Shigeru Ishiba Pimpin Jepang, Gantikan Fumio Kishida sebagai Perdana Menteri
JAKARTA, Investortrust.id - Shigeru Ishiba dipastikan akan menjabat sebagai Perdana Menteri baru Jepang, menggantikan Fumio Kishida setelah parlemen memilih Ishiba pada Selasa (1/10/2024). Kepastian ini didapat setelah Ishiba terpilih sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) menggantikan Fumio Kishida.
Fumio Kishida yang mulai menjabat pada tahun 2021 telah mengundurkan diri setelah pemerintahannya dirundung skandal. Sementara Ishiba berencana mengadakan pemilihan parlemen pada 27 Oktober.
“Saya percaya penting bagi pemerintahan baru untuk mendapatkan penilaian masyarakat sesegera mungkin,” kata Ishiba pada hari Senin (30/9/2024) ketika mengumumkan rencananya untuk mengadakan pemilu sela, seperti dilansir CBSNews.
Baca Juga
Partai-partai oposisi sendiri mengkritik Ishiba karena ia hanya memberikan waktu yang singkat bagi parlemen untuk memeriksa kebijakannya untuk dibahas pemilu nasional.
Dalam kata perpisahannya, Kishida menyampaikan harapannya agar kebijakan-kebijakan penting akan dilaksanakan oleh pemerintahan baru di bawah Ishiba, demi masa depan Jepang yang lebih baik.
“Saat kita menghadapi momen kritis di dalam dan di luar negeri, saya sangat berharap kebijakan-kebijakan penting yang akan menjadi pionir masa depan Jepang akan dilaksanakan dengan tegas oleh Kabinet baru,” kata Kishida dalam sebuah pernyataan, terkait pentingnya upaya meningkatkan keamanan di tengah kesenjangan global yang semakin mendalam.
Sementara itu Ishiba mengumumkan bahwa para pimpinan partainya akan menunjuk sejumlah anggota kabinet.
Baca Juga
Tiru Jepang, Indonesia Siapkan Notifikasi Peringatan Bencana yang Muncul Otomatis di Ponsel
Sejumlah kalangan menduga menteri-menteri di kabinetnya tidak akan terafiliasi dengan faksi-faksi yang dipimpin dan dikendalikan oleh partai-partai besar, dan tidak ada yang berasal dari kelompok mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang dikaitkan dengan skandal-skandal yang merugikan.
Asahi Shinbun menerbitkan laporan yang menyebut kurangnya basis kekuasaan yang stabil di Ishiba juga dianggap bisa berpotensi rapuhnya pemerintahannya dan "dapat segera runtuh" meskipun Ishiba berharap dapat membangun persatuan partai saat mempersiapkan pemilu mendatang.
Langkah ini juga dipandang sebagai langkah balas dendam oleh Ishiba, yang sebagian besar dikesampingkan selama sebagian besar masa pemerintahan Abe.

