Taiwan Larang Instansi Pemerintah Pakai DeepSeek, Kenapa?
TAIPEI, investortrust.id - Kementerian Digital Taiwan secara resmi melarang penggunaan layanan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dari perusahaan rintisan asal China, DeepSeek, di seluruh instansi pemerintah.
Pemerintah Taiwan disebut tak mau mengambil risiko keamanan siber dan potensi kebocoran data yang melibatkan transfer informasi lintas negara. Dalam sisi politis, Taiwan yang memiliki pemerintahan demokratis, juga berhati-hati pada teknologi buatan China yang dapat mengancam mereka.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Digital Taiwan menegaskan bahwa seluruh departemen pemerintahan dilarang menggunakan layanan AI dari DeepSeek untuk mencegah risiko keamanan informasi.
"Layanan AI DeepSeek adalah produk asal Tiongkok, yang dalam operasinya melibatkan transmisi lintas negara dan berpotensi menyebabkan kebocoran informasi. Ini merupakan ancaman terhadap keamanan data nasional," ujar perwakilan kementerian dikutip dari Reuters, Jumat (31/1/2025).
Pemerintah Taiwan juga menekankan bahwa kebijakan keamanan siber akan terus diperbarui seiring perkembangan teknologi, guna memastikan perlindungan data yang lebih optimal.
Baca Juga
Keamanan DeepSeek masih jadi sorotan
DeepSeek telah menarik perhatian dunia setelah chatbot AI V3 dan R1 mampu melampaui ChatGPT dalam jumlah unduhan di App Store pada akhir Januari 2025. Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi AI asal China itu mulai menyaingi perusahaan-perusahaan besar asal Amerika Serikat.
Tapi, popularitas DeepSeek juga menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara. Selain Taiwan, otoritas di Korea Selatan, Prancis, Italia, dan Irlandia tengah menyelidiki bagaimana DeepSeek mengelola data pribadi penggunanya.
Korea Selatan melalui badan pengawas privasi informasi telah mengumumkan rencana untuk meminta klarifikasi dari DeepSeek mengenai kebijakan pengelolaan data pengguna.
Keberhasilan DeepSeek dalam menyalip ChatGPT di AS tidak hanya memicu perdebatan soal keamanan data, tetapi juga berdampak pada pasar saham teknologi.
Rabu (29/1/2025), investor global melakukan aksi jual besar-besaran terhadap saham perusahaan teknologi AS. Raksasa chip Nvidia mengalami penurunan nilai pasar sebesar US$ 593 miliar dalam satu hari dan menjadi kehilangan nilai terbesar dalam sejarah Wall Street untuk satu perusahaan.
Di sisi lain, berbagai negara mulai memperketat regulasi untuk melindungi keamanan data pengguna seiring kemajuan AI. Uni Eropa bahkan telah menerapkan AI Act yang mengatur transparansi, keamanan, dan tanggung jawab penyedia AI dalam penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Dengan meningkatnya perhatian global terhadap risiko keamanan AI, langkah Taiwan melarang DeepSeek dianggap menjadi bagian dari tren global dalam membatasi pengaruh teknologi China dan memperketat pengawasan terhadap keamanan data nasional. (C-13)

