Tiga Pesawat Militer Pakistan Hancur Diserang Militan
JAKARTA, investortrust.id - Militer Pakistan melaporkan bahwa pada hari Sabtu dini hari (4/11/2023) telah terjadi serangan militan di pangkalan pelatihan angkatan udara di pusat kota Mianwali, Distrik Punjab, Pakistan. Mengutip VOAnews, serangan militan itu mengakibatkan tiga pesawat rusak dan 9 penyerang tewas. Pasukan keamanan membunuh tiga penyerang sebelum mereka memasuki pangkalan dan membunuh enam lainnya dalam bentrokan berikutnya.
“Namun, selama serangan itu, beberapa kerusakan juga terjadi pada tiga pesawat yang sudah dilarang terbang dan sebuah pesawat tanker,” kata militer. Inter-Services Public Relations (ISPR), media dan public relations milik angkatan bersenjata Pakistan dan mengklaim bahwa serangan pemberontak itu telah digagalkan dan tidak banyak menimbulkan kerusakan. Meskipun demikian, laporan lapangan dan klip video yang beredar di media sosial memberikan gambaran yang berbeda.
Dari tangkapan foto dan video yang beredar di media sosial, redaksi Investortrust menginvestigasi kemiripan sirip vertikal (rudder) di bagian belakang pesawat dan daftar pesawat tempur milik Angkatan Udara Pakistan dan kuat dugaan pesawat yang diledakkan oleh militan adalah dari jenis Chengdu J-7, versi lisensi dari Mig-21 yang dibuat di China. Pesawat tempur ini tergolong uzur dan mungkin pesawat yang diserang oleh militan tersebut adalah pesawat yang tidak lagi diijinkan terbang (grounded).
Kelompok militan yang baru muncul bernama Tehreek-e-Jihad Pakistan mengklaim merencanakan dan melakukan serangan itu. Tehreek-e-Jihad Pakistan dalam beberapa bulan terakhir sejak kemunculannya telah melakukan beberapa penggerebekan besar-besaran terhadap pasukan keamanan.
Serangan juga terjadi di propinsi Baluchistan. Pada bulan Juli 2023 kelompok ini menyerang pangkalan militer di kota pelabuhan Gwadar, Baluchistan barat daya dan menewaskan 12 tentara Pakistan. Distrik Baluchistan menjadi lokasi pelabuhan laut dalam di Laut Arab yang dikelola oleh Tiongkok. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden Gwadar, namun dugaan kuat mengarah pada militan etnis Baluch, yang secara rutin menyerang pasukan keamanan di daerah tersebut. Juru bicara militan mengatakan mereka berjuang untuk kemerdekaan Baluchistan yang kaya akan sumber daya alam. Kelompok militan ini menuduh Tiongkok dan Pakistan mengeksploitasi minyak, tembaga, emas, bijih besi, dan sumber daya alam lainnya di provinsi tersebut, tuduhan yang dibantah oleh kedua negara karena tidak berdasar.
Secara terpisah pada hari Jumat (3/11/2023), ISPR melaporkan bahwa telah terjadi ledakan bom dan bentrokan dengan pemberontak yang terkait dengan Tehrik-e-Taliban Pakistan, atau TTP, organisasi yang telah dilarang oleh pemerintah Pakistan, menewaskan sedikitnya lima warga sipil dan tiga tentara di provinsi barat laut Khyber Pakhtunkhwa.
Gelombang serangan yang dipimpin TTP dan pemberontak Baluch belakangan ini meningkatkan serangan di kedua provinsi tersebut, yang terletak di perbatasan Pakistan dengan Afghanistan sepanjang hampir 2.600 kilometer. Kekerasan tersebut telah menewaskan lebih dari 700 orang di Pakistan tahun ini, termasuk warga sipil dan pasukan keamanan. Militer telah mengkonfirmasi sejumlah 240 tentara Pakistan tewas.
Para pejabat Pakistan mengatakan para pemimpin dan pejuang militan yang buron menggunakan tanah Afghanistan untuk merencanakan serangan lintas batas, tuduhan yang dibantah oleh penguasa Taliban di Afghanistan. TTP disebut Taliban Pakistan, yang dikenal sebagai cabang dan sekutu Taliban Afghanistan. Baluchistan yang berpopulasi rendah, berbatasan dengan Iran sepanjang 900 kilometer, telah menerima investasi Tiongkok dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir di bawah Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan, yang merupakan perpanjangan bilateral dari inisiatif infrastruktur Belt and Road global milik Beijing.

