Elon Musk Pamerkan Dominasinya di Industri EV Amerika Serikat
JAKARTA, Investortrust.id - Produsen mobil listrik Tesla yang dinakhodai Elon Musk belum lama ini mengumumkan sejumlah kemitraan baru, yang menjadikan Tesla sebagai pusat dari jejaring produsen EV di Amerika Serikat.
Ford menjadi produsen mobil pertama yang mengumumkan kemitraannya dengan Tesla pada Mei 2023 lalu. Kemitraan ini memberikan akses kepada pelanggan EV Ford ke jaringan Supercharger milik Elon Musk yang telah tersebuar di lebih dari 15.000 titik pengisian di seluruh negara.
Baca Juga
Produsen Baterai EV Kurangi Pasokan Bikin Saham Tesla Anjlok 5%
Pengumuman kemitraan antara Ford dan Tesla menjadi semacam gerbang yang membuka kemitraan-kemitraan lainnya. Daftar produsen dan manufaktur EV yang ingin mengenyam mapannya infrastruktur pengisian daya baterai milik Tesla semakin bertambah.
Total 19 produsen otomotif kini telah bermitra dengan Tesla, termasuk General Motors, Mercedes, Toyota, Nissan, dan Volvo.
Lucid, yang dinilai sebagai pesaing Tesla pun telah menambahkan namanya ke dalam daftar mitra pada 6 November 2023 kemarin.
Produsen mobil listrik mewah ini disebutkan akan mengintegrasikan standar Pengisian Tesla Amerika Utara (North American Charging Standard/NACS) ke dalam kendaraannya pada tahun 2025. Pelanggan Lucid juga akan dapat mengakses jaringan pengisian daya Tesla pada tahun 2025.
Baca Juga
Lupakan Tesla yang Mahal, Mobil Listrik Terlaris di Jepang Ini Patut Dilirik
"Mengadopsi NACS adalah langkah penting untuk memberikan pelanggan kami akses yang lebih luas ke solusi pengisian yang andal dan nyaman untuk kendaraan Lucid mereka," kata CEO Peter Rawlinson dalam sebuah pernyataan.
NACS merupakan tambahan dari kemitraan berkelanjutan Lucid dengan Electrify America, yang memiliki dan mengoperasikan lebih dari 3.200 pengisi daya EV di seluruh AS, dan berencana untuk terus meningkatkan infrastrukturnya. Pelanggan yang memesan Lucid Air sebelum 30 November akan diberikan periode akses gratis ke jaringan Electrify.
Meskipun Lucid tidak memiliki jaringan pengisian listrik sendiri, namun mereka menjual paket stasiun pengisian daya yang dipasang di rumah, yang menawarkan kemampuan jelajah sejauh 80 mil per jam dengan biaya sebesar US$1.200.
Elon Musk sendiri menanggapi sinis kemitraan yang dijalin oleh perusahaan milik mantan sekutunya di Tesla, Rawlinson. "Itu pasti menjadi pil pahit untuk ditelan."
Baca Juga
Persaingan EV Global Makin Sengit, 2 Produsen Disebut di Ambang Pailit
Rawlinson yang dulunya pernah menjadi kepala engineer Tesla sempat berselisih dengan Musk. Pasalnya Musk menyangkal peran Rawlinson dalam pengembangan Tesla Model S, dengan mengatakan bahwa Rawlinson sudah pergi ketika pengembangan di Tesla tengah mengalami periode sulit.
Daftar kemitraan pengisian daya dengan Tesla ini mencerminkan siklus bisnis berkelanjutan Tesla, yang banyak analis perkirakan dapat memberikan potensi keuntungan besar.
Dan Ives dari Wedbush memproyeksikan pada bulan Agustus lalu bahwa jaringan pengisian daya Tesla sendiri dapat menghasilkan antara US$10 miliar hingga US$20 miliar pendapatan setiap tahun pada tahun 2030.
"Mereka begitu unggul ketika produsen otomotif lain perlu terhubung dengan jaringan Supercharger sebagai bagian dari tawaran penjualan ke calon konsumen agar mau beralih ke mobil listrik," kata Ives kepada TheStreet. "Sekarang, dari waktu ke waktu, ada peluang pendapatan besar di sini, orang lain akan mengejar Tesla."
Prediksi Ives tampaknya, sudah terwujud sebagian.
BP Pulse pada bulan Oktober lalu bahkan telah memesan pengisi daya supercharger Tesla senilai US$100 juta dalam suatu kesepakatan. Nantinya BP Pulse berhak atas penggunaan merek, menginstal, dan mengoperasikan pengisi daya tersebut. Mereka mengatakan akan mulai mengintegrasikan pengisi daya ke dalam jaringannya pada tahun 2024.
Direktur Senior Infrastruktur Pengisian Daya Tesla mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa saat Tesla berencana untuk memperluas kehadirannya lewat skema-skema perjanjian serupa di masa depan.

