Gegara Suku Bunga dan Geopolitik, BNI (BBNI) Ungkap Tiga Risiko Perbankan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian yang dipicu berlanjutnya era suku bunga tinggi hingga tensi geopolitik yang masih memanas. Hal ini memunculkan tiga risiko yang perlu diwaspadai perbankan nasional.
Demikian penjelasan Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Rabu (20/3/2024). “Pertama, risiko pasar dari nilai tukar karena penyusutan neraca perdagangan,” ujarnya.
Baca Juga
Jaga Pertumbuhan di 2024, Bank Mandiri (BMRI) Fokus Empat Hal Ini
Risiko kedua, lanjut Royke, adalah risiko kredit, khususnya bagi bank yang menyalurkan kredit ke perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor, salah satunya tujuan pasar Tiongkok. “Ketiga risiko likuiditas. Hal ini juga menjadi isu yang harus diwaspadai di perbankan nasional,” kata Royke.
Tiga risiko tersebut membutuhkan memitigasi, seperti risiko likuiditas, lanjutnya, BNI melakukan fixing the basics. Menekankan pada aspek people dan teknologi, khususnya meningkatkan kapabilitas risk culture supaya setiap proses bisnis yang ada di BNI.
“Juga meningkatkan kompetensi dengan melakukan terus asesmen dan meningkatkan implementasi manajemen risiko dari hulu ke hilir,” jelasnya.
Baca Juga
BRI (BBRI) Kebagian Salurkan KUR Rp 165 Triliun, Segmen Ini Target Terbesar
Selain itu, Royke mengatakan, BNI mengimplementasikan proses kredit yang cepat dan aman. Lalu, digitalisasi analisa dan proses kredit melalui internal platform digital.
“Dan juga melakukan secara rutin stress test terhadap debitur-debitur yang berkala, mungkin bisa terjadi karena perubahan makro ekonomi. Yang terakhir, kami tihgkatkan remedial dan recovery,” terangnya. (CR-13)
