Timur Tengah Bersiap Booming Energi Surya
DUBAI, investortrust.id - Dengan sinar matahari yang melimpah untuk menghasilkan energi bersih dalam jumlah besar, beberapa negara di Timur Tengah, seperti Oman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar berinvestasi pada proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) raksasa demi masa depan energi yang semakin hijau.
Dilansir dari Oil Price, Minggu (26/1/2025), Timur Tengah telah mengalami pergeseran energi signifikan dalam beberapa tahun terakhir, karena banyak negara di kawasan tersebut menyambut era energi terbarukan, meski tidak sedikit yang melihat masa depan energi masih bahan bakar fosil.
Menurut laporan Rystad Energy, energi hijau diharapkan melampaui penggunaan bahan bakar fosil pada 2040, dengan fotovoltaik surya atau solar photovoltaic (PV) berada di urutan teratas.
PV surya diharapkan berkontribusi lebih setengah pasokan listrik Timur Tengah pada 2050, dari hanya 2% pada 2023. Sumber energi terbarukan diharapkan berkontribusi sekitar 70% dari bauran pembangkit listrik di kawasan tersebut saat ini.
Baca Juga
Tingkatkan Kompetensi, Delegasi dari 4 Negara Afrika Ikut Pelatihan Energi Surya di Bandung
Permintaan listrik di Timur Tengah diperkirakan mencapai sekitar 2.000 terawatt-hours (TWh) dari 1.200 TWh saat ini. Sementara bahan bakar fosil saat ini menyumbang sekitar 93% dari pembangkitan listrik di kawasan tersebut. Adapun gas alam dipandang sebagai hal penting bagi keamanan energi jangka menengah.
Beberapa negara Timur Tengah berinvestasi signifikan pada energi hijau untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil. Di Oman, pemerintah meningkatkan kontribusi energi terbarukan terhadap bauran energi menjadi 30% pada 2030, sekitar 60-70% pada 2040, dan 100% pada 2050.
Pemerintah Oman bulan ini meresmikan pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik (PV) Manah 1 dan Manah 2 di di Kegubernuran Al Dakhiliyah. Kedua pembangkit tersebut memiliki kapasitas produksi 1 GW dan merupakan pembangkit listrik terbesar di Oman. Pembangkit listrik tersebut terdiri 2 juta panel PV yang bisa meningkatkan efisiensi dan mengurangi penggunaan air.
Pembangkit listrik tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi energi terbarukan Oman dari 6,6% menjadi 11%. Selain itu, mengurangi emisi karbon sekitar 1,4 juta ton per tahun, sehingga dapat menyediakan listrik untuk memasok 120.000 rumah tangga.
UEA hingga Saudi
Di UEA, Strategi Energi Bersih Dubai 2050 menetapkan target 75% energi bersih pada 2050. Hal ini sejalan dengan Visi 2030 Abu Dhabi yang bertujuan mencapai 30% energi terbarukan dalam waktu 5 tahun. Pada Januari, pemerintah membuka proyek tenaga surya 24 jam dari perusahaan energi terbarukan Masdar, yang terdiri dari kapasitas tenaga surya 5,2 GW dan penyimpanan baterai 19 GWh. Hal ini memungkinkan pembangkit 1 GW energi terbarukan beroperasi sepanjang waktu, meski malam hari.
Menteri Perindustrian dan Teknologi Terkni UEA Sultan Al Jaber menyatakan, selama puluhan tahun, hambatan terbesar energi terbarukan adalah intermitensi, yaitu ketidakmampuan mendapatkan sumber daya listrik bersih tanpa gangguan siang dan malam.
Sementara QatarEnergy pada September 2024 mengumumkan rencana membangun pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 2 GW yang dapat menggandakan kapasitas tenaga surya negara bagian tersebut pada akhir dekade ini. Perusahaan minyak milik negara itu berencana membangun fasilitas di wilayah Dukhan, Qatar.
Baca Juga
QatarEnergy dan TotalEnergies meluncurkan pembangkit listrik tenaga surya Al-Kharsaah berkapasitas 800 MW pertama mereka pada 2022. QatarEnergy berencana membangun dua proyek lagi, dengan kapasitas 875 MW, di kota industri Ras Laffan dan Mesaieed. Hal ini akan memperluas kapasitas tenaga surya Qatar menjadi 4 GW pada 2030 akan berkontribusi sekitar 30% dari kebutuhan pembangkit listrik negara tersebut.
Di Arab Saudi, pemerintah menandatangani perjanjian untuk produksi PV surya domestik sebesar 30 GW. Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi menandatangani dua perjanjian produksi PV surya dengan produsen Tiongkok JinkoSolar dan TCL Zhonghuan Renewable Energy.
Sementara pada Oktober, Saudi Power Procurement Co mengumumkan daftar pendek penawar tahap akhir putaran kelima Program Energi Terbarukan Nasional (NREP) pemerintah. Proyek-proyek tersebut, meliputi pabrik Al Sadawi berkapasitas 2 GW yang terletak di timur Arab Saudi, proyek Al Masa'a berkapasitas 1 GW yang terletak di provinsi Hail utara, pabrik Al Henakiyah 2 berkapasitas 400 MW di provinsi Madinah barat, dan proyek Rabigh 2 berkapasitas 300 MW di provinsi Makkah barat.

