Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Bank Sentral India Pangkas Suku Bunga 25 Bps Jadi 6%
NEW DELHI, investortrust.id – Bank Sentral India, Reserve Bank of India (RBI), memangkas suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%, level terendah sejak September 2022. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran atas perlambatan ekonomi di negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia.
Baca Juga
Bank Sentral India Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pertama Kali dalam 5 Tahun
Pemangkasan ini sesuai dengan prediksi para analis yang disurvei oleh Reuters dan diumumkan bersamaan dengan diberlakukannya tarif balasan dari Amerika Serikat. Mulai tengah malam waktu setempat (pukul 09.31 pagi waktu India), AS mengenakan tarif sebesar 26% terhadap barang-barang impor asal India.
Dalam pernyataan resminya, RBI menyebut bahwa meningkatnya tarif perdagangan global telah menambah ketidakpastian dalam prospek ekonomi lintas kawasan, serta menjadi tantangan baru bagi pertumbuhan dan inflasi global.
Langkah pelonggaran moneter ini dilakukan di tengah melemahnya inflasi domestik dan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. RBI menyebut pemangkasan suku bunga didasarkan pada adanya “perbaikan yang menentukan” dalam prospek inflasi. Bank sentral tersebut juga mengungkapkan keyakinannya bahwa inflasi akan berada dalam kisaran target 4% dalam 12 bulan ke depan.
Baca Juga
IMF: Kebijakan Tarif Trump Berisiko Signifikan pada Prospek Ekonomi Global
“Di sisi lain, terhambat oleh lingkungan global yang menantang, pertumbuhan masih berada di jalur pemulihan setelah kinerja yang mengecewakan pada paruh pertama tahun fiskal 2024–25,” bunyi pernyataan tersebut. Periode fiskal tersebut berlangsung dari April hingga September 2024.
Data terbaru menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) India hanya tumbuh 6,2% pada kuartal keempat 2024, lebih rendah dari perkiraan. Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2025, ekonomi India diproyeksikan tumbuh 6,5%, turun tajam dari 9,2% pada tahun sebelumnya.
Dalam catatan yang dirilis 7 April, HSBC memperkirakan bahwa tarif baru yang diumumkan akan memangkas pertumbuhan tahunan India sebesar 0,5 poin persentase untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Selain itu, diperkirakan pula dampak tidak langsung dari perlambatan ekspor serta aliran investasi asing langsung yang lebih lemah.
Kepala ekonom Asia Tenggara dan India di ANZ, Sanjay Mathur, juga memperingatkan adanya risiko penurunan yang nyata terhadap pertumbuhan PDB India. Kepada CNBC pada 3 April lalu, ia mengatakan bahwa angka pertumbuhan di bawah 6% "bukanlah hal yang mustahil" mengingat gejolak ekonomi global.
Mathur juga menyoroti gelombang panas yang sedang melanda India, yang berpotensi mengganggu hasil produksi pertanian — sektor yang menyumbang sekitar 18% dari PDB nasional.
Dari sisi inflasi, angka terakhir tercatat sebesar 3,61% pada Februari, lebih rendah dari perkiraan seiring turunnya harga sayuran. Ini merupakan tingkat inflasi terendah sejak Juli 2024. RBI memperkirakan inflasi tahun fiskal mendatang akan berada di kisaran 4%.
Sementara itu, HSBC memperkirakan inflasi rata-rata akan berada pada angka sekitar 3,5% dalam enam bulan ke depan, didorong oleh turunnya harga pangan. “Inflasi inti juga kemungkinan akan tetap rendah, ditopang oleh apresiasi nilai tukar rupee, disinflasi impor dari Tiongkok, harga minyak yang lebih lunak, dan lemahnya pertumbuhan domestik,” tulis HSBC dalam laporannya.

