Ketum Kadin Anindya Berdiskusi dengan Presiden Afrika Selatan di WEF Davos, Ini yang Dibahas
DAVOS, investortrust.id - Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie berdiskusi dengan Presiden Afrika Selatan, Matamela Cyril Ramaphosa di sela-sela pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (22/1/2025). Keduanya membahas persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan digelar di Johannesburg pada November 2025.
“Kami berdiskusi tentang persiapan KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan pada November mendatang. Ini momen yang tepat karena beliau (Matamela Cyril Ramaphosa) merupakan Ketua G20, di mana Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah KTT G20 tahun ini,” kata Anindya Bakrie lewat keterangan pers dari Davos.
Dalam diskusi tersebut, menurut Anindya Bakrie, Cyril Ramaphosa membicarakan solidaritas (solidarity), kesetaraan (equality), dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjadi tema penyelenggaraan KTT G20 di Afrika Selatan.
Baca Juga
Anindya Bakrie: Indonesia Berambisi Jadi Acuan Standar Pengolahan Material Baterai Kendaraan Listrik
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, KTT G20 diselenggarakan di Afrika. Jadi, ini momen yang sangat spesial bagi kita semua, khususnyabagi Afrika Selatan,” tutur Anindya.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Matamela Cyril Ramaphosa dikenal sebagai presiden yang kharismatik. Pria kelahiran 17 November 1952 ini menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 2018.
Sebelum menjadi Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa menjabat sebagai Presiden Kongres Nasional Afrika (ANC). Sebelumnya, dia dikenal sebagai aktivis anti-apartheid, pemimpin serikat pekerja, dan pengusaha.
Baca Juga
Anindya Bakrie: Hilirisasi adalah Strategi Indonesia Menjadi Negara Maju
Selain itu, Cyril Ramaphosa pernah menjabat sebagai Sekjen ANC era Nelson Mandela (1991-1997) dan menjadi Wakil Presiden era Presiden Jacob Zuma (2014-2018). Cyril Ramaphosa dijuluki sebagai negosiator ulung dan ahli strategi. Dia pun piawai berpidato.
Dalam pidatonya di WEF Davos, Rabu (22/1/2025) kemarin, Cyril Ramaphosa menyampaikan frasa yang sangat menyentuh tentang kolaborasi.
Baca Juga
Di WEF Davos, Anindya Bakrie Ungkap Peluang Indonesia Menjadi Pemain Penting Kendaraan Listrik
Menurut Cyril Ramaphosa, untuk mengatasi berbagai persoalan dunia, seperti kemiskinan, perang, dan perubahan iklim, para pemimpin dunia kembali dipanggil untuk memanfaatkan atribut manusia yang paling kuat sekaligus paling abadi, yakni kerja sama dan kolaborasi yang saling menguntungkan.
“Kerja sama adalah landasan peradaban manusia. Tanpa kerja sama dan kolaborasi – antara individu, kelompok individu, masyarakat di seluruh dunia, negara – umat manusia tidak akan dapat maju,” tandas Ramaphosa.
Menyitir pidato tokoh anti-apartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela di WEF Davos, 30 tahun silam, Cyril Ramaphosa mengatakan, “Ketergantungan kitalah yang menyatukan kita dalam satu rumah global bersama, melintasi lautan dan benua, menuntut kita semua untuk bersatu meluncurkan serangan global demi pembangunan, demi kemakmuran, dan kelangsungan hidup manusia.”

