PM Tinggalkan Bangladesh di Tengah Desakan Mundur, Presiden Bebaskan Pemimpin Oposisi
DHAKA, investortrust.id – Kondisi Bangladesh terus memburuk di tengah unjuk rasa yang makin meluas dan sulit dikendalikan.
Baca Juga
Korban Tewas Kerusuhan Bangladesh Tembus 180 Orang, Jam Malam Diperpanjang
Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina meninggalkan negaranya pada Senin (5/8/2024) ketika para pengunjuk rasa yang menuntut pengunduran dirinya menyerbu kediaman resmi perdana menteri di ibu kota Dhaka.
Harian lokal Parthom Alo melaporkan PM Hasina bersama saudara perempuannya Sheikh Rehana berangkat ke Benggala Barat di India.
Putri pendiri Bangladesh yang berusia 76 tahun tersebut telah memerintah negara berpenduduk 170 juta jiwa itu sejak 2009.
Sementara itu, Panglima Militer Bangladesh, Waker-uz-Zaman, bertemu dengan para pemimpin dari partai politik.
Negara di Asia Selatan tersebut kembali dilanda protes yang menyerukan pemerintah untuk mundur. Protes yang disertai kekerasan pada bulan Juli itu menuntut penghapusan sistem kuota dalam pekerjaan pemerintah.
Mahasiswa pun telah menolak kemungkinan pengambilalihan kekuasaan oleh militer. Asif Mahmud, koordinator utama demonstrasi yang sedang berlangsung, mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa mahasiswa tidak akan menerima pengambilalihan oleh militer.
Setidaknya 93 orang tewas dalam protes baru tersebut, berdasarkan sumber-sumber rumah sakit kepada Anadolu.
Protes yang sebagian besar dipimpin oleh mahasiswa berencana untuk mengadakan long march ke Dhaka, tetapi pemerintah telah memberlakukan jam malam tanpa batas waktu.
Sebelumnya pada Minggu, Hasina mengancam akan menggunakan tindakan keras terhadap mereka yang melakukan terorisme atau menyebarkan anarki di negara tersebut.
Pada hari yang sama, pihak berwenang memulihkan sebagian internet saat ribuan pengunjuk rasa berkumpul di ibu kota. Namun, internet seluler masih ditangguhkan.
Bebaskan Pemimpin Oposisi
Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin pada Senin malam memerintahkan pembebasan pemimpin oposisi Khaleda Zia beberapa jam setelah Perdana Menteri Sheikh Hasina meninggalkan negara tersebut di tengah maraknya aksi protes.
Sebuah pernyataan kantor Presiden menyebutkan seluruh partai politik sepakat membubarkan parlemen untuk membentuk pemerintahan transisi seperti yang diumumkan sebelumnya oleh Panglima Militer Jenderal Waker-uz-Zaman.
Keputusan itu muncul setelah para pemimpin partai oposisi, termasuk Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan Jamaat-e-Islami, bertemu Presiden.
Zia, ketua BNP sekaligus perdana menteri Bangladesh dua periode (1991-1996 dan 2001-2006), telah ditahan sejak 2018.
Disebutkan pula bahwa semua pengunjuk rasa yang ditahan selama aksi protes mahasiswa akan dibebaskan, sementara itu panglima telah berjanji akan menyelidiki kematian pengunjuk rasa yang terjadi belum lama ini.
Sebuah pernyataan militer menyampaikan bahwa semua kantor akan dibuka mulai hari Selasa, setelah beberapa pekan demonstrasi kekerasan berlangsung di mana sekitar 300 mahasiswa tewas.
Sebelumnya pemimpin gerakan mahasiswa mengecam Hasina yang diduga telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia selama 15 tahun berkuasa.
"Kami akan membawa Hasina ke pengadilan meskipun dia telah melarikan diri dari negara ini," kata Nahid Islam, ketua koordinator protes, kepada seorang wartawan di ibu kota Dhaka, dikutip dari Antara, Selasa (6/8/2024).
Menurut Islam, kerangka pemerintahan transisi akan dirumuskan dalam waktu 24 jam ke depan.
Baca Juga
Konflik Pecah di Bangladesh, Akibat Kuota PNS Diprioritaskan untuk Keluarga Veteran

