Inflasi Konsumen China Terendah dalam Lima Bulan, Ekonomi Melambat
BEIJING, investortrust.id - Inflasi harga konsumen di China pada November mencatat kenaikan 0,2% (tahun-ke-tahun), terendah dalam lima bulan terakhir, menurut data dari Biro Statistik Nasional yang dirilis pada Senin (9/12/2024).
Baca Juga
Angka ini meleset dari ekspektasi analis dalam survei Reuters yang memproyeksikan kenaikan sebesar 0,5%, dibandingkan dengan kenaikan 0,3% pada Oktober.
Inflasi Inti (yang mengecualikan harga makanan dan bahan bakar yang volatil) naik tipis 0,3% dari 0,2% pada Oktober.
Harga daging babi dan sayuran segar masing-masing naik 13,7% dan 10% secara tahunan.
Tekanan Deflasi
Mengutip CNBC, indeks harga produsen (PPI) turun 2,5% pada November, penurunan bulanan ke-26, tetapi lebih kecil dari penurunan yang diperkirakan sebesar 2,8%. Penurunan harga terbesar tercatat pada material logam besi (-7,1%), bahan bakar dan energi (-6,5%), serta bahan kimia (-5%).
Deflasi yang terus terjadi dalam PPI mencerminkan lemahnya permintaan domestik dan inventaris input manufaktur yang besar. Stimulus yang diluncurkan Beijing sejak September, termasuk penurunan suku bunga dan dukungan untuk pasar properti, belum mampu mengatasi masalah ini secara signifikan.
Baca Juga
Analis dari Standard Chartered Bank dan Goldman Sachs memproyeksikan inflasi konsumen mendekati nol dan PPI tetap negatif hingga 2025.
Fitch Ratings menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk 2025 menjadi 4,3% dari 4,5%, dengan asumsi kebijakan perdagangan AS yang lebih proteksionis.
Tanda Pemulihan
Meski menghadapi tekanan, ada beberapa indikasi pemulihan ekonomi China. Penjualan ritel pada Oktober mencatat pertumbuhan yang kuat, melebihi ekspektasi.
Aktivitas manufaktur berkembang selama dua bulan berturut-turut.
Konferensi Kerja Ekonomi Pusat tahunan yang dimulai Rabu ini diharapkan akan mengungkap tujuan ekonomi dan langkah stimulus untuk 2025. Selain itu, data perdagangan untuk November akan dirilis Selasa, dan angka penjualan ritel pada Senin mendatang.

