Teruskan Upaya Akhiri Perang Ukraina, Starmer Jembatani Krisis Hubungan Trump-Zelenskyy
LONDON, investortrust.id - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan kepada para pemimpin yang berkumpul dalam sebuah KTT tentang perang di Ukraina bahwa mereka harus meningkatkan dukungan terhadap Kyiv dan menghadapi “momen sekali dalam satu generasi” demi keamanan Eropa.
Baca Juga
Pemimpin Barat Berkumpul di London Dukung Zelenskyy dan Rencana Perdamaian Ukraina
“Meskipun Rusia berbicara tentang perdamaian, mereka tetap melanjutkan agresi mereka tanpa henti,” kata Starmer dalam pembukaan pertemuan tersebut, dikutip dari CNBC, Senin (03/03/2025).
Starmer, yang didampingi oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengatakan bahwa mereka bertiga telah sepakat untuk menyusun rencana guna menghentikan pertempuran dan membawa rencana tersebut ke Amerika Serikat, yang telah membahas kemungkinan menengahi perjanjian damai.
“Kita harus menyepakati langkah-langkah yang muncul dari pertemuan ini untuk mewujudkan perdamaian melalui kekuatan demi kepentingan semua pihak,” katanya.
Pertemuan ini dibayangi oleh teguran luar biasa yang diterima Zelenskyy dari Presiden AS Donald Trump, yang pada hari Jumat di Gedung Putih mengecamnya karena dianggap tidak berterima kasih atas dukungan AS terhadap Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.
Baca Juga
Zelenskyy Mencari Dukungan dalam Pertemuan Darurat Eropa Setelah Bertikai dengan Trump
Starmer mengatakan bahwa ia fokus menjadi jembatan untuk mengembalikan pembicaraan damai, yang kegagalannya ia manfaatkan sebagai kesempatan untuk kembali terlibat dengan Trump, Zelenskyy, dan Macron, daripada meningkatkan retorika konfrontatif.
Langkah Penting
Pertemuan di London ini memiliki arti yang semakin besar dalam mempertahankan sekutu yang dilanda perang serta memperkuat pertahanan benua Eropa.
KTT hari Minggu mencakup diskusi mengenai pembentukan pasukan militer Eropa yang akan dikirim ke Ukraina untuk menopang gencatan senjata. Starmer mengatakan bahwa pasukan ini akan terdiri dari “koalisi negara-negara yang bersedia.”
Kepada BBC, Starmer mengatakan bahwa ia tidak mempercayai Presiden Rusia Vladimir Putin tetapi mempercayai Trump. “Apakah saya percaya Donald Trump ketika dia mengatakan ingin perdamaian yang langgeng? Jawabannya adalah ya,” katanya.
Starmer mengatakan bahwa saat ini sedang berlangsung “diskusi intensif” untuk mendapatkan jaminan keamanan dari AS.
“Jika ada kesepakatan, jika ada penghentian pertempuran, maka kesepakatan itu harus dipertahankan, karena hasil terburuk adalah adanya jeda sementara lalu (Presiden Rusia Vladimir) Putin kembali menyerang,” kata Starmer. “Itu pernah terjadi di masa lalu, saya pikir itu adalah risiko nyata, dan itulah mengapa kita harus memastikan bahwa jika ada kesepakatan, itu adalah kesepakatan yang langgeng, bukan sekadar jeda sementara.”
Tiga elemen utama yang disebut Starmer sebagai kunci keberhasilan kesepakatan damai adalah: mempersenjatai Ukraina agar memiliki posisi tawar yang kuat; memasukkan unsur Eropa untuk menjamin keamanan; serta menyediakan “jaminan dukungan AS” guna mencegah Putin melanggar perjanjian.
“Itulah paketnya. Ketiga elemen itu harus ada, dan itulah yang saya upayakan untuk diwujudkan,” kata Starmer.
Starmer menjadi tuan rumah pertemuan ini di Lancaster House, sebuah mansion berusia 200 tahun dekat Istana Buckingham, setelah menjalankan upaya diplomasi pekan lalu untuk meyakinkan Trump agar menempatkan Ukraina di pusat negosiasi dan mengalihkan dukungannya ke Eropa.
Para pemimpin dari Jerman, Denmark, Italia, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Kanada, Finlandia, Swedia, Republik Ceko, dan Rumania menghadiri KTT tersebut. Menteri luar negeri Turki, sekretaris jenderal NATO, serta presiden Komisi Eropa dan Dewan Eropa juga turut hadir.
Pemimpin Eropa Dukung Zelenskyy
Zelenskyy mendapat dukungan luas dari para pemimpin Eropa setelah insiden di Gedung Putih, di mana Trump secara terbuka mengecamnya dalam siaran langsung televisi.
Starmer menyambut Zelenskyy dengan hangat saat ia tiba di pertemuan hari Minggu.
Baca Juga
Eropa menjadi semakin waspada sejak Trump mulai mengadakan pembicaraan damai langsung dengan Putin, yang sebelumnya dikucilkan oleh sebagian besar pemimpin Barat sejak menginvasi Ukraina tiga tahun lalu. Upaya para pemimpin Eropa untuk tetap relevan dan melindungi kepentingan mereka semakin mendesak setelah Trump menyebut Zelenskyy sebagai seorang diktator dan secara keliru mengatakan bahwa Ukraina yang memulai perang.
Sejumlah pertemuan dalam beberapa hari terakhir sempat memberikan harapan—hingga kunjungan Zelenskyy ke Gedung Putih.
Kunjungan Macron ke Oval Office, yang ia sebut sebagai “titik balik,” serta pertemuan Starmer dengan Trump dipandang sebagai langkah ke arah yang benar. Pertemuan-pertemuan itu berlangsung dengan hangat, dan Trump bahkan bersikap lebih lunak terhadap Ukraina, meskipun ia tetap menolak memberikan jaminan keamanan dari AS serta menegaskan bahwa Eropa harus menyediakan pasukan penjaga perdamaian.
Namun, dalam waktu 12 jam setelah Starmer kembali dari Washington, pembicaraan damai tampaknya runtuh setelah Wakil Presiden JD Vance mengecam Zelenskyy karena menantang pernyataan Trump bahwa Putin bisa dipercaya.
Baca Juga
AS-Ukraina Gagal Capai Kesepakatan, Trump Sebut Zelenskyy Tak Menghormati Gedung Putih
“Starmer melakukan pekerjaan yang mengesankan dalam menegaskan peran Eropa dalam perang di Ukraina dan menyampaikan kepada Presiden Trump bahwa Eropa bersedia dan mampu memimpin implementasi perjanjian damai yang kredibel,” kata Rachel Ellehuus, direktur jenderal Royal United Services Institute, sebuah lembaga pemikir pertahanan dan keamanan. “Sayangnya, pertemuan di Gedung Putih pada hari Jumat merupakan langkah mundur yang besar.”
Menurut Ellehuus, Ukraina kini tidak lagi bisa mengandalkan dukungan militer atau politik dari AS setelah Trump menyatakan dirinya netral dalam negosiasi. Ia mengatakan bahwa Eropa harus mengambil inisiatif dan dapat memanfaatkan sekitar 200 miliar euro ($207 miliar) dari aset Rusia yang disita untuk membantu mendanai upaya tersebut.
“Tujuan utama dari pertemuan di London haruslah memastikan Ukraina tetap bertahan dalam pertempuran agar bisa bernegosiasi dari posisi yang sekuat mungkin,” katanya.
Anggaran Militer
Starmer berjanji pekan ini untuk meningkatkan belanja militer menjadi 2,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2027. Negara-negara Eropa lainnya mungkin akan mengikuti langkah tersebut.
Perdana Menteri Ceko Petr Fiala mengatakan pada hari Sabtu bahwa Eropa menghadapi ujian sejarah dan harus menjaga dirinya sendiri. Ia menekankan bahwa negara-negara Eropa harus meningkatkan pengeluaran pertahanan hingga setidaknya 3% dari PDB.
“Jika kita tidak meningkatkan upaya kita dengan cukup cepat dan membiarkan agresor mendikte kondisi mereka, kita tidak akan berakhir dengan baik,” katanya.
Macron, yang mengatakan bahwa wajar jika AS mengalihkan fokusnya ke China dan Asia, juga menyerukan peningkatan pengeluaran pertahanan sembari menekankan pentingnya persatuan.
“Kita seharusnya menyadari hal ini lebih awal,” kata Macron. “Selama bertahun-tahun saya telah mengatakan bahwa kita membutuhkan Eropa yang lebih berdaulat, lebih bersatu, dan lebih mandiri.”

