Hillary Clinton Sebut Trump Betul-betul Akan Tarik AS Mundur dari NATO
JAKARTA, Investortrust.id – Negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai benar-benar mempertimbangkan kemungkinan bahwa Amerika Serikat akan menarik diri dari NATO jika Donald Trum bsia kembali ke Gedung Putih.
Concern tersebut mengemuka dalam pertemuan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang digelar di Munich, Jerman, Sabtu (17/2/2024). Kekhawatiran tersebut semakin dipertegas oleh pernyataan Hillary Clinton, bahwa Trump benar-benar serius dengan pernyataannya, jika ia benar-benar menjabat sebagai Presiden AS.
"Dia akan menarik kami keluar dari NATO," kata Clinton kepada peserta pertemuan di sesi makan siang, seperti dilansir CNN.
Trump memunculkan kekhawatiran baru tentang komitmen AS terhadap NATO pada akhir pekan lalu ketika dia mengatakan akan "mendorong" Rusia untuk menyerang anggota NATO mana pun yang tidak memenuhi target belanja pertahanan sebesar 2% dari PDB. Selama ini Trump memang kerap mengkritik kegagalan aliansi dalam memastikan anggotanya untuk memenuhi kewajiban berkontribusi sebesar 2% dari PDB untuk pertahanan.
Di tengah retorika yang mengemuka, Kongres AS menyetujui sebuah undang-undang pada bulan Desember 2023 yang bertujuan mencegah presiden AS secara sepihak menarik diri dari aliansi tanpa persetujuan kongres.
Senator Republikan Jim Risch, yang juga anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senatmenolak berbicara soal retorika yang berkembang. "Kami telah menjawab pertanyaan itu," ujarnya, sebagai pertanda penolakannya atas wacana yang disampaikan Trump.
"Dibutuhkan suara dua pertiga di Senat AS untuk keluar, itu tidak akan pernah terjadi," katanya kepada CNBC di Munich.
Sementara itu Clinton mengatakan kemungkinan skenario Trump bisa saja menolak mendanai aliansi tersebut. "Jadi AS hanya akan namanya saja di sana (NATO)," katanya.
Kekhawatiran tentang koordinasi militer AS dan Eropa yang berkelanjutan memang mendominasi diskusi di pertemuan tahunan NATO di Jerman. Para negara anggota juga mulai membayangkan di jabatan kedua Trump, paket bantuan militer untuk Ukraina bisa saja menggantung.
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte sempat menyampaikan agar tak lagi mengeluh soal masa depan NATO dan AS jika Trump terpilih menjadi presiden. "Berhenti mengeluh dan menggerutu tentang Trump," katanya.
Rutte memang salah satu pemimpin Eropa selain Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, yang mengatakan bahwa Eropa perlu kemandirian dalam menghadapi masa depan yang lebih tidak pasti terkait sekutu diplomatik terdekatnya.
"Tidak peduli apa yang terjadi di AS... kita harus mampu melindungi diri sendiri," kata Frederiksen.
Memang, menteri pertahanan Jerman mengatakan bahwa komitmen negaranya untuk mengalokasikan 2% dari PDB untuk pertahanan bisa menjadi awal yang baik untuk sebuah kemandirian pertahanan. IA pun sempat mengemukakan ambang batas 2% bisa saja naik menjadi 3,5% jika dibutuhkan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg lebih optimistis tentang koordinasi transatlantik. Ia berkeyakinan AS akan tetap menjadi "sekutu NATO yang kuat dan berkomitmen" apa pun yang terjadi dalam pemilihan mendatang.

