Wall Street Menguat Didorong Kebangkitan Saham Teknologi, Dow Melonjak Lebih dari 400 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (10/10/2026) WIB, ditopang pemulihan saham-saham teknologi.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 423,31 poin atau 0,83% menjadi 51.654,95. Indeks S&P 500 naik 0,59% ke posisi 7.811,54, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,64% menjadi 27.366,17.
Baca Juga
Trump-Putin Sepakat, Rusia Bakal Pasok Lebih dari 4 Juta Ton Solar ke Pasar Global
Ketiga indeks utama tersebut sempat mencapai level tertinggi harian setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui pasokan solar Rusia untuk pasar AS dan global.
Harga minyak yang sebelumnya ditutup sedikit lebih tinggi kemudian bergerak turun tipis setelah pengumuman tersebut. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$92 per barel, sedangkan Brent bertahan di atas US$104 per barel.
Saham Teknologi Memimpin
Saham-saham teknologi menjadi motor utama penguatan pasar. Saham SpaceX naik sekitar 1% setelah perusahaan antariksa dan satelit yang dipimpin Elon Musk mengumumkan kesepakatan untuk membeli portofolio spektrum frekuensi berskala nasional.
Sebaliknya, saham AT&T, Verizon, dan T-Mobile melemah karena investor mempertimbangkan kemungkinan meningkatnya persaingan di industri telekomunikasi akibat kesepakatan tersebut.
Penguatan juga terlihat pada saham perangkat lunak. Palo Alto Networks melonjak 5%, sementara CrowdStrike dan Palantir Technologies masing-masing naik sekitar 4% dan 5%.
Microsoft menguat 2%, sedangkan Amazon bertambah 3%.
Di luar sektor teknologi, saham kesehatan turut menopang pasar. Merck dan Gilead Sciences masing-masing melonjak lebih dari 2%. Saham Moderna juga menguat di tengah optimisme terkait laporan mengenai upaya pengembangan vaksin kanker oleh National Institutes of Health (NIH).
Pemulihan pada Jumat terjadi setelah saham-saham teknologi, terutama yang berkaitan dengan AI, mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya.
Baca Juga
Sentimen OpenAI Tekan Saham Teknologi di Wall Street, Indeks Nasdaq Anjlok Lebih dari 1%
CNBC melaporkan bahwa OpenAI menyampaikan kepada para investornya bahwa pendapatan tahunan yang disetahunkan atau annualized revenue mencapai US$50 miliar pada akhir September. Angka tersebut lebih rendah daripada angka US$68 miliar yang ramai diberitakan bulan sebelumnya.
Namun, sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan bahwa angka US$68 miliar itu juga mencakup pendapatan bruto dari mitra perusahaan.
Perbedaan angka itu meningkatkan perhatian investor terhadap kualitas dan komposisi pendapatan perusahaan AI. Pada Kamis, Nasdaq merosot lebih dari 1%, mencatat penurunan harian terbesar sejak pertengahan Agustus. Pelemahan tersebut menjadi penurunan untuk hari kedua berturut-turut setelah indeks sebelumnya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Adam Crisafulli dari Vital Knowledge menilai tekanan jual mencerminkan ketidakseimbangan posisi investasi yang ekstrem dan masih berpotensi berlanjut. Karena itu, menurut dia, kelompok saham teknologi yang berkaitan dengan AI belum tentu langsung pulih secara tajam dalam pola berbentuk huruf V.
Ia menambahkan, persoalan utama sektor AI bukan sekadar perbedaan antara pendapatan bruto dan neto, melainkan semakin tidak menariknya sejumlah perusahaan pengembang AI terdepan sebagai bisnis mandiri serta meningkatnya tanda-tanda bahwa pasar mulai menolak derasnya pembiayaan melalui utang dan penerbitan saham untuk sektor tersebut.
Risiko Geopolitik Membayangi
Di tengah volatilitas pasar, ketiga indeks utama tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan selama lima hari perdagangan.
Nasdaq membukukan kenaikan sekitar 0,6% sepanjang pekan, Dow Jones bertambah 0,9%, sedangkan S&P 500 menguat sekitar 1,2%.
Kinerja tersebut berlangsung meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan ini. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat menekan valuasi saham karena meningkatkan biaya pendanaan dan membuat instrumen pendapatan tetap lebih menarik bagi investor.
Pekan depan, perhatian pasar akan beralih ke musim laporan keuangan perusahaan yang mulai ramai, terutama dari sektor perbankan. Wells Fargo dan Citigroup dijadwalkan melaporkan kinerja pada Selasa, bersama Johnson & Johnson dan UnitedHealth.
Michael Monaghan dari Founder ETFs tetap optimistis terhadap prospek saham hingga akhir tahun, didukung ekspektasi pertumbuhan perusahaan yang kuat. Namun, ia memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak masih berpotensi membebani pasar.
Pernyataan tersebut tetap relevan meskipun Trump mengatakan pada pekan ini bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela yang dijadwalkan pada awal bulan depan.
“Konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menghambat pasar untuk benar-benar mencerminkan betapa kuatnya prospek laba perusahaan dalam waktu dekat,” ujar Monaghan kepada CNBC.
Ia juga memperingatkan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan perang yang lebih keras, melibatkan operasi militer yang lebih intensif, dan meluas ke wilayah perbatasan baru.
Penguatan Wall Street pada Jumat memberikan ruang pemulihan setelah tekanan terhadap saham teknologi. Namun, keberlanjutan reli masih akan bergantung pada laporan keuangan perusahaan, arah imbal hasil obligasi, perkembangan harga minyak, dan risiko eskalasi konflik geopolitik.
