PLN-nya Ukraina Laporkan Kehancuran 80% Pembangkit Listrik Akibat Serangan Rusia
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan listrik terbesar di Ukraina, DTEK melaporkan bahwa 80% kapasitas pembangkitnya kini rusak atau hancur. Serangan pada tanggal 11 April lalu juga telah ikut menghancurkan sepenuhnya pembangkit listrik utama yang memasok energi ke Kyiv, yakni pembangkit listrik tenaga batu bara (TPP) Trypilska di dekat ibu kota.
Seperti diberitakan, pada hari-hari pertama serangan di bulan Maret, Rusia menghancurkan sebagian besar pembangkit listrik tenaga air terbesar di Ukraina, Pembangkit Listrik Tenaga Air (HPP) Dnipro di Zaporizhzhia.
Dengan memasuki musim semi di Ukraina, kehancuran Trypilska dan HPP Dnipro tidak dipandang sebagai bencana besar, namun karena kedua fasilitas tersebut kemungkinan besar tidak akan diperbaiki sebelum musim dingin, ketidakhadiran mereka akan menjadi “masalah besar” pada musim gugur ini, kata pejabat Trypilska dalam komentarnya diposting di media sosial, seperti diberitakan Intellinews.com, Jumat (12/4/2024).
“Situasinya semakin berbahaya bagi Ukraina dan dunia setiap harinya. Jika Rusia tidak dihentikan, maka Rusia juga tidak akan berhenti,” kata Anton Gerashchenko, penasihat Menteri Dalam Negeri Ukraina dan pendiri Institute of the Future, dalam sebuah cuitannya di X.
Baca Juga
AS: Rusia Susun Pasukan Lebih Cepat dan Bertambah 15% di Garis Depan
Sementara itu Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan bahwa ia ingin meningkatkan kekuatan militer Rusia menjadi 1,5 juta orang pada tahun ini, meskipun para analis ragu bahwa Kremlin akan mampu merekrut setengah juta orang lagi tanpa mobilisasi umum.
Pada tahun pertama perang setelah serangan awal gagal merebut Kyiv dan Rusia terpaksa mundur di utara, Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan mobilisasi parsial yang dimulai pada September 2022 yang merekrut 300.000 orang tambahan, dan sebagian besar berasal dari kelompok termiskin Rusia seperti dari daerah-daerah terpencil.
Namun, Putin masih sangat enggan untuk menyerukan mobilisasi umum yang akan melibatkan masyarakat kelas menengah Rusia yang tinggal di wilayah Eropa dan kota-kota besar, karena ia takut akan reaksi politik terhadap perang tersebut. Sebaliknya, Kremlin telah mengorganisir upaya perekrutan yang sangat efektif untuk meningkatkan jumlah tentara yang diperkirakan menambah 30.000 tentara baru setiap bulannya.
Dorongan ini menjadi lebih mudah dengan dukungan perang dari masyarakat umum. Seperti yang dilaporkan oleh IntelliNews, patriotisme berada pada titik tertinggi sepanjang masa, menurut jajak pendapat baru-baru ini yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Opini Publik Rusia (VTsIOM), karena masyarakat percaya bahwa Rusia sedang diserang oleh NATO.
Sebaliknya, Ukraina mengalami kekurangan tenaga kerja dan banyak korban jiwa, meskipun jumlah pasti korban tewas atau terluka masih menjadi rahasia negara. Perkiraan AS menyebutkan jumlahnya mencapai 150.000 orang, namun angka tersebut mungkin merupakan angka yang terlalu rendah.
Pemerintah Ukraina mengajukan rancangan undang-undang kontroversial kepada Rada pada tanggal 11 April yang menyerukan mobilisasi 450.000-500.000 orang lagi, namun Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengalami kendala politik yang sama seperti Putin dan wajib militer tetap menjadi topik yang sangat sensitif.
Rada di Ukraina adalah Dewan Rakyat Ukraina, yaitu badan legislatif negara tersebut. Secara resmi dikenal sebagai Verkhovna Rada Ukraina, atau secara harfiah berarti "Dewan Tinggi Rakyat."

