Makin Sangar! Setelah Frigat Canggih, Filipina Akan Kedatangan 20 F-16 Viper C/D Block 70/72
Jakarta, Investortrust.id - Ketegangan di Laut Cina Selatan akibat klaim sepihak Tiongkok membuat negara-negara di kawasan merasa perlu untuk memperkuat angkatan bersenjata mereka, termasuk Filipina. Departemen Luar Negeri AS telah membuat keputusan yang menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing kepada Pemerintah Filipina atas Pesawat F-16 dengan perkiraan biaya sebesar $5,58 miliar. Pada bulan Maret lalu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan: "Kami sepakat mengenai langkah selanjutnya untuk membangun kembali, dan itu yang terpenting, membangun kembali pencegahan di kawasan Indo-Pasifik. Upaya ini dibangun di atas komitmen berkelanjutan sebesar $500 juta dalam pembiayaan militer asing dan bantuan keamanan lainnya untuk mendukung modernisasi militer Filipina."
Tanggal 8 April 2025 nanti Angkatan Laut Filipina juga akan menerima kedatangan sebuah Frigat Berteknologi Tinggi Kelas Miguel Malvar buatan Hyundai Heavy Industries Korea Selatan. Frigat Kelas Miguel Malvar memiliiki sistem tempur dan persenjataan yang dirancang khusus untuk operasi multi peran. Urusan menghajar sasaran di udara, Frigat Miguel Malvar punya sistem peluncur vertikal (VLS) 16 sel untuk rudal permukaan-ke-udara meski belum diungkapkan misil apa yang akan mengisi ke-16 tabung tersebut. Kemudian ada dua peluncur yang masing-masing berisi empat rudal antikapal LIG Nex1 SSM-700K C-Star, meriam angkatan laut Oto Melara 76 mm, sistem senjata jarak dekat (CIWS) ASELSAN GOKDENIZ 35 mm, dan empat senapan mesin berat 12,7 mm. Untuk peperangan antikapal selam, kapal ini membawa dua peluncur torpedo rangkap tiga untuk torpedo K745 Blue Shark.
Sistem sensor dan elektronik di dalamnya meliputi radar multifungsi AESA pita-S IAI EL/M-2258 ALPHA, radar navigasi Kelvin Hughes SharpEye, sonar yang dipasang di lambung Harris Model 997, dan sistem kendali tembakan elektro-optik Safran PASEO XLR. Semua ini terintegrasi ke dalam sistem manajemen pertempuran modern, yang memungkinkan pengambilan keputusan taktis secara real-time.
F-16 Viper Pertama di Asia Tenggara
Tidak berhenti di situ, Angkatan Bersenjata Filipina semakin berotot dengan disetujuinya penjualan enam belas (16) pesawat F-16 C Block 70/72 dan empat (4) pesawat F-16 D Block 70/72 atau yang lebih dikenal sebagai F-16 Viper kepada Filipina. Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DSCA) menyampaikan sertifikasi yang diperlukan yang memberitahukan Kongres tentang kemungkinan penjualan ini. Proposal penjualan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu meningkatkan keamanan mitra strategis yang terus menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik, perdamaian, dan kemajuan ekonomi di Asia Tenggara.
Di tengah potensi konflik di Laut Cina Selatan, penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Angkatan Bersenjata Filipina untuk melindungi kepentingan vital dan wilayah, serta memperluas interoperabilitas dengan pasukan AS. Filipina tidak akan kesulitan menyerap peralatan ini ke dalam angkatan bersenjatanya.
Penjualan ini termasuk 24 mesin F110-GE-129D atau F100-PW-229, 22 generator tampilan terprogram versi lanjut, dan tiga unit rudal pelatihan AIM-9X Block II, sistem peperangan elektronik AN/ALQ-254 Viper Shield, sistem pencarian dan pelacakan inframerah dan perangkat militer lainnya. F-16 Viper yang akan diterima oleh Filipina bahkan lebih canggih daripada F-16 milik Angkatan Udara Singapura.
Varian Block 70/72 dilengkapi dengan tampilan layar kokpit beresolusi tinggi, yang meningkatkan kesadaran situasional pilot dan mengintegrasikan data dari radar AESA yang canggih dan pod penargetan di bagian lambung pesawat. Dengan radar AESA APG-83 Northrop Grumman, F-16 Block 70/72 akan mendapatkan keuntungan berupa kemampuan berbagi informasi dengan radar generasi ke-5 yang dibawa pesawat tempur F-22 dan F-35. Angkatan Udara Filipina dapat dengan mudah mendapatkan pasokan data peperangan di udara secara real time dari Angkatan Udara AS.
Tambahan lagi, F-16 Viper memiliki jarak tempur yang lebih jauh berkat tangki bahan bakar konformal sehingga tidak perlu lagi membawa tangki eksternal dan fitur ini akan memberikan daya muat senjata yang lebih banyak di bawah sayap Viper. Masa pakai struktural F-16 Viper lebih panjang hingga 12.000 jam dibanding F-16 versi sebelumnya.
Sebelumnya Angkatan Udara Filipina telah mengoperasikan Jet Tempur Latih/Serang Ringan FA-50 Fighting Eagle buatan Korea Selatan yang memiliki beberapa kesamaan dengan F-16 Fighting Falcon.
