Harga Minyak Turun Tipis, Tertekan Kekhawatiran Permintaan Cina
Penurunan harga karena kekhawatiran perlambatan ekonomi Cina menghambat permintaan minyak, meski di sisi lain ada konsensus yang berkembang bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mulai memotong suku bunganya pada September. Tiongkok dengan penduduk terbanyak kedua di dunia ini merupakan salah satu pengimpor minyak terbesar.
Dilansir Reuters, Selasa (16/7/2024), ekonomi Cina tumbuh jauh lebih lambat dari yang diharapkan pada kuartal kedua lalu, terhambat oleh penurunan properti yang berlarut-larut dan ketidakamanan pekerjaan. Ekonomi terbesar kedua di dunia tumbuh 4,7% pada April-Juni, laju paling lambat sejak kuartal pertama 2023 dan meleset dari perkiraan 5,1%, serta melambat dari ekspansi 5,3% kuartal sebelumnya.
Hingga pukul 17.19 WIB, berdasarkan data CNBC, harga minyak Brent di level US$ 84,23 per barel, terkoreksi US$ 0,62 per barel atau 0,73%. Sedangkan minyak WTI berada di level US$ 81,22 per barel, turun US$ 0,69 per barel atau 0,84%.
Baca Juga
Indeks Dolar Kuat dan Ekspor RI Mengecewakan, Rupiah Melemah ke Rp 16.181/USD
Produksi Kilang Cina Turun
Produksi kilang Cina turun 3,7% pada bulan Juni, dari tahun sebelumnya. Data resmi menunjukkan pada Senin (15/7) turun untuk bulan ketiga, yang sebagian karena pemeliharaan yang direncanakan. Margin pemrosesan yang lebih rendah dan permintaan bahan bakar yang lesu tercatat mendorong pabrik independen untuk memotong output.
Sementara itu, pada Senin (15/7), Ketua The Fed Jerome Powell membeberkan tiga pembacaan inflasi AS selama kuartal kedua tahun ini. Perkembangannya menambahkan kepercayaan bahwa laju kenaikan harga kembali ke target bank sentral dengan cara yang berkelanjutan.
Komentar pelaku pasar ditafsirkan sebagai indikasi pergantian ke pemotongan suku bunga mungkin tidak jauh. Suku bunga yang lebih rendah menurunkkan biaya pinjaman, yang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan permintaan minyak
Baca Juga
Dari sisi pasokan, pejuang Houthi di Yaman menanggapi pemboman Israel di Gaza dengan menargetkan tiga kapal -- termasuk sebuah kapal tanker minyak di Laut Merah dan Mediterania -- untuk serangan rudal balistik dan drone. Sementara krisis di Timur Tengah tidak berdampak pada pasokan, serangan terhadap kapal di Laut Merah telah memaksa kapal mengambil rute yang lebih panjang, yang berarti minyak tetap berada di air lebih lama.

