BRICS vs G7, Siapa Menang?
JAKARTA, investortrust.id - Tenaga profesional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Ending Fadjar memetakan empat skenario pertarungan BRICS versus G7. Siapa menang?
BRICS, susuai namanya, didirikan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Organisasi kerja sama ekonomi antanegara ini dirilis pada 2009 dengan tujuan menjadi penyeimbang kekuatan negara-negara maju yang tergabung dalam Group of Seven (G7).
Belakangan, sejumlah negara bergabung, yaitu Mesir, Etiopia, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia, sehingga anggota tetap BRICS bertambah menjadi 11 negara.
Sementara itu, G7 merupakan forum antarpemerintah untuk membahas dan mengoordinasikan kebijakan global. Negara-negara G7 memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang besar sehingga dapat memengaruhi kebijakan global.
Baca Juga
Keanggotaan BRICS Dinilai Perkuat Posisi Diplomasi Ekonomi Indonesia di Global
G7 terdiri atas Amerika Serikat (AS), Britania Raya, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis. Uni Eropa juga memiliki kursi di G7 untuk mewakili Belgia, Belanda, Polandia, Spanyol, dan Swedia.
Ada Empat Skenario
Ending Fadjar mengungkapkan, skenario pertama yaitu ketika BRICS dan G7 sama-sama memiliki peran yang menguat. Kondisi ini akan memunculkan titik keseimbangan.
“Ini akan Yin Yang, tercapailah suatu keseimbangan,” kata Ending dalam diskusi yang digelar daring berjudul IKAL Strategic Centre, Selasa (14/1/2025).
Dengan menguatnya masing-masing organisasi antarnegara, menurut Ending Fadjar, dunia bakal mengalami multipolar. Skenario ini diinginkan banyak negara.
Skenario kedua, kata Ending, adalah G7 menguat dan BRICS melemah. Skenario ini akan memunculkan dunia yang unipolar. “Saya gambarkan sebagai Enceladus. AS akan menguasai dunia,” ujar dia.
Dia menjelaskan, jika arah unipolar terjadi, posisi AS akan semakin kuat. AS tetap menjadi superpower. “Kalau yang multipolar tadi, ada AS bersama Rusia dan China, mereka menjadi great power,” tutur dia.
Ending mengatakan, Indonesia tergolong dalam negara middle power bersama Turkiye, Argentina, Meksiko, dan negara-negara lainnya. Negara-negara ini memiliki kemampuan menentukan nasibnya sendiri. “Tidak mudah dikendalikan oleh great power lain,” tegas dia.
Adapun skenario ketiga yaitu masuknya dunia pada Doomsday Clock. Skenario ini terjadi ketika G7 dan BRICS sama-sama melemah setelah saling beradu pengaruh. “BRICS dan G7 sama-sama hancur,” ucap dia.
Baca Juga
Gabung BRICS, DEN Tegaskan Indonesia Negara Berdaulat yang Independen
Skenario keempat yaitu menggambarkan penguatan BRICS dan melemahnya G7. Namun, skenario ini tak akan terjadi pada 10-15 tahun mendatang.
“Menghancurkan kekuatan G7 dalam waktu 20 tahun itu tidak mungkin,” ujar dia.
Untuk menghadapi lingkungan ini, menurut Ending, sebaiknya pemerintah Indonesia mengelola keuangan dengan kondisi berhati-hati atau prudent. Sebab, pertarungan yang digambarkan sebagai Global South vs Global North bakal berlangsung hingga dua dekade.
“Dan orang tidak dapat memprediksi apa akhirnya. Tapi, banyak yang khawatir, kalau tidak hati-hati, kondisi ini bisa menyebabkan perang dunia ketiga,” kata dia.

