Amerika Serikat Jual Hampir Separuh Cadangan Minyak, Sebuah Persiapan Krisis?
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintahan Joe Biden diberitakan telah menjual lebih dari 40% dari cadangan Minyak Strategisnya (Strategic Petroleum Reserve) pada tahun lalu demi membantu membatasi kenaikan harga bahan bakar pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Kebijakan Biden telah menyisakan stok cadangan pada level terendah sejak awal tahun 1980-an. Belakangan muncul tuduhan dari pihak Republiken bahwa Biden telah membuat Amerika Serikat rentan terhadap gangguan pasokan minyak global. Ditambah lagi saat serangan militan Hamas ke Israel menimbulkan kekhawatiran bakal terjadinya perang di kawasan yang lebih luas, dan dapat mengganggu pengiriman bahan bakar dari Timur Tengah.
"Itu kesalahan Joe Biden karena mencoba menurunkan harga bensin sebelum pemilihan," kata Ketua House Natural Resources, Bruce Westerman kepada POLITICO, Selasa (17/10/2023).
Baca Juga
Setelah Melonjak 7,5%, Harga Minyak Mentah Dunia Kini Bergerak Stabil
Sebelumnya, mantan Ketua DPR AS Kevin McCarthy sempat menyampaikan keluhannya kepada media bahwa "Strategic Petroleum Reserve Amerika hampir habis."
Sebenarnya, cadangan minyak milik AS masih tersedia sebanyak 351 juta barel. Angka ini setara dengan hampir 56 hari impor minyak AS secara total tahun lalu. Namun demikian jumlah cadangan tersebut jauh di bawah puncak cadangan 727 juta barel yang pernah disimpan selama pemerintahan Obama. Selain itu, masih ada 424 juta barel yang disimpan oleh perusahaan swasta di AS pada awal bulan Oktober 2023.
Pemerintah AS sendiri membela diri atas penanganan cadangan minyaknya, dengan mengatakan bahwa masih ada cukup minyak mentah untuk melindungi kebutuhan strategis negara dan memberikan perlindungan dari gejolak harga. "Saya sama sekali tidak khawatir tentang tingkat cadangan," kata Menteri Energi Jennifer Granholm kepada komite DPR pada bulan September 2023 lalu. "Ini adalah cadangan strategis terbesar di dunia," imbuhnya.
AS pun menurutnya bukan lagi negara yang bergantung pada energi seperti pada tahun 1973, ketika Perang Yom Kippur memicu embargo minyak Arab terhadap Amerika Serikat, dan membuat harga minyak meroket sehingga warga Amerika harus mengantri berjam-jam di pompa bensin.
Baca Juga
Saat itu, produksi minyak AS menurun sementara kebutuhannya terhadap bahan bakar terus meningkat. Situasi saat itu mendorong Kongres untuk mengesahkan undang-undang pada tahun 1975 untuk menciptakan cadangan minyak.
Setelah lima dekade, Amerika Serikat telah berubah menjadi produsen minyak terbesar di dunia, yang lebih banyak mengekspor minyak mentah dan produk-produk petrokimia ketimbang impor. Produksinya pernah mencapai rekor tertinggi dan terus meningkat, meskipun permintaan telah bergerak flat.
Selama bertahun-tahun, beberapa kalangan konservatif bahkan telah meminta penghapusan cadangan ini. Mereka menyebut bahwa Presiden telah menggunakan SPR sebagai alat politik.Pernyataan yang serupa pernah juga dilontarkan Heritage Foundation delapan tahun yang lalu.
Namun, jumlah cadangan yang berkurang ini membatasi opsi bagi Biden untuk merespons gejolak di pasar minyak di masa depan, termasuk yang dapat timbul dari potensi meluasnya perang di Timur Tengah.
Para analis energi mengatakan, cadangan yang penuh pun sejatinya tidak akan melindungi Amerika Serikat dari gejolak harga yang akan meledak jika konflik mengakibatkan hambatan bagi 20 juta barel minyak yang mengalir setiap hari dari Teluk Persia. Cadangan yang tersedia penuh justru akan memberikan keleluasaan bagi Gedung Putih untuk menegakkan sanksi yang menghambat ekspor minyak Iran, demikian dikatakan Bob Ryan, analis di BCA Research.
Menurut Ryan, jumlah cadangan yang relatif rendah di Strategic Petroleum Reserve akan membuat AS bergantung pada Arab Saudi dan negara lain yang memiliki kapasitas cadangan lebih, dalam hal pemutusan pasokan minyak dari Iran.
Pemerintah AS memang bersikeras bahwa mereka terus melanjutkan sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump pada Iran di tahun 2018. Namun, analis yang memantau pengiriman minyak mengatakan bahwa ekspor dari Iran telah meningkat pesat selama pemerintahan Biden.
Partai Republik telah mengaitkan cadangan minyak sebagai bagian dari kritik terhadap kebijakan Biden, termasuk penekanannya pada perubahan iklim dan upayanya untuk membawa pendukung Hamas, yaitu Iran, kembali ke meja perundingan soal program nuklir di Teheran.
Pelepasan cadangan minyak oleh pemerintahan Biden mencapai lebih dari 200 juta barel dari cadangan minyak yang disimpan dalam 10 bulan, menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Invasi Rusia telah membuat harga minyak internasional melonjak tahun lalu, dengan harga rata-rata bensin di AS melonjak ke rekor tertinggi di atas US$5 per galon pada Juni 2022. Pelepasan cadangan minyak berlanjut, sesuai rencana, sepanjang musim gugur, ketika OPEC+ mengumumkan pemangkasan ekspor minyak.
Departemen Keuangan memperkirakan bahwa penjualan cadangan minyak oleh Biden telah mengurangi harga bensin hingga US$40 sen per galon. Harga rata-rata nasional saat itu hampir US$3,63 per galon dan turun 28 sen dari setahun sebelumnya.
Pemerintahan Biden juga menawarkan tambahan 26 juta barel untuk dijual pada bulan Februari 2023, yang kali ini dinyatakan sesuai dengan Bipartisan Budget Act tahun 2015.
Mayoritas warga Amerika mendukung pelepasan cadangan minyak,s etidaknya terefleksi dalam sebuah jajak pendapat Morning Consult tahun lalu.

