PM Spanyol Desak Dunia Akui Negara Palestina di Forum Davos
JAKARTA, investortrust.id - Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan keprihatinan terhadap konflik kekerasan yang saat ini tengah terjadi di Gaza, Palestina. Berbicara di forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (17/01/2024) waktu setempat, ia menawarkan solusi pengakuan dua negara sebagai bentuk resolusi konflik.
"Solusi yang mengakui keberadaan dua negara Israel dan Palestina yang hidup damai dan aman. Saya ingin melakukan hal ini karena drama kemanusiaan ini harus dihentikan karena tindakan (dunia) saat ini tidak akan membantu baik rakyat Palestina maupun Israel, namun juga karena yang dipertaruhkan adalah keamanan perubahan pasokan global," ujarnya.
Sanchez menekankan pengakuan negara Palestina dan Israel tidak lain sebagai bentuk untuk memperkuat perdagangan antar-negara, stabilitas seluruh Timur Tengah, dan kelangsungan tatanan multilateral.
"Dan hal (kekerasan) ini terjadi di Gaza di mana 24.000 orang tewas hanya dalam 100 hari dan ratusan ribu orang berada di ambang bencana kemanusiaan. Wanita lanjut usia, anak-anak tak berdosa, yang kehilangan rumah, pekerjaan, keluarga," ungkap Sanchez sebagai bentuk keprihatinannya.
Baca Juga
Palestina: Butuh Dana Rp234 Triliun untuk Bangun Rumah yang Hancur Akibat Perang
Tidak hanya Gaza, Sanchez juga menyinggung konflik yang terjadi di Suriah, dimana telah merenggut nyawa lebih dari 300.000 Jiwa. Dan 4000 jiwa hanya pada tahun lalu saja.
Selain itu, Sanchez juga turut memberikan dukungan kepada Ukraina yang tengah menghadapi konflik dengan Rusia. Dalam pidatonya, Sanchez bahkan menyebut jutaan orang di Ukraina terpaksa mengungsi dan menjadi korban dari otoritarianisme Presiden Russia Vladimir Putin.
"Dan izinkan saya menjelaskan bahwa kami mendukung Ukraina dan menyambut baik pengumuman baru-baru ini tentang KTT perdamaian di masa depan yang menjunjung prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan impian dalam Piagam PBB," tegas Sanchez.
Pedro Sanchez menyampaikan alasan atas keberpihakan tersebut antara lain karena prinsip Spanyol sebagai negara demokrasi penuh, terbuka, modern, dan toleran. Ia menjelaskan Spanyol berkomitmen terhadap keterbukaan ekonomi, solidaritas internasional dan sistem multilateral.
Baca Juga
"Sebuah sistem yang terancam oleh mereka yang mendorong intimidasi fragmentasi atau penggunaan kekerasan untuk memaksakan kepentingan dan kemauan mereka," singgung Sanchez terhadap konflik yang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia.
Kekhawatiran Sanchez atas Kegagalan Global
Dalam pidatonya itu, Sanchez juga mengajak warga dunia untuk komitmen terhadap isu kehidupan berkelanjutan dan perdamaian global. Ia mengkhawatirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi beberapa tahun mendatang.
"Bayangkan sejenak bahwa kita berada di tahun 2030 dalam edisi ke-60 forum ini bayangkan bahwa dunia telah gagal mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan tujuan perjanjian Paris bayangkan bahwa planet ini suhu telah mencapai lebih dari 1,5 derajat yang menyebabkan degradasi ekosistem kita dan PDB kita turun 15 poin," ujar dia.
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Zelenskyy Imbau Dunia Usaha Berinvestasi di Ukraina
Sanchez menyebutkan di tahun 2024 ini sebanyak 76 negara akan melangsungkan pemilihan umum (pemilu) dan pada saat bersamaan, keputusan politik penting harus diambil sehubungan dengan beberapa dilema sosial utama yang tengah dihadapi masyarakat global.
"Bayangkan berita palsu dan polarisasi politik telah mengurangi jumlah negara demokrasi yang belum diatur dengan baik oleh kemajuan digitalisasi? Dan Artificial Intelligent meningkatkan kesenjangan dan mengusir jutaan orang dari pasar tenaga kerja? Bayangkan skenario ini dan beri tahu saya apakah ini akan baik bagi bisnis Anda, yang lebih penting apakah ini akan baik bagi anak-anak Anda, cucu-cucu Anda, teman-teman Anda, dan sesama warga negara?"
Ia menambahkan, kemungkinan masa depan tersebut bisa saja terjadi apabila masyarakat global membiarkan diri terbawa oleh keacuhan dan kepasrahan.
Baca Juga
WEF Prediksi 15 Juta Kematian Tambahan Terjadi pada 2050 akibat Perubahan Iklim

