Hampir 24.000 Tewas di Konflik Palestina-Israel, Netanyahu Janji Tidak Akan Berhenti
GAZA, investortrust.id – Sudah 100 hari masa konflik di Gaza, Palestina. Pengeboman tanpa henti yang dilakukan Israel terhadap Jalur Gaza terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda mereda, di tengah meningkatnya bencana kemanusiaan dan ancaman penyebaran regional.
Seperti dilansir Aljazeera.com, setidaknya 23.968 orang di Gaza telah tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, setelah pejuang Hamas melakukan serangan terhadap Israel bagian selatan yang menewaskan 1.139 orang di sana.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah berjanji untuk “melanjutkan perang sampai kemenangan”, dan mengatakan dalam pidatonya pada hari Sabtu malam (13/1/2024) bahwa “hal itu mungkin dan perlu”. “Tidak ada seorang pun yang akan menghentikan kami – baik Den Haag, Poros Kejahatan, dan tidak ada pihak lain,” kata Netanyahu.
Pernyataan dia mengacu pada kasus yang diajukan Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional untuk meminta tindakan darurat guna menghentikan perang Israel, dan juga merujuk pada kelompok “poros perlawanan” yang berpihak pada Iran di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Baca Juga
Memprihatinkan, Hampir Separuh Penduduk Gaza Alami Kelaparan
Perang tersebut sejauh ini merupakan pertempuran paling berdarah dan paling merusak dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade antara Israel dan Palestina.
Pada awal Januari, kantor media Gaza mengatakan Israel telah menjatuhkan lebih dari 65.000 ton bom di wilayah tersebut. Analisis data satelit yang dikutip oleh Associated Press menunjukkan, sekitar 33% bangunan di seluruh Jalur Gaza telah hancur.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan 1,9 juta orang, hampir 85% dari populasi Palestina, menjadi pengungsi internal, sementara lebih dari 90% menghadapi kerawanan pangan akut.
“Kehancuran besar-besaran, pengungsian, kelaparan dan kehilangan dalam 100 hari terakhir menodai kemanusiaan kita bersama. Operasi kemanusiaan telah menjadi salah satu yang paling kompleks dan menantang di dunia,” kata Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di media sosial X (dulu twitter) pada Minggu, (14/1/2024).
Kementerian luar negeri Palestina mengatakan, “Israel telah mengubah Gaza menjadi tempat yang tidak dapat dihuni, (mereka) melakukan kejahatan yang mengerikan”. Ia menambahkan, komunitas internasional “sekali lagi gagal” untuk menerapkan resolusi internasional terkait perjuangan Palestina.
Tujuan Israel
Pihak berwenang Israel telah menetapkan dua tujuan utama untuk meraih kemenangan, yaitu penghancuran Hamas dan kapasitasnya untuk memerintah Gaza, serta kembalinya para tawanan sejumlah 136 orang yang masih berada di Gaza.
Baca Juga
100 Hari Perang Hamas – Israel, China Minta Pendirian Negara Palestina
Awal Januari, tentara Israel mengatakan pihaknya mengurangi operasinya di Gaza utara setelah membongkar “kerangka militer” Hamas di sana. Hal ini menandakan, mereka sedang beralih ke fase perang dengan intensitas lebih rendah.
Namun, masih ada pertanyaan mengenai bagaimana militer akan melakukan operasi yang lebih tepat sasaran di wilayah selatan setelah Israel memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi dari wilayah utara.
Mengenai tujuan memulangkan semua tawanan, hanya sedikit kemajuan yang dicapai sejak gencatan senjata yang ‘rapuh’ pada awal Desember 2023, yang memungkinkan kembalinya sekitar 105 orang. Permasalahan ini merupakan masalah yang pelik di Israel, dimana keluarga dari mereka yang ditahan di Gaza menekan kabinet perang untuk berbuat lebih banyak demi pembebasan mereka.
Puluhan ribu orang di Tel Aviv menandai “100 hari neraka” pada demonstrasi di Hostage Square pada hari Sabtu (13/1/2024) dan Minggu (14/1/2024). Keluarga dan pendukung para tawanan berkumpul untuk menuntut pembebasan para sandera.
“Keluarga mereka benar-benar putus asa, mereka bersatu di sini dalam aksi unjuk rasa setiap hari Sabtu, yang dihadiri puluhan ribu orang. Sekarang retorika (pesan yang dibawa) mereka adalah ‘enough is enough’ (sudah cukup),” kata Sara Khairat dari AlJazeera.com, melaporkan dari Tel Aviv.
Pada Minggu (14/1/2024), juru bicara Hamas mengatakan nasib para sandera Israel tidak diketahui. Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Abu Ubaida mengatakan banyak sandera “mungkin terbunuh”, dan menyalahkan Israel atas nasib mereka.

