Persaingan EV Global Makin Sengit, 2 Produsen Disebut di Ambang Pailit
JAKARTA, Investortrust.id - Di tengah ingar bingar gerakan para manufaktur otomotif yang mulai melakukan diversivikasi produk dengan mengembangkan mobil listrik (electric vehicle), tersembunyi kisah dua manufaktur kelas ‘cere’ yang digosipkan tengah menghadapi kebangkrutan.
Adalah Rivian, dan Lucid, yang masing-masing dipimpin oleh RJ Scaringe dan Peter Rawlinson. Mereka membesut proyek mobil listrik mereka dan menerbitkan saham perdananya di bursa pada 2021 lalu, dengan janji akan mengikuti jejak sukses Tesla. Cerita berbeda terdengar di kalangan pelaku pasar, bahwa mereka kini berada di ambang kegagalan.
Lucid di tangan Rawlinson diberitakan tidak mampu memenuhi harapan pemegang saham, dam menurunkan proyeksi produksi jumlah mobil Lucid Air yang akan dibuat pada 2023. Dalam satu kesempatan Rawlinson menyampaikan bahwa pengurangan produksi merupakan keputusan yang diambil sebagai kebijakan untuk memastikan bahwa jumlah produksi sesuai dengan tingkat distribusi yang realistis.
Baca Juga
Elon Musk Sediakan Layanan Starlink untuk Organisasi Bantuan di Gaza
Sementara itu Scaringe membuat kejutan buat pasar. CEO Rivian ini meningkatkan target produksinya tahun ini sebanyak 2.000 kendaraan dengan kerugian yang lebih renda dari proyeksi. Scaringe juga mengumumkanbahwa bahwa ia telah melepaskan kesepakatan ekslusif dengan pemegang saham mayoritasnya, Amazon, yang membatasi pertumbuhan produksi van dari Rivian.
Berikutnya Rivian memproyeksikan akan memproduksi 54.000 kendaraan tahun ini, enam kali lipat dari jumlah yang disiapkan oleh Lucid.
Dalam paparannya buat para investor, Scaringe menyatakan antusiasterhadap prospek perusahaannya, yang saat itu bersiap untuk mengirimkan SUV ukuran kecil dan dengan harga terjangkau senilai US$45.000 pada tahun 2026. Dikatakan Scaringe, seperti dilansir Fortune Rabu (8/11/2023), SUV kecil ini akan ditempatkan di segmen menengah yang masih berkembang dengan baik.
"Saya pikir ada reaksi berlebihan terhadap beberapa kendala jangka pendek dan menengah yang kita lihat," katanya, mengabaikan risiko lonjakan suku bunga dan ketidakstabilan geopolitik.
Baca Juga
Lupakan Tesla yang Mahal, Mobil Listrik Terlaris di Jepang Ini Patut Dilirik
Paparan tersebut memberikan harapan kepada investor bahwa Rivian mungkin masih mampu survive dalam guncangan di industri mobil listrik, seiring menurunnya permintaan akibat masalah pendanaan yang semakin membesar. Jika demikian, Rivian bisa terhindar dari ramalan suram Musk tahun lalu yang memperkirakan kedua manufaktur ini bakal mengajukan pasal kebangkrutan Chapter 11.
Faktanya, dua startup mobil listrik ini memberikan gambaran karakteristik industri manufaktur mobil yang sangat kompetitif. Salah satunya terkait ketergantungan mereka pada pemasok. Baik Lucid maupun Rivian amat mengandalkan bahan baku dari pemasok mereka, dari komponen terpenting mikrochip sampai bagian interior seperti karpet. Artinya, sekali gangguan terjadi pada salah satu komponen, mereka akan berisiko gagal produksi.
"Jika tak ada perubahan signifikan yang dialami Rivian dan Lucid, keduanya akan bangkrut," kata Elon Musk dalam sebuah podcast medio Juni lalu.
Elon Musk tahu betul apa yang sedang dialami oleh kedua perusahaan ini, di tengah tingginya harapan investor. Dalam wawancara yang sama, Musk mengakubahwa dua pabrik barunya di Jerman dan Texas adalahfasilitas produksi yang membakar uang Tesla.
Persoalan kapasitas pabrik juga disampaikan Musk sebagai bagian paling kritis dalam industri EV, yang mampu menentukan tingkat profitabilitas. Termasuk pula persoalan tren harga hingga proses penjualan. Namun demikian hal-hal di sisi penjualan, tak akan mampu mencegah produsen untuk tetap memanfaatkan kapasitas produksi mereka seoptimal mungkin.
Memang pasca paparan publik yang menyampaikan rencana peningkatan produksi telah mendorong saham Rivian melonjak sekitar 6% pada awal perdagangan Rabu (8/11/2023). Sementara itu, Lucid tetap kekeh menurunkan target produksinya, dan sahamnya diperkirakan akan turun 4%. Penurunan bisa jadi akan jauh lebih dalam, jika Lucid tidak mendapatkan suntikan pemegang saham baru dari Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF). Kehadiran pemegang saham ini terbukti masih mampu membawa perusahaan berada dalam lingkaran sentimen positif.

