Peminat Lelang T-Bonds AS Anjlok, Problem Utang Pemerintah AS Jadi Sorotan
JAKARTA, Investortrust.id - Serangkaian lelang Treasury Bonds (T-Bonds) pemerintah Amerika Serikat terbaru mengalami penurunan signifikan dari sisi demand investor. Para analis menilai hal ini bisa menjadi pertanda tren yang akan mendorong kenaikan yield.
Diberitakan, pada Kamis 12 Oktober 2023 lalu pemerintah AS melelang US$20 miliar T-Bonds bertenor 30 tahun. Namun, para dealer terpaksa harus menyerap 18% dari penjualan, lebih tinggi daripada yang biasa harus diserap di kisaran 11%. Pasalnya kali ini lebih banyak investor ternyata menolak membeli. Rendahnya permintaan telah terjadi selama pekan ini untuk T-Bonds tenor tiga tahun dan 10 tahun.
Dalam sebuah catatan pada hari Kamis lalu, para analis dari TD Securities mengajukan pertanyaan, apakah ini bisa menjadi sebuah sinyal awal yang perlu diwaspadai?
"Di tengah Langkah penjualan lewat lelang tetap tinggi dalam beberapa tahun terakhir, penurunan demand baru-baru oleh end user memunculkan kekhawatiran, karena kapasitas dealer untuk mendukung lelang juga terbatas," demikian para analis dalam catatannya, yang dikutip Businessinsider, Minggu (15/10/2023)
Mereka menggarisbawahi situasi rendahnya keyakinan investor terhadap instrumen tersebut, sementara Kementerian Keuangan AS diproyeksikan akan meningkatkan volume lelangnya dalam beberapa bulan mendatang, dengan lebih banyak surat utang jangka panjang yang masuk ke pasar.
TD Securities memperingatkan bahwa ini bisa memberikan tekanan bagi tingkat suku bunga, yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya juga menjadi tantangan bagi upaya Bank Sentral untuk menurunkan suku bunga acuan di akhir tahun ini dan di tahun 2024.
"Dalam jangka pendek, namun demikian, kekhawatiran tentang kurangnya permintaan terhadap obligasi Treasury dapat memungkinkan suku bunga menguji level tinggi yang baru-baru ini, dengan kemungkinan obligasi sepuluh tahun mendekati angka 5%," demikian mereka katakan.
Dalam jangka pendek, para ahli strategi menyatakan kekhawatirannya bahwa rendahnya permintaan terhadap T-Bonds bisa menyebabkan tingkat suku bunga kembali mencapai level tertinggi baru. Yield obligasi tenor sepuluh tahun pun bisa mencapai angka 5%.
Namun, Ed Yardeni, seorang pelaku pasar berpengalaman, memaparkan bahwa yield obligasi mungkin sudah berada pada level yang tepat untuk menumbuhkan minat investor untuk masuk kembali.
Ia juga mencatat, meskipun lelang terbaru tidak terserap dengan baik, namun tingkat yield obligasi tidak melonjak ke level tertinggi baru. Bahkan, tingkat yield obligasi tenor 30 tahun masih berada di bawah puncak 5%, dan tingkat yield obligasi 10 tahun pun baru menuju level 4,6%.
"Saya pikir tingkat yield 4,5% hingga 5% akan menciptakan cukup permintaan. Jika itu terjadi, maka mereka tidak harus naik lebih tinggi,” kata Yardeni. "Kita mungkin berada di level ini untuk sementara waktu."
Ramalan Yardeni berbeda dengan proyeksi yang dibuat oleh Bill Ackman, Larry Fink, dan Bill Gross, yang memprediksi tingkat yield obligasi bisa lebih tinggi dari ambang 5%.
Pandangan mereka disebutkan didorong oleh kekhawatiran akan tingginya inflasi di masa depan. Dan Yardeni mengatakan bahwa inflasi sejatinya mulai mereda.
Sementara itu, krisis utang AS telah mendorong kekhawatiran dan berujung pada turunnya penjualan T-Bonds sejak Agustus. Menurut pandangannya, tingkat yield melonjak karena para trader yang dikenal sebagai "bond vigilantes," mencoba mendorong tingkat yield ke level yang akan memaksa pemerintah AS mengatasi defisit anggaran dan utangnya yang melambung.
Jika dibiarkan tanpa tindakan, situasi fiskal seperti saat ini akan mendorong ke titik kritis yang dapat mengakibatkan pemerintah AS kembali mengalami default. Yardeni sendiri meyakini tingkat yield obligasi bakal stabil beberapa pekan berikutnya.
"Skenario dasar kami tingkat yield saat ini yang cukup tinggi (memang) untuk menyeimbangkan supply dan demand T-Bonds tanpa mengakibatkan resesi," tulisnya dalam catatan pada hari Jumat (13/10/2023). "Kami akan mengawasi lelang obligasi Kementerian Keuangan dalam beberapa bulan ke depan, untuk melihat apakah tingkat yield stabil atau perlu naik lebih tinggi untuk mengatasi persoalan pasokan di pasar Treasury Bonds."

