Menkes Budi Gunadi Sebut WHO Butuh Pemimpin yang Teruji Lakukan Reformasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memaparkan kesiapan dan rekam jejak kepemimpinannya dalam membawa arah reformasi bagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ia menegaskan pentingnya figur pemimpin yang berpengalaman dalam melakukan transformasi organisasi raksasa serta memiliki kemampuan diplomasi dan pembiayaan global.
Menkes Budi menyoroti tingginya tuntutan dari negara-negara anggota terhadap reformasi birokrasi di tubuh WHO dan berbagai badan PBB yang dinilai kerap lambat. Menurutnya, pembenahan organisasi multinasional berskala raksasa membutuhkan pemimpin yang telah teruji secara nyata di lapangan.
"Jika Anda ingin mereformasi organisasi global PBB yang begitu masif, Anda membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki rekam jejak nyata dalam melakukan reformasi besar di organisasi berskala raksasa. Saya memiliki rekam jejak tersebut: mereformasi Bank Mandiri dan mereformasi total sektor kesehatan di Indonesia," ujar Budi Gunadi dalam acara Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin James Riady, Sekjen Kemlu Denny Abdi, serta jajaran Duta Besar negara sahabat.
Baca Juga
Selain reformasi birokrasi, ia menggarisbawahi pengalamannya dalam menghimpun pendanaan internasional (fundraising). Selama lima tahun memimpin Kementerian Kesehatan, Budi berhasil menggalang dana pembangunan sebesar 8,5 miliar dolar AS dari Islamic Development Bank (IsDB) dan Bank Dunia guna mengamankan anggaran transformasi kesehatan nasional.
Pengalaman tersebut melengkapi kiprahnya di tingkat global saat duduk di dewan Gavi dan Global Fund, di mana ia terlibat dalam penggalangan dana masing-masing sebesar US$ 9 miliar dan US$ 12 miliar .
"Anggaran WHO hanyalah 6 miliar dolar AS untuk periode dua tahun, atau sekitar 3 miliar dolar AS per tahun. Anda membutuhkan figur yang memiliki rekam jejak dalam memobilisasi pendanaan, dan saya memiliki rekam jejak tersebut," jelasnya.
Daya tawar kepemimpinan Indonesia juga ditunjukkan melalui kemampuan merangkul berbagai pihak di tengah polarisasi geopolitik global, termasuk upaya membawa kembali negara-negara anggota kunci ke dalam wadah multilateral.
Budi mencontohkan keberhasilannya dalam menavigasi lanskap politik domestik yang kompleks dengan menggolongkan pengesahan Omnibus Law Undang-Undang Kesehatan pada 2023, yang menyatukan 11 undang-undang usang hanya dalam waktu 10 bulan melalui konsensus dengan sembilan partai politik di parlemen.
Di tingkat internasional, Budi bersama jajaran pemerintah RI berhasil menggalang kesepakatan antar-Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan negara-negara anggota G20 pada Presidensi Indonesia 2022 di Bali untuk membentuk Pandemic Fund. Kemampuan menjembatani komunikasi lintas sektor dan negara inilah yang dinilai menjadi modal utama Indonesia dalam mengawal tata kelola kesehatan dunia ke depan.
