Presiden Komisi Eropa: Disinformasi dan Polarisasi Masyarakat Isu Paling Krusial
DAVOS, investortrust – Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menyatakan bahwa keprihatinan utama dalam dua tahun ke depan bukanlah konflik antarnegara atau perubahan iklim, tetapi disinformasi dan misinformasi, yang diikuti dengan polarisasi dalam masyarakat. Risiko ini membatasi kemampuan negara-negara di dunia untuk mengatasi tantangan-tantangan global yang lebih besar.
Ursula mengaku bahwa menangani disinformasi dan informasi yang keliru telah menjadi fokus sejak awal masa jabatan dia. Dengan Undang-Undang Layanan Digital di Uni Eropa, pihaknya menetapkan tanggung jawab platform internet besar terhadap konten yang mereka promosikan dan sebarkan. Terutama tanggung jawab terhadap anak-anak dan kelompok rentan yang menjadi target ujaran kebencian.
Hal itu penting karena batas antara online dan offline semakin tipis, dan nilai-nilai yang dihargai di offline harus dilindungi secara online. “Dan ini lebih penting dalam era baru AI. Sekarang, Laporan Risiko Global WEF menempatkan AI sebagai salah satu risiko potensial teratas untuk dekade mendatang,” tuturnya dalam pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Selasa (16/01/2024)..
Menurut Ursula, daya saing masa depan setiap negara bergantung pada adopsi AI dalam bisnis sehari-hari. Dalam hal ini, Eropa harus meningkatkan perannya dan menunjukkan jalan untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab, yang meningkatkan produktivitas dan melayani masyarakat.
Eropa akan terus berinvestasi di sektor yang memiliki keunggulan kompetitif. Misalnya, Eropa memiliki hampir 200.000 insinyur perangkat lunak dengan keahlian AI, yang diklaim lebih besar dibanding di Amerika Serikat dan China.
Ursula membeberkan sejumlah tantangan selain disinformasi yang sebagian didukung oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di antaranya adalah perubahan iklim, pergeseran dalam demografi dan teknologi, konflik regional yang meluas dan intensifikasi persaingan geopolitik yang berdampak terhadap rantai pasokan.
“Realitas yang menyedihkan adalah kita bersaing lebih intens di antara negara-negara dibanding beberapa dekade terakhir. Dan ini membuat tema pertemuan Davos tahun ini menjadi lebih relevan. Membangun kembali kepercayaan. Ini bukan waktu untuk konflik atau polarisasi. Ini adalah waktu untuk membangun kepercayaan,” kata dia.
Lebih lanjut, Ursula juga menyoroti bahwa memasuki tahun 2024, negara-negara di dunia menghadapi tahun pemilu terbesar dalam sejarah. “Demokrasi di seluruh dunia akan menuju ke pemilu yang berdampak terhadap setengah populasi global. Ini termasuk lebih dari 450 juta orang di Uni Eropa, kumpulan 27 negara demokrasi,” tegasnya.
Pada akhir pidatonya, Ursula mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa generasi, dunia tidak berada pada satu titik perubahan tunggal. “Dunia berada pada beberapa titik perubahan, dengan risiko-risiko yang tumpang tindih dan saling memperkuat. Kita menghadapi risiko terbesar terhadap tatanan global dalam era pasca-perang dingin. Tetapi menurut saya, tidak ada keraguan bahwa kita dapat melangkah maju dengan optimisme dan tekad kuat,” kata Ursula.
Baca Juga
WEF: Krisis Iklim Bisa Sebabkan Kerugian Ekonomi US$ 12,5 Triliun dan 14,5 Juta Kematian di 2050

