komoditas dari AS. Beberapa produk yang dapat masuk dalam peningkatan impor tersebut di antaranya, gandum, kapas, dan produk minyak dan gas.
“Di samping itu, Indonesia juga sedang mengerjakan proyek strategis nasional mengenai pembangunan refinery dan mungkin salah satu komponennya kita beli dari Amerika,” ujar dia.

