Tiga Manufaktur EV Raksasa AS Khawatirkan Risiko Suku Bunga Bagi Konsumen
JAKARTA, Investortrust.id - Penjualan kendaraan listrik di Amerika Serikat telah mencapai titik krusial. Perusahaan riset Kelley Blue Book (KBB) memaparkan bahwa penjualan kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat pada kuartal ketiga 2023 telah mencapai lebih dari 313.000 unit, hampir meningkat sebesar 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa pasar EV di AS juga dilaporkan mencapai 7,9%, sebuah level tertinggi yang pernah tercatat.
Namun demikian pencapaian ini mungkin belum memadai bagi produsen otomotif yang telah menghabiskan miliaran dolar bertransformasi ke kendaraan listrik.
"Di bisnis kendaraan listrik nggak cukup hanya produk yang bagus. Kita harus benar-benar kompetitif dalam hal biaya," kata CEO Ford, Jim Farley, dalam sebuah tele konferensi perihal kinerja keuangan kuartal III – 2023 seperti dilansir Yahoo Finance. Ford baru-baru ini menghentikan investasi senilai US$12 miliar di proyek kendaraan listrik mereka hingga mencapai "kapasitas" yang dibutuhkan.
Ford menyatakan dalam laporan keuangan mereka bahwa pembeli kendaraan listrik di Amerika Serikat "tidak bersedia membayar premi untuk kendaraan listrik dibandingkan dengan kendaraan bensin atau hibrida. Akibatnya harga dan profitabilitas kendaraan listrik merosot tajam."
Baca Juga
Lupakan Tesla yang Mahal, Mobil Listrik Terlaris di Jepang Ini Patut Dilirik
Meskipun Ford masih mengaku optimistis dengan prospek kendaraan listrik Generasi 2 dan Generasi 3 yang akan datang, penilaian negatif perusahaan terhadap pasar kendaraan listrik di Amerika Serikat seperti membenarkan apa yang dilaporkan oleh GM (General Motors) pekan sebelumnya.
"Kami juga sedang menyesuaikan percepatan produksi kendaraan listrik di Amerika Utara untuk melindungi pricing, menyesuaikan dengan pertumbuhan permintaan yang lebih lambat dalam jangka pendek, dan menerapkan efisiensi rekayasa serta perbaikan lain yang akan membuat kendaraan kami lebih murah untuk diproduksi dan lebih menguntungkan," kata CEO GM, Mary Barra, dalam pernyataan kepada pemegang saham soal kinerja kuartal III-2023. GM telah mencatat "perubahan permintaan kendaraan listrik" sebagai alasan utama penurunan volume produksi truk EV. Seperti dilaporkan, GM juga menunda ekspansi truk kendaraan listriknya pada awal bulan Oktober.
Bahkan Elon Musk, CEO Tesla (TSLA), yang disebut-sebut sebagai pendukung kendaraan listrik memberikan pandangan pesimis terhadap pasar dan lanskap ekonomi secara umum. Musk memberikan catatan dalam tele konferensi Tesla pada hari Rabu (18/10/2023) pekan lalu bahwa perusahaan akan menunda konstruksi pabrik Gigafactory terbaru di Meksiko karena kekhawatiran kondisi ekonomi global yang terpengaruh kenaikan suku bunga. Suku bunga pada akhirnya akan membuat pembiayaan kendaraan menjadi lebih mahal bagi konsumen, dan berikutnya menekan permintaan.
Baca Juga
"Saya khawatir tentang atmosfir suku bunga tinggi yang sedang kita alami," kata Musk. "Saya tidak bisa menekankan seberapa pentingnya biaya... (tapi) kami harus membuat produk yang lebih terjangkau sehingga orang bisa membelinya."
Sementara itu Jessica Caldwell, kepala penelitian di perusahaan riset otomotif Edmunds, sependapat dengan Musk. "Kondisi suku bunga tinggi saat ini tidak mendukung untuk bisa meyakinkan konsumen menjajal teknologi otomotif yang belum mapan, dan biaya saat ini sudah menjadikan kendaraan listrik di luar jangkauan banyak konsumen," kata Caldwell kepada Yahoo Finance. "Setelah satu dekade lebih banyak suku bunga rendah, konsumen sekarang berada pada posisi bahwa mereka perlu berhemat."
Penelitian terbaru dari J.D. Power yang dirilis pada Jumat (17/10/2023) menggambarkan kontrasnya kekhawatiran produsen otomotif tentang harga dan konsumen dibanding proyeksi penjualan kendaraan listrik yang pernah begitu optimistis.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Tinggal 3 Bulan, Hyundai Geber Penjualan IONIQ 5
"Faktor yang dapat memperlambat penjualan kendaraan listrik dalam waktu dekat adalah ketidakseimbangan harga yang ada saat ini antara kendaraan listrik dan kendaraan berbasis pembakaran internal (ICE), khususnya di segmen SUV kompak yang berkembang pesat," catat J.D. Power dalam laporannya. "Saat ini, sebagian besar penjualan SUV kendaraan listrik kompak di pasar massal dihargai sekitar US$52.000. Bandingkan dengan SUV ICE yang dihargai hanya US$34.000 di pasar. Sementara itu, kendaraan ICE (berbasis BBM) di segmen SUV premium kompak diperdagangkan sekitar US$53.000. Bandingkan dengan kendaraan listrik dalam segmen sama, hanya harganya sebesar US$60.000 atau lebih."
Meskipun ada kekhawatiran tentang harga, J.D. Power percaya bahwa titik kritis sudah tercapai dalam industri kendaraan listrik (EV), dan perusahaan ini memproyeksikan penjualan ritel EV akan mencapai 3 juta unit pada akhir tahun ini dan 4 juta unit pada akhir kuartal ketiga tahun 2024.

