Minyak Brent Tembus US$106, Serangan Mematikan di Riyadh Picu Kekhawatiran Pasokan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia menembus US$106 per barel. Serangan mematikan di bandara Riyadh, Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga juga dipicu pernyataan Ukraina bahwa Rusia telah melanggar gencatan senjata energi yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Baca Juga
Waduh! Trump Buka Opsi AS Ikut Perang Melawan Houthi di Yaman
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, patokan global, naik 1,8% dan ditutup pada US$106,65 per barel pada perdagangan Senin (12/10/2026). Minyak mentah West Texas ntermediate (WTI) AS menguat 2% menjadi US$93,74 per barel.
Serangan kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung Iran terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan tersebut menandai eskalasi besar dalam ketegangan kawasan.
Pada Senin pagi, koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi juga menyatakan sedang menangani gelombang serangan pesawat nirawak dan rudal lainnya yang diarahkan ke wilayah Saudi.
Perkembangan ini meningkatkan risiko konflik regional meluas dan menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global. Sebelumnya, Trump mengatakan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam menghadapi Houthi setelah serangan di Riyadh tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bin Abdullah. Menurut kantor berita negara Saudi, SPA, keduanya membahas eskalasi situasi di kawasan serta upaya untuk mengatasinya.
Rusia Dituding Langgar ‘Energy Ceasefire’
Di Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Senin menuduh Rusia melanggar gencatan senjata energi (energy ceasefire) yang diumumkan Trump. Menurut Zelenskyy, Moskow menyerang fasilitas produksi gas di Ukraina meskipun kesepakatan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi telah diumumkan.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian mengenai keberlanjutan kesepakatan yang diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi akibat perang Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, prospek bertambahnya pasokan energi Rusia ke pasar internasional justru meningkat setelah tercapainya kesepakatan dengan AS.
Baca Juga
Trump-Putin Sepakat, Rusia Bakal Pasok Lebih dari 4 Juta Ton Solar ke Pasar Global
Trump pada Jumat mengatakan Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton solar ke pasar global berdasarkan kesepakatan yang dicapai melalui percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Tambahan pasokan tersebut berpotensi membantu memenuhi kebutuhan pasar bahan bakar. Namun, perkembangan ini belum menghilangkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik dan kemungkinan gangguan distribusi energi.
Badai Isaias Tekan Produksi Minyak AS
Tekanan terhadap pasokan minyak juga datang dari kawasan Teluk Meksiko. Sekitar 1,2 juta barel per hari produksi minyak AS di wilayah tersebut masih dihentikan pada Minggu akibat Badai Isaias, menurut Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS atau Bureau of Safety and Environmental Enforcement.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Serangan Tanker di Hormuz dan Badai Isaias di Meksiko Jadi Sorotan
Penghentian produksi akibat badai berpotensi memperketat pasokan minyak dalam jangka pendek, terutama ketika pasar juga menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan Eropa.
Kombinasi serangan terhadap Arab Saudi, tuduhan pelanggaran gencatan senjata energi di Ukraina, serta gangguan produksi di Teluk Meksiko membuat pelaku pasar terus mencermati risiko pasokan.
Perkembangan geopolitik dan kondisi produksi akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan harga minyak. Eskalasi konflik berpotensi mempertahankan premi risiko harga minyak, sementara tambahan pasokan Rusia dapat menjadi faktor penyeimbang apabila benar-benar terealisasi.
